SOLO, MettaNEWS – Simposium Budaya “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern” sukses digelar Yayasan Anand Ashram di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Surakarta, Selasa (1/9/2026).
Sejumlah tokoh dari berbagai bidang hadir dalam simposium tersebut. Drs. KGPH Adp Panembahan Dipokusumo, M.Si., penerima Lifetime Achievement World Peace Award 2023, tampil sebagai keynote speaker. Diskusi dimoderatori Dian Martin, Ketua Asosiasi Artificial Intelligence Indonesia.
Turut menjadi pembicara Rin Widya Agustin, S.Psi., M.Psi., psikolog dan dosen Universitas Sebelas Maret (UNS); Sumartono Hadinoto, Tokoh Inspiratif Kota Solo 2026 sekaligus peraih Global Business & Peace Award 2018; RAy. Febri Hapsari Dipokusumo, S.Sos., Director Hapsari PRCC sekaligus Past District Governor Rotary 3420; serta Assoc. Prof. Dr. Arbanía Fitriani, S.Psi., M.Si., Director Altia Group Consulting dan dosen Universitas Esa Unggul.
Sumartono Hadinoto: Kunci Hidup Bahagia Bermanfaat Bagi Sesama
Dalam paparannya, Sumartono Hadinoto menekankan pentingnya membangun kepedulian kepada komunitas di sekitar. Menurutnya, manusia memang tidak dapat memilih dilahirkan sebagai siapa, tetapi perjalanan setelah kelahiran merupakan rangkaian pilihan yang dapat menentukan makna hidup seseorang.
“Orang lahir itu tidak bisa memilih mau menjadi siapa. Tetapi setelah lahir, hidup ada di pilihan kita. Tentunya selain pilihan, semua sudah ada yang mengatur. Saya selalu sampaikan bahwa kalau kita ketemu seseorang atau sedang berbicara dengan seseorang, itu adalah satu hal yang sudah diatur oleh Tuhan. Jadi tidak ada yang kebetulan,” ujar Sumartono.
Ia mengaku banyak belajar dari kehidupan dan beberapa kali mengikuti kegiatan yang menghadirkan Anand Krishna. Pengalaman tersebut, menurutnya, ikut membentuk cara pandangnya dalam melayani orang lain.
“Banyak hal yang bisa membantu saya untuk bagaimana saya bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang saya lakukan saat ini, untuk bisa melayani dengan segala keterbatasan yang saya punya, dengan penuh keikhlasan dan niat baik,” katanya.
Sumartono juga menceritakan perjalanan hidupnya yang tidak selalu mudah. Ia pernah berada di titik mempertanyakan makna hidup, namun kemudian melihat berbagai pengalaman pahit sebagai bagian dari proses pembentukan dirinya.
“Banyak hal yang sangat-sangat membuat hidup saya ini tidak berarti dan saya selalu komplain kepada Tuhan. Bahkan saya bilang, Tuhan lebih baik saya tidak dilahirkan untuk hidup seperti ini. Tetapi sekarang saya berdoa dan saya bersyukur saya bisa menghadapi semua itu untuk menjadi Sumartono saat ini,” ungkapnya.
Baginya, membantu sesama tidak harus menunggu seseorang kaya atau memiliki banyak waktu.
“Orang membantu tidak harus menunggu waktu. Berbagi itu tidak harus menunggu waktu, berbagi bisa dimulai setiap saat walaupun hanya berbagi senyuman, asal ikhlas. Karena kalau kita tidak ikhlas, senyumnya kita tidak akan bahagia,” katanya.
Ia menilai salah satu sumber ketidakbahagiaan manusia justru berasal dari keinginan yang terlalu besar.
“Saya merasa semua kebutuhan saya selalu dicukupi oleh Tuhan, tetapi keinginan saya itu yang membuat kita tidak bahagia. Selama saya belajar dari kehidupan, orang yang tidak bahagia adalah orang yang keinginannya lebih besar,” tuturnya.
Pengalaman kerusuhan 1998 juga meninggalkan kesan mendalam. Saat itu, warga di lingkungan tempat tinggalnya membantu dirinya dan keluarganya menyelamatkan diri.
“Saat kerusuhan 98 saya dibantu oleh RT dan warga di RT saya untuk keluar dari tembok belakang. Saat itu kami juga membuka posko di mana kami bisa membantu banyak orang,” ujarnya.
Menurut Sumartono, setiap pengalaman memiliki pesan tersendiri.
“Setiap yang diberikan Tuhan itu ada dua hal, yaitu Tuhan ingin kita introspeksi atau Tuhan ingin meninggalkan jejak. Tujuan hidup orang adalah bahagia. Setelah saya belajar, bahagia itu sederhana. Pertama, orang harus selalu bersyukur apa yang Tuhan berikan. Yang kedua, jangan pernah berpikir jadi orang lain,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa menjadi perantara kebaikan merupakan kesempatan yang harus disyukuri.
“Kalau kita mau dipakai Tuhan untuk jadi saluran berkat-Nya, ini adalah kehendak Tuhan. Kalau kita dipercaya Tuhan jadi saluran berkat, semuanya akan dimudahkan,” ucapnya.
