Basarnas Kerahkan 4.000 Personel dan 5 Helikopter Selama Pengamanan Mudik Lebaran

oleh
oleh
Basarnas
Deputi Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas, Laksamana Muda Ribut Eko Suyatno (kanan) dan Kepala Kantor SAR Semarang Heru Suhartanto meninjau Pos Mudik Relawan Terpadu di Kelurahan Pajang, Laweyan, Solo, Rabu (26/4/2023) | MettaNews/Ari Kristyono

SOLO, MettaNEWS – Basarnas menerjunkan 4.000 personel untuk mengamankan mudik Idul Fitri di seluruh wilayah Indonesia. Selain rute mudik, pengamanan menyasar ke objek-objek wisata dan kawasan rawan bencana alam.

“Kami selama arus mudik dan arus balik 24 jam mencermati situasi. Rutenya, pemudiknya, dan ditambah objek-objek wisata dan kawasan rawan bencana. Ini bersama kita amankan bersama stake holder yang ada di masing-masing daerah,” tutur Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas, Laksamana Muda Ribut Eko Suyatno di Solo, Rabu (26/4/2023).

Ribut memaparkan, secara umum tugas pengamanan berlangsung dengan lancar. Posko-posko mudik yang terselenggara oleh 43 Kantor SAR, cukup efektif membantu pemudik. Tak hanya personel, sejumlah perlengkapan pertolongan tersebar di sepanjang jalur mudik. Termasuk lima unit helikopter, 3 di antaranya ada di Jawa dan dua sisanya siap di mana dibutuhkan.

Satu hal yang mendapat catatan khusus, Basarnas memandang pentingnya untuk membenahi pengamanan di objek-objek wisata. Atau tempat kerumunan massa yang besar di seputar hari raya Lebaran.

“Contohnya kemarin Pusat agak terkejut dengan event festival balon di Magelang. Kami terjunkan tim untuk mengukur risiko, misalnya bahaya terhadap keselamatan penerbangan. Namun fakta di lapangan cukup aman, mungkin perlu aturan agar nantinya benar-benar tidak menimbulkan bahaya,” ucapnya.

Demikian juga dengan pengamanan di objek-objek wisata. Perlu langkah pencegahan agar kecelakaan seperti yang terjadi beberapa kali di pantai Selatan Jawa pekan ini tidak terulang.

“Tiga hari berturut-turut terjadi di Kebumen dan Parangtritis. Pemda dan relawan di daerah tentunya paling paham akan kerawanan di lingkungannya. Perlu adanya peringatan, panduan, kalau perlu larangan. Karena karakter pantai Selatan Jawa itu lepas, tidak ada penghambat. Sebagai pelaut saya tahu itu sangat berbahaya,” tandas Ribut.

Pos Mudik Basarnas di Jalur Alternatif

Dalam kunjungannya ke Solo, Ribut Eko Suyatno menyempatkan singgah di Pos Relawan Terpadu di Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo. Dia mendengarkan paparan dari Kepala Kantor SAR Semarang, Heru Suhartanto mengenai keberadaan pos tersebut.

“Pos ini ada di jalur alternatif, tetapi justru ramai karena pemudik tujuan Sukoharjo dan Wonogiri banyak memilih jalur ini. Makanya kami mendirikan pos bersama relawan dan perangkat yang ada,” ujar Heru.

Ribut pun membenarkan alasan pendirian posko di jalur alternatif itu. Menurutnya, melalui kamera CCTV dia tahu rute-rute alternatif padat hingga malam hari, meski penerangan minim dan keterbatasan lainnya.

Keberadaan relawan di kawasan seperti itu, menurutnya sangat strategis dan bermanfaat.

“Saya mengapresiasi Kelurahan Pajang yang sudah berpartisipasi aktif. Semoga nantinya pola kerja sama seperti ini dapat terjalin di lebih banyak tempat,” harapnya.