SEMARANG, MettaNEWS – Sebanyak 45 peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VII Provinsi Jawa Tengah dinyatakan lulus. Namun, kelulusan tersebut bukan menjadi akhir dari proses pembelajaran.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sumarno meminta para peserta membawa ilmu, inovasi, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan untuk menghadirkan perubahan nyata di instansi masing-masing.
Hal tersebut disampaikan Sumarno saat mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Penutupan PKN Tingkat II Angkatan VII di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDM) Jateng, Jumat (14/8/2026).
Menurut Sumarno, dampak setelah peserta kembali ke tempat kerja menjadi salah satu tolok ukur penting keberhasilan PKN. Sebab, para peserta merupakan calon pemimpin yang diharapkan mampu menggerakkan organisasi sekaligus meningkatkan kinerja pelayanan.
“Yang terpenting adalah dampak dari pelaksanaan PKN ini nanti terhadap teman-teman peserta setelah kembali bekerja,” kata Sumarno.
Ia menegaskan, peserta tidak cukup hanya menyelesaikan rangkaian pelatihan dan memperoleh sertifikat. Pengetahuan serta kompetensi yang didapat selama lebih dari empat bulan harus diterapkan dalam pelaksanaan tugas.
Para peserta juga diharapkan mampu menjadi pemimpin yang memberikan keteladanan di lingkungan kerja. Menurut Sumarno, sikap dan perilaku seorang pemimpin akan berpengaruh terhadap budaya kerja serta integritas jajaran di bawahnya.
“Pemimpin harus bisa menjadi contoh. Ketika pemimpinnya memberikan keteladanan, maka akan memengaruhi jajaran di bawahnya,” ujarnya.
Karena itu, Sumarno berharap seluruh peserta dapat menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi, memberikan contoh yang baik, serta menerapkan inovasi yang telah dirancang selama mengikuti PKN.
Kepala BPSDM Jateng Uswatun Hasanah mengatakan, pihaknya akan terus memantau keberlanjutan inovasi yang telah dirancang para peserta.
Menurutnya, inovasi yang dibuat selama pelatihan harus benar-benar diimplementasikan setelah peserta kembali ke instansi masing-masing.
“Kami masih akan mengundang dan menagih teman-teman semuanya untuk membuat inovasi atau melaksanakan inovasi tersebut,” kata Uswatun.
Ia menegaskan, proses pembelajaran dalam PKN tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai. Implementasi inovasi menjadi bagian penting untuk memastikan kompetensi kepemimpinan yang diperoleh peserta memberikan dampak terhadap organisasi dan masyarakat.
PKN Tingkat II Angkatan VII Provinsi Jawa Tengah berlangsung selama lebih dari empat bulan, mulai 7 April hingga 14 Agustus 2026.
Pelatihan tersebut diikuti 45 peserta yang berasal dari berbagai instansi. Rinciannya, lima peserta dari kementerian/lembaga, empat peserta dari Pemprov Jawa Tengah, 26 peserta dari pemerintah kabupaten, dan 10 peserta dari pemerintah kota.
Seluruh peserta dinyatakan lulus. Sebanyak 15 peserta memperoleh predikat sangat memuaskan, sedangkan 30 peserta lainnya mendapatkan predikat memuaskan.
Selama mengikuti pelatihan, para peserta juga menjalani Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman.
Kegiatan tersebut mengangkat empat tema yang berkaitan dengan ketahanan pangan, yakni penguatan dan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) pertanian, transformasi pemasaran produk pertanian berbasis inovasi, alih teknologi untuk mempercepat produksi pertanian, serta ketahanan pangan berkelanjutan melalui penyediaan infrastruktur yang memadai.
Selain visitasi, peserta juga memperoleh pembelajaran dari Perum Bulog dan Bank Indonesia.
Dalam penutupan PKN tersebut, lima peserta ditetapkan sebagai peserta terbaik. Mereka yakni Moh. Edy Sukarno dari Kabupaten Semarang, Siswo Hartanto dari Kota Salatiga, Agus Sugiharto dari Provinsi Jawa Tengah, serta Bayu Adhinugroho Arianto dan Mia Banulita dari Kejaksaan RI.
Kelima peserta terbaik tersebut memperoleh piagam penghargaan dan medali.
Sementara itu, seluruh peserta yang dinyatakan lulus mendapatkan Surat Tanda Tamat Pelatihan (STTP) yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI.
Sumarno berharap kelulusan PKN tidak hanya menjadi pencapaian administratif, tetapi menjadi momentum bagi para peserta untuk menunjukkan kepemimpinan yang mampu menghasilkan perubahan.
“Setelah kembali ke instansi, tunjukkan bahwa apa yang diperoleh selama PKN benar-benar memberikan dampak dan perubahan,” pungkasnya.








