SOLO, MettaNEWS – Indonesia National Paralympic Organization Comittee (Inaspoc) memberi pembekalan pada 1.300 volunteer atau tenaga relawan, Kamis (21/7/2022) di Ballroom Solo Paragon Hotel.
Sebanyak 1.300 relawan ini merupakan hasil penjaringan dari 6.700 an pendaftar. Wakil Ketua Administrasi Pertandingan Inaspoc, Bayu Rahardian mengatakan pelatihan ini merupakan awal persiapan bagi volunteer karena volunteer adalah garda terdepan dari perhelatan ini.
“Volunteer ini yang menjadi wajah pertandingan, wajah Kota Solo, tentunya kami menyiapkan pelatihan khusus untuk masing-masing bidang volunteer,” tutur Bayu usai pembukaan pelatihan volunteer.
Selain pelatihan umum, Bayu mengatakan untuk masing-masing divisi volunteer akan ada pelatihan khusus yang spesifik terkait bidang kerjanya.
“Pelatihan ini akan diberikan berbagai macam materi mulai dari skill komunikasi dan juga pemahaman tentang disabilitas sehingga secara komprehensif teman-teman dari volunteer di sini siap untuk menerima kehadiran daripada teman-teman atlet disabilitas se Asia Tenggara,” papar Bayu.

Proses pelatihan dan pembekalan volunteer ASEAN Para Games ini berlangsung selama 3 hari agar memahami dan mengaplikasikan yang menjadi bidang tugasnya.
Para volunteer ini menurut Bayu akan segera bertugas usai pelatihan pada divisi masing-masing.
“Keramahan dan sikap siap membantu, jadi mereka tidak terpaku pada bagiannya saja. Kalau kita melihat ada bagian lain yang keteteran mereka langsung otomatis mengcover bagian yang lain itu. Itu adalah kuncinya mengapa kita bisa berhasil,” ungkap Bayu.
Sementara itu, peserta pelatihan volunteer dari Jakarta, Septiana Fitri Maria (33 tahun) merasa kembal tertantang untuk menjadi volunteer pada event yang 11 tahun silam juga pernah di gelar di Solo ini.
“Dulu pernah menjadi volunteer Asean Games 2011 di Jakarta. Meskipun searang saya sudah jadi PNS tapi masih ingin membantu menjadi volunteer, untungnya instansi saya mendukung sehingga saya diberikan izin dengan memakai cuti pribadi untuk bisa menjadi bagian dari ASEAN Para Games 2022 ini,” ujar Septiana.
Septiana menyebut saat 2011 lalu ia menjadi volunteer untuk atlet biasa bukan para games.
“Saya merasa perlu mendapat pengalaman baru untuk terlibat dengan atlet disabilitas. Kebetulan saya bekerja di Kementerian PANRB dan kami akan menerbitkan kebijakan afirmasi. Jadi ketika membuat afirmasi bisa lebih tepat karena sudah tahu sendiri di lapangan seperti apa,” ungkapnya.
Tak berbeda jauh, seorang volunteer dari Mojosongo Solo, Arif Sulistya, (26 tahun) ini tertarik untuk menjadi volunteer yang nantinya akan berguna sebagai bekal mengajar.
“Saya lulus S1 olahraga di UTP Surakarta jadi saya juga tertarik karena ini salah satu event olahraga internasional. Saya lihat ini juga penting untuk menjadi pengalaman di bidang olahraganya,” pungkas guru olahraga PNS di SMP Negeri 15 Surakarta ini.









