SOLO, MettaNEWS – Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi atau Habib Ali Kwitang merupakan ulama besar yang Namanya begitu harum bagi umat islam di Tanah Air. Meski telah wafat pada 13 Oktober 1968 silam, nama Habib Ali masih menjadi perbincangan. Hingga di tahun ini peringatan hari kematiannya atau haul ke-111 juga tengah direncanakan untuk diperingati di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon Solo pada 12-15 November 2022.
Habib Ali semasa hidupnya merupakan seorang tokoh penyiar agama islam terdepan di Jakarta pada abad 20. Ia juga merupakan pendiri dan pemimpin pertama pengajian Majelis Taklim Kwitang yang merupakan satu cikal bakal organisasi keagamaan di Ibu Kota Jakarta.
Dilansir laduni.id, ketika berada di kota, Habib Ali mulai membuka majelis ilmu di kota Seiwun. Salah satu majelisnya mengajarkan ilmu Nahwu. Habib Ali mengajar dan beribadah dan menjadi imam di Masjid Hambal selama 30 tahun.
Siang dan malam masjid itu makmur dengan zikir, tilawatul Qur’an dan pengajian. Saat mengajar di masjid tersebut tidak kurang dari 400 orang senantiasa menghadiri majelis beliau. Di bulan Ramadhan setiap shalat tarawih Habib Ali selalu membaca 10 juz Alqur’an, setiap rakaat 8 muqra’. Sedangkan tiap malam jum’at beliau gunakan untuk membaca Dalailul Khairat dari sahur hingga fajar.
Membangun pondok pesantren
Ketika berusia 37 tahun Habib Ali Alhabsyi membangun ribath (pondok pesantren) yang pertama di Hadhromaut. Ia mendirikan sebuah ribath di kota Seiwun untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Ribath itu menyerupai masjid dan terletak di sebelah timur halaman Masjid ‘Abdul Malik.
Dan ketika beliau berusia 44 tahun (1303 H), Habib Ali membangun sebuah masjid yang kemudian terkenal dengan nama Masjid Riyadh di Seiwun. Habib Ali berkata : “Dalam masjid Riyadh terdapat cahaya, rahasia dan keberkahan Nabi Muhammad saw.
Di dalam masjid Riyadh diadakan berbagai majelis, salah satunya majelis Senin. Majelis hari senin sangat agung, banyak pengunjungnya baik dari dalam maupun luar kota. Pada majelis ini dibacakan 6 kitab hadits (al Ummahat as Sit). Majelis Senin diliputi haibah dan kekhusyu’an. Walaupun masjid penuh sesak tapi seakan-akan tidak ada seorang pun di dalamnya.
Setiap orang mendengarkan apa yang sedang dibaca, mereka tidak senang jika ada yang mengajak bicara. Tak diragukan lagi bahwa ruh Nabi Muhammad saw hadir dalam majelis itu. Majelis itu meninggalkan kesan dalam hati. Setelah dibacakan kitab hadits, qur’an dan qashidah, lalu Habib Ali memberikan pengajian agung yang mampu menggerakkan hati dan membuat hadirin meneteskan air mata. Beliau kemudian menutup majelisnya dengan Fatihah yang serba mencakup.







