SOLO, MettaNEWS – Partai Golkar Solo masih belum tenang. Usai penghentian Kusraharjo dari posisinya sebagai Ketua DPD II Golkar Solo, partai berlambang pohon beringin ini masih menunggu penggantinya.
Dengan adanya kekosongan jabatan tersebut, Partai Golkar Solo akan segera mengadakan musyarawah daerah luar biasa (musdalub). Untuk menentukan pemimpin Golkar Solo selama satu tahun kepengurusan ini.
Anggota Dewan Pakar Partai Golkar Henry Indraguna menegaskan, pemimpin Golkar pengganti Kusraharjo ini mempunyai tugas yang cukup berat.
“Tugas utama pemimpin Golkar Solo saat ini mengejar ketertinggalan kemarin. Kalau saat ini kita punya 3 kursi di DPRD untuk selanjutnya target kita minimal 8 kursi. Nggak main-main kan itu. Harus mengejar prestasinya. Ini partai kita memang untuk 2024 kursi Golkar di Surakarta ini minimal harus 8. Maka sekarang baru mencari sosok pimpinan yang memang punya prestasi. Yang bisa menunjukkan prestasinya dalam kurun waktu kurang lebih selama 1 tahun ini kan. Sehingga nanti harapannya pada saat Februari 2024 bisa melahirkan anggota-anggota dewan yang verified untuk Surakarta dan jumlahnya harus 8 kursi, itu target kami,” tegas Henry.
Politikus yang meraih gelar Doktor Hukum dari Fakultas Hukum UNS ini mengungkapkan, dengan tugas berat tersebut maka Golkar menyiapkan musdalub semaksimal mungkin.
“Pemilihan ketua baru itu harus lewat musyawarah daerah luar biasa ya. Ini baru Menyusun waktu yang tepat. Memang dalam persiapan musdalub ini kan tidak semudah itu karena harus mengkondisikan calon-calon yang akan maju. Ini masih lobi-lobi politiklah. Agar nantinya saat musdalub harapannya tidak terjadi beda pendapat yang signifikan. Boleh ada perbedaan pendapat akan tetapi bisa selesai secara kekeluargaan. Karena biar bagaimanapun juga ini harus segera diputuskan dan harus mendapatkan pimpinan yang berprestasi,” paparnya.
Pengacara ini juga mengungkapkan calon pemimpin Golkar Solo mesti mempunyai tiga kriteria utama ini. Bila ingin mendulang angka kemenangan yang tinggi.
“Tapi pesan saya, siapapun yang terpilih, yang pertama memang orang itu harus punya keberanian. Karena di Solo ini kalau tidak punya keberanian yang cukup ya susah. Keberanian yang cukup ini sudah harus diatas rata-rata. Karena kita tahu bahwa Solo ini jadi barometer Indonesia. Apapun yang terjadi di Solo maka menjadi informasi publik di Indonesia. Yang kedua, Solo ini adalah kandang banteng, kandang merah. Terbukti suara Golkar pun kursi cuma tiga, habis semuanya merah. Jadi kalau untuk menambah kursi ini butuh keberanian yang cukup. Jadi kalau tidak ada keberanian jangan sekali-sekali memimpin partai di Surakarta ini,” tegasnya.
Selain dua kriteria tersebut, Henry melanjutkan syarat ketiga yakni memiliki financial yang cukup dan juga lebih dari rata-rata.
“Tidak bisa memungkiri, kalau kita bicara partai politik, itu kalau ngga ada financialnya ngga jalan. Ibaratnya kita punya mobil super mewah ngga ada bensinnya ya tetap aja mogok. Kalau tidak ada financial cukup pun tidak akan bisa, sulit memimpin partai Golkar Surakarta ini. Kenapa, karena kita dapat mandat itukan bukan dari nol tapi minus. Ada ketertinggalan, mengejar sampai nol ini butuh satu kekuatan. Jadi yang kita butuhkan energi yang ekstra, maka energi yang ekstra ini selain keberanian, financial yang cukup,” bebernya.
Henry juga menyebut selain kuat finansial pemimpin juga harus berani ‘bakar uang’ tanpa mengharap imbal balik.
Jadi kalau cukup financial tidak berani bakar uang percuma. Tiga komponen ini harus utama nahh yang ke empat otaknya harus pandai, potensi cara strategi berperangnya harus pandai. Dan yang terakhir harus pakai hati. Karena berpolitik itu berhubungan dengan rakyat, jangan prinsip seperti banyak orang sekarang. Orang berpolitik itu berbicara, dia sendiri aja ngga percaya dengan omongannya. Jadi orang politikus katanya konon kalau berbicara dirinya sendiripun tidak percaya, naaa ini yang saya mau coret,” pungkasnya.








