SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa meninjau lokasi banjir di RT 2 dan RT 3 Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Solo, Sabtu (22/10/2022).
Saat meninjau, Teguh menemukan penyebab terjadinya banjir di Solo bagian timur tersebut. Dikatakan Teguh, air yang menggenang setinggi hampir 1 meter itu disebabkan kekuatan pompa air Sungai Bengawan Solo yang tidak memadai.
“Kekuatan pompa tidak memadai, maka ini menjadi evaluasi kita semua. Jangan membuat standar bahwa pompa untuk hujan yang biasa saja disamakan saat hujan dengan intensitas tinggi. Ya kalau hujannya tidak deras tidak ada masalah tapi suatu ketika alam ini bergejolak hujan turun lebih besar lagi jadinya seperti ini,” terang Teguh.
Sebagai bahan evaluasi ia meminta pihak Kelurahan Pucangsawit segera membuat laporan ke Pemerintah Kota Solo. Terlebih banjir di Pucangsawit terakhir pada 2007 silam. Sehingga hal ini menjadi catatan penting bagi Pemkot untuk mengantisipasi.
“Nanti Pak Lurah akan membuat laporan membuat suatu ringkasan laporan kepada Wali Kota apa saja yang perlu kita evaluasi dari kejadian ini. Karena hampir beberapa puluh tahun kita aman saja,” katanya.
Teguh mengatakan, usai banjir bandang di tahun 2007, Pemkot Solo mulai memasang parapet sungai. Gunanya untuk mengendalikan air juga menahan banjir. Tepatnya di tahun 2008 silam, parapet ini mulai dipasang hingga menghabiskan waktu pemasangan selama 4 tahun lamanya.
“Maka dari itu termasuk beberapa pompa air yang pada waktu dulu mati nggak pernah dikontrol ini petugasnya kita evaluasi semuanya, jangan ada petugas pompa air tidak waspada,” tutur Teguh.
Teguh menegaskan petugas Sungai Bengawan Solo harus meningkatkan kewaspadaannya. Sebab ketinggian Sungai Bengawan dengan curah hujan menurutnya sering tidak seirama.
“Di sini hujannya rintik-rintik tapi di Wonogiri banter dampaknya pasti kesini. Jadi pompa yang jumlahnya belum memadai ini perlu diperbesar kemudian teknis pembuangannya juga harus seimbang antara yang diambil dengan yang keluar. Kalau ambilnya besar keluarnya besar dan tidak boleh masuk ke dalam,” jelas Teguh.
Pihaknya mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat melewati genangan banjir. Ia juga meminta pihak kelurahan untuk membuat peringatan banjir di titik tertentu yang sekiranya membahayakan.
“Peringatan jalan khususnya yang di cekungan ini sampai pertigaan sebelah sana harus ada. Karena implikasinya adalah rumah yang di RT 2 dan 3 jadi harus hati-hati,” terang Teguh.
Peristiwa banjir yang pertama kali terjadi di masa kepemimpinannya itu membuat Teguh ingin segera membuat solusi. Menurutnya tata letak bangunan di Kelurahan Pucangsawit perlu diperhatikan kembali. Seperti halnya di Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon Solo, pihaknya ingin membuat lokasi yang saat ini terendam banjir bisa lebih tinggi dari permukaan Bengawan Solo.
“Bisa kita gunakan bantuan yang CSR itu per rumah Rp 50 juta seperti di Mojo meskipun dibangun 40 m2 rata bisa diambil ketinggiannya kemudian sepadan sungainya saya kira begitu. Tapi kita harus cek ulang semuanya data penduduk seperti apa yang terdampak khususnya di 2 RT ini seperti apa karena dia mangku sungai yang mengarah ke sana yang besar,” pungkas Teguh.