Kepada generasi muda, khususnya anak-anak muda Solo, Sumartono berpesan agar tidak mengukur keberhasilan hidup hanya dari materi.
“Hidup ini pertama tujuannya adalah bahagia. Kedua, sekecil apa pun karena kita sudah banyak diberi Sang Pencipta dengan segala kelebihannya, marilah kita bisa bermanfaat bagi sesama. Bermanfaat tidak harus berbagi materi atau uang, tetapi apa pun yang kita temui, pada siapa pun yang kita bisa bantu, minimal berbagi senyuman itu adalah suatu hal yang luar biasa,” tegasnya.
Febri Hapsari: Harmoni dalam Perbedaan Ciptakan Energi Positif
Sementara itu, RAy. Febri Hapsari Dipokusumo menyoroti konsep Global Harmony atau harmoni global. Menurutnya, Solo dan Jawa sebenarnya memiliki banyak konsep budaya yang tetap relevan hingga hari ini.
“Di sesi saya lebih ke Global Harmony, bagaimana mewujudkan sebuah harmonisasi dari Solo untuk dunia. Kita sebenarnya di Jawa ini, Solo kan sudah banyak konsep-konsep budaya masa lalu, bahkan tokoh-tokoh besar para leluhur,” kata Febri.
Ia menegaskan bahwa harmoni tidak identik dengan keseragaman.
“Global Harmony itu bukan berarti keseragaman, bukan sesuatu yang sama. Dengan perbedaan, dengan keragaman yang kita punya, pola-pola pikir yang berbeda, background yang berbeda, itu bagaimana kita bisa harmoni dengan sekitar kita,” jelasnya.
Menurut Febri, situasi sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga lingkungan yang fluktuatif seharusnya tidak semata dilihat sebagai ancaman.
“Di tengah kondisi yang luar biasa sekarang ini, fluktuatif baik politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan sekitar kita, ini sebenarnya memperkaya kita, mendewasakan kita bagaimana kita harus bersikap, mencari solusi, bagaimana how to handle our emotion,” ujarnya.
Ia juga menyinggung praktik meditasi yang dilakukan peserta dalam simposium.
“Bagi saya bermeditasi ini ada perbedaan dengan berdoa. Berdoa kita bicara pada Tuhan dengan agama masing-masing, lalu kita berharap beliau mendengarkan. Tapi bermeditasi ini arahnya kita diam, kita mendengarkan suara hati, yang insyaallah itu adalah suara-Nya,” katanya.
Antusiasme peserta, menurut Febri, menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap ruang-ruang refleksi.
“Ruangan ini dengan beragam komunitas, ada anak muda, ada orang dewasa, ada para senior, ada tokoh-tokoh besar, dari wali kota kemudian anak-anak sekolah. Kapasitas yang 400 membengkak sampai 600. Artinya kerinduan untuk kedamaian, kerinduan untuk persatuan, harmonisasi, kerinduan untuk berhenti, rehat sejenak, itu sangat muncul saat ini,” ungkapnya.
Febri berharap Solo dapat menjadi sumber energi positif bagi daerah lain.
“Banyak tokoh-tokoh Solo yang mendunia, yang bisa menjadikan sebuah peradaban ke depan. Dengan konsep yang Mas Wali gagas, ayo kita lebih dekat dengan semesta, dengan well-being, kemudian kita mengedepankan semangat gotong royong, toleransi, tepa selira,” katanya.
Ia juga menilai perbedaan tidak harus menjadi penghalang terciptanya harmoni.
“Kita memang tidak bisa mengharapkan semua orang sejalan dengan kita. Kita enggak bisa mengharapkan semua orang satu pemikiran dengan kita, satu bahasa dengan kita. Tapi semoga dengan pernak-pernik yang berbeda ini perlahan-lahan energi bisa bergerak untuk sebuah satu kesatuan, unity in diversity. Ini benar-benar Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Febri kemudian mengajak seluruh elemen di Solo untuk menyadari posisi penting kota ini dalam perjalanan budaya Nusantara.
“Semoga semua tokoh-tokoh yang ada di Solo, dari segala komponen, benar-benar bisa merasakan jejak Solo ini untuk peradaban dunia. Enggak main-main. Kalau Solo tidak bergerak dengan harmonis, saya dengan berat hati menyampaikan keprihatinan saya, Nusantara ini pun akan sulit harmoni,” katanya.
Menurutnya, kegiatan yang digagas keluarga besar Anand Krishna di Solo juga tidak berdiri secara kebetulan.
“Semoga yang dipersembahkan oleh teman-teman Anand Krishna ini bukan kebetulan kok memilih Solo, karena sebelum-sebelumnya kan tidak di sini dilaksanakannya. Anand Krishna dulu juga pernah bertemu dengan lingkungan Keraton. Kalau beliau sudah memulainya, ini tugas kita untuk meneruskan,” ujarnya.
Febri menambahkan, perbedaan pendapat dan konflik merupakan bagian dari dinamika kehidupan.
“Adapun perbedaan pendapat, konflik, kