Sebagian Besar Pemohon Kawin Bocah di Kota Solo Pilih Putus Sekolah dan Fokus Urus Anak

oleh
Kawin bocah
Ilustrasi kawin bocah | Dok Depositphotos

SOLO, MettaNEWS – Psikologi Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Solo, Ranita Widyaswati mengatakan sebagian besar pemohon perkawinan anak atau kawin bocah memilih putus sekolah dan fokus membesarkan buah hatinya.

Berita sebemumnya, Puspaga mencatat sebanyak 101 anak mengajukan permohonan menikah dini per April 2022 hingga Desember 2022. Dari jumlah tersebut 75 pemohon hamil, 6 pemohon sudah melahirjan dan 20 pemohon sudah siap menikah meski usianya di bawah 19 tahun.

“Kalau kita konsultasinya terkait dengan kelanjutan sekolahnya, sebagian besar mereka nggak melanjutkan sekolah. Dari 101 pemohon 75 orang sudah hamil. Karena dia sudah hamil dia memutuskan untuk mengasuh anaknya,” ujar Ranita, Jumat (10/2/2023).

Renita mengatakan alasan anak-anak pemohon kawin bocah putus sekolah lantaran malu dengan teman sekolahnya. Selain itu mereka juga takut jika menjadi sasaran bullying.

“Ada yang seperti itu (malu). Karena mungkin kalau melanjutkan ke sekolah ada bully dari teman-temannya. Untuk usia anak secara kemampuan psikologis kurang matang. Sesuai psikologis belum bisa mikir sejauh itu,” tutur Ranita.

Sebagian besar pemohon perkawinan anak juga takut dengan anggapan masyarakat atas perilakunya yang dinilai aib bagi sekolahnya. Pada akhirnya anak-anak memilih untuk memebesarkan anaknya di rumah.

“Jadi hanya bisa sampai situ saja sebagian besar orang menganggapnya aib. Ketika mau kembali ke masyarakat malu, kalau mau kembali ke sekolah gimana nanti teman-temannya,” kata dia.

Anak-anak putus sekolah lantaran perkawainan anak ini masih memiliki kesempatan menganyam pendidikan lewat kejar Paket C. Ranita menyebut kejar Paket C ini lebih memungkinkan bagi si anak untuk beradaptasi.

“Misalnya mau lanjut sekolah ya kejar paket C. Secara waktunya fleksibel kemudian lingkungan baru juga,” terangnya.