SOLO, MettaNEWS – Pawarta Foto Indonesia (PFI) kerja bareng Monumen Pers Nasional mempersembahkan mahakarya berupa pameran foto “Striving for Equality”. Berlokasi di Monumen Pers Solo pameran ini dibuka pada Jumat (16/12/2022) malam.

Ada 58 foto yang dipamerkan dalam pameran yang untuk pertama kalinya digelar ini. Kesemuanya merupakan momen yang diambil saat para atlet difabel berjuang di pesta olahraga internasional ASEAN Para Games (APG) 2022.
Ketua Panitia Pameran Foto Striving for Equality, Bram Selo Agung Mahardika mengatakan 58 foto yang mejeng selama satu bulan kedepan ini telah melewati kurasi ketat. Tak main-main, PFI mempercayakan Bea Wiharta, sosok yang dikenal sebagai Pencerita Visual ternama untuk menjadi kurator di pameran ini.
“Ada 58 foto yang ditampilkan dari 200 foto yang disetorkan ke kurator dipilih 58 yang layak tampil, hanya 2 hari saja kurasinya tapi berkembang karena penyusunannya bertambah,” ujar Bram kepada MettaNEWS, Jumat (16/12/2022).

Bea Wiharta bukanlah sosok yang asing di ranah jurnalistik. Mantan fotografer Reuters itu begitu selektif memilih foto yang akan dipersembahkan tidak hanya pecinta fotografi saja melainkan masyarakat luas. Maka setiap foto itulah harus mampu membawa cerita.
“Karena ini kuratornya senior yang lebih berpengalaman di bidang fotografer jurnalistik terutama olahraga, untuk memilih foto teman-teman Pawarta Foto Solo yang bertugas waktu APG dan foto-foto pecinta fotografi yang kemarin dihire Nasional Olimpic Commite (NPC) untuk mendokumentasikan maka proses seleksinya juga nggak sembarangan,” jelasnya.

Pameran ini awalnya hanya akan menyajikan karya lensa gelaran APG. Namun sang kurator menginginkan ada warna berbeda dari aktivitas atlet difabel. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi PFI.
“Awalnya APG saja tapu ternyata kuratornya menghendaki harus ada sisi lain dari kehidupan aktivitas sebagai atlet, ini yang bikin kita agak bingung karena kita wartawan mendokumentasikan waktu kompetisi, yang mana kita hanya membuat aksi heroik teman-teman dari atlet difabel sewaktu APG,” ujarnya.
Kendati demikian, tantangan ini tidak menjadikan PFI stagnan. Sebaliknya, tantangan ini dijawab dengan menampilkan sentuhan lain tidak hanya karya dalam foro melainkan penyajian alat-alat yang digunakan para atlet APG dalam berkompetisi.

“Karena pandangan kurator itu lebih luas dan paham kalau fotonya hanya aksi saja pastinya membosankan, toh stoknya sedikit baik yang latihan atau pas berlaga sedikit yang setor, di sisi lain kehidupannya sebagai atlet juga sedikit,” kata Bram.
Kehadiran alat-alat beberapa cabang olahraga ini lah yang membuat pameran ini lebih hidup. Yakni bagaimana PFI membawa pengunjung larut dalam bayangan para atlet ketika berjuang di APG.
“Memang bagus tapi kita dikejar waktu deadline buat pameran yang disiapkan dalam waktu dua bulan ini sejak Oktober, jadi kita nggak sempat. Jadi kami memajang alat yang digunakan sewaktu teman-teman difabel berkompetisi di mana alat ini tidak lepas dari peralatan yang bukan normal, tapi spesial,” tambahnya.
Pameran Striving for Equality ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB. Pameran ini terbuka untuk umum sehingga masyarakat pun dapat dengan mudah menikmati setiap karya di Monumen Pers Nasional di Jalan Gajahmada, Timuran, Banjarsari, Solo.












