Cerita Pengguna Kompor Listrik di Mojo Solo, Kekurangan Alat hingga Durasi Masak Lebih Lama

oleh
Kompor listrik
Reto Mardi Ningsih (37) menunjukkan kompor listrik bantuan PT PLN dikediamannya warga terdampak penataan (WTP) Kelurahan Mojo, Jumat (23/9/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Warga terdampak penataan (WTP) Kelurahan Mojo yang mendapat kompor listrik kini temui kendala. Sejak diterima dua bulan lalu, kini masyarakat belum dapat sepenuhnya mengikuti teansisi kompor gas ke kompor listrik.

Salah satu penerima, Supriyani (42) mengalami kendala di alat dapur yang harus ia miliki usai mendapat kompor listrik. Kompor listrik membutuhkan peralatan berbeda dengan kompor gas membuatnya hanya bisa memasak menggunakan alat dapur bantuan PLN.

“Peralatannya kurang komplet karena harus stainless semua wajannya harus khusus kompor induksi. Kendala mungkin 1 bulanan. Kalau dihidupkan sama magicom dan air mati  tapi gak jeglek,” beber Supriyani saat ditemui MettaNEWS, Jumat (23/9/2022).

Selain peralatan dapur yang tidak sesuai, Supriyani sempat alami masalah kapasitas listrik. Di rumahnya yang terpasang daya listrik 900 watt membuat peralatan listrik lain tak dapat dioperasikan.

Pun dalam hal memasak, menurut Supriyani ia membutuhkan waktu lebih lama dibanding kompor gas.

“Kecepatannya enak kompor gas, kan cepat gitu. Kalau masaknya santai, kalau untuk masakan yang buru-buru gak bisa. Tapi kalau ngiritnya ya ngirit listrik,” terangnya.

Pengalaman pribadinya, memasak air di kompor listrik memakan waktu 15 menit berbeda dengan kompor gas yang hanya 5 menit.

Meski demikian ia merasa penggunaan kompor listrik dapat menghemat pengeluaran.

“Dulu pakai gas 1 minggu 1 tabung kalau ini enggak. Naiknya gak begitu banyak. Sebulan 5 hari itu kalau pulsa 50 ribu sama pengeluaran dengan sebelumnya,” katanya.

Sebelumnya di rumah WTP yang diberikan pemerintah, setiap rumah terpasang daya 1.300 watt namun sempat diturunkan menjadi 900 watt. Namun kini untuk beberapa warga yang namanya tercatut dalam DTKS mendapat kompor gas, daya listrik kembali dinaikkan dengan mendapat subsidi.

“Nggak ada perubahan kenaikan gak begitu, dulu pas masuk sini 1.300 waat diturunkan 900 terus katanya nambah lagi 1 tungku kan 1.000 kalau kompornya kedua dihidupkan enggak bisa,” kata ibu dari 3 anak itu.

Meski sering mati listrik kini pihak PLN telah mengatur agar kompor listrik dapat digunakan bebarengan dengan peralatan listrik lainnya.

Senada, penerima lain Reto Mardi Ningsih (37) juga merasakan kurangnya alat dapur yang memadai untuk kompor listriknya.

“Kalau kendala itu ke alat masaknya, kan kalau pake kompor gas semua bisa make, kalau ini kan khusus,” katanya.

Lantaran kompor listrik tersebut ia harus menambah peralatan yang berbeda. Salah satunya panci yang digunakan untuk memasak air tak dapat digunakan untuk masak sayur.

“Kalau yang teflon itu bisa buat masak bisa buat goreng, kalau manci kan cuma buat sayur, kendalanya cuma buat masak air aja itu. Ga enak air minumnya biarpun sudah dicuci, jadi buat air sendiri buat sayur sendiri, gabisa campur.” terangnya.

Berbeda dengan kompor gas ia bisa menggunakan segala jenis peralatan dapur. Lantaran hal ini Reto tak dapat sepenuhnya meninggalkan kompor gas untuk memasak.

“Masih pakai gas karena saya harus masak air buat susunya adik. Tapi kalau masak goreng sayur sudah ke kompor listrik,” katanya.

Kendati begitu ia merasakan kompor listrik lebih aman digunakan. Terlebih di rumahnya juga terdapat anak-anak yang terkadang sembrono. Menurutnya kompor listrik tak membahayakan.

“Nek misal masak gitu kan enggak bahaya buat anak-anak, juga yang kelas 10 tahun bisa makai sendiri nggak bahaya. Misal lupa naruh plastik di sampingnya enggak kebakar kalau pakai kompor gas kan misal narok sesuatu disampingnya bisa kebakar,” terangnya.

Senada, ia juga merasa penggunaan kompor listrik lebih menghemat pengeluaran.

“Kalau sering dipakai buat masak listrik muter cepet, cuman kalau pake gas kan belinya 2 minggu sekali, lebih hemat ke listrik. Listriknya dulu kan seringnya 50 ribu itu kan 2 Minggu, nah kalau sekarang bisa 10 hari,” katanya.

Sementara ini ia masih mendapat subsidi listrik dari pemerintah. Sehingga saat m tarif listrik naik ia akan menghitung kembali pengeluaran.

“Hitung-hitung lagi penghasilan kan suami kan buruh harian jadi ya harus pinter pinter ngatur kalau nggak nanti gimana beli susunya,” tutupnya.