Pendaftaran PPDB Sisakan Rentetan Panjang Keluhan Orang Tua di Solo

oleh
PPDB
Para orang tua dan calon peserta didik baru mendatangi Dinas Pendidikan (Disdik) Solo soal PPDB, Rabu (15/6/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Pendaftaran online Penerimaan Pesera Didik Baru (PPDB) temui banyak keluhan dari para orang tua. System online yang awalnya untuk membuat pendaftaran ke jenjang yang lebih tinggi lebih mudah namun justru dirasa membingungkan. Hal ini dirasakan oleh sejumlah wali murid maupun operator sekolah.

Kasi Kurikulum Dikdas dan SMP Dinas Pendidikan Solo, Abi Satoto menyebut keluhan ini bersumber pada masalah data yang keliru. Banyaknya pilihan dalam akun pendaftaran membuat pihaknya harus benar-benar teliti. Padahal data yang masuk hingga ribuan calon peserta didik baru di tahun pelajaran 2022/2023 ini.

“Keluhannya untuk saat ini masalah data. Jadi data tidak sesaui padahal kita sudah memperbaiki data-data itu bekerjasama  dengan operator sekolah. Tapi pada saat pembuatan akun ini kadang-kadang literasi kita kurang maksimal. Sehingga ada data yang kita baca kurang seksama langsung saja disetujui, ternyata masih ada kesalahan,” beber Abi saat ditemui di kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Solo, Rabu (15/6/2022).

Kesalahan pengetikan terjadi sepanjang pendaftaran PPDB, sudah diperbaiki oleh pihaknya, Abi menyebut pada dasarnya kesalahan non teknis dapat dilakukan mandiri melalui menu yang ada.

“Karena mungkin data lama mungkin salah ketik, perbaikannya ketika sudah membuat akun atau mungkin sudah daftar diperbaiki di sini karena merubah data base. Sedangkan ketika dia daftar akun itu ada menu yang bisa memperbaiki sebetulnya,” tambahnya.

Disebutkan Abi, Jalur PPDB baik tingkat SD maupun SMP membuat para orang tua juga kebingungan. Pasalnya salah satu jalur afirmasi yakni Keluarga Miskin (Gakin) masih menjadi kesalah pahaman bagi sebagian besar orang tua.

“Jadi biasanya karena jalur afirmasi diperuntukkan bagi keluarga miskin atau keluarga kurang mampu terus keluarga yang rentan dengan kondisi sosial dengan SK Wali Kota kemudian ABK dan anak tenaga medis. Biasanya kalau orang tua itu dulu saya masuk Gakin kok sekarang tidak. Itu yang kadang-kadang mereka masih bermindset Gakin itu seumur hidup. Padahl data Gakin ini dari usulan data Dinsos. Yang kita pakai itu akan diupdate selama enam bulan yang sudah mampu mungkin sudah tidak masuk karena meningkat ekonominya,” terangnya.

Sementara di tempat terpisah, Staf Operator SDN Tumenggungan, Wili juga harus mengurus permasalahan data peserta didiknya hingga berjam-jam di Disdik.  Terjadi miskomunikasi antara orang tua dengan system pemilihan sekolah, Wili mengatakan

“Tadi keluhannya itu seputar miskomunikasi dengan orang tua yang menganggap bisa tapi kadang ya ada yang nggak bias. Ini saya menjumpai orangtua yang miskomunikasi jadi orang tua itu tidak begitu paham bagaimana system PPDB online ini. Kalau sebenarnya dari SD itu mengadakan sosialisasi tapi orang tuanya pas belum hadir jadi mungkin itu kendalanya orang tua. Dan itu berdampak pada PPDB di SD saya Tumenggungan,” terang Wili.

Ketidakpahaman orang tua dalam menenmpatkan prioritas sekolah tujuan membuat kesalahan input data peserta didiknya keliru. Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran akan tidak dilanjutkannya sekolah si peserta didik.

“Jadi anaknya itu ingin di SMP 15 Solo. Harusnya kalau anak itu pengin di situ prioritas utama itu yang atu adalah SMP 15 tapi karena ketidaktahuan orang tua jadi yang didaftar adalah SMP terkecil dulu. SMP 1, SMP 10 baru SMP 15, padahal SMP 1 dan SMP 15 itu dari jarak rumahnya sama-sama dekat. Dan sekarang posisi anaknya di SMP 1, padahal anaknya itu di SMP 15. Kami niat membantu agar ditempatkan di sekolah yang dicita-citakan. Karena kalau dibebankan ke orang tuanya sendiri kadang hpnya juga nggak support maka kami memberi fasilitas di sekolah untuk membantu  lancarnya PPDB,” jelasnya.

Sebagai operator dan fasilitator sekolah, dirinya sitem online PPDB sangatlah rumit. Lantaran adanya konfirmasi dengan pihak sekolah lain.

“Saya dari jam 8 ini sudah hamper jam 12. Sangat rumit karena hubungannya dengan SMP SMP lainnya. Dan kebetulan ini baru sekali ini karena ada 5 Gakin 5 jalur afirmasi yang 4 lancar satu terkendala ini,” ungkapnya.

Dengan permasalahan yang terjadi, pihaknya berharap ada sosialisasi secara berulang ke sekolah-sekolah. Hal ini untuk memberikan penjelasakan yang lebih gambling kepada orang tua murid yang mendaftarakan anak-anaknya. Mengingat system online ini tak dapat mudah dipahami begitu saja.

“Harapannya sosialisasi tidak hanya satu kali. Mungkin dari sekolah mensosialisasikan PPDB itu secara berkala jadi entah itu dua kali atau tiga kali. Karena kadang sosialisasi sekali itu tidak semua orang tua hadir. Diushakan ada absensi biar nantinya bias di tag siapa saja yang belum pernah disosialisasi agar di tidak terjadi kendala-kendala lagi dan PPDB menjadi lancar,” tutupnya.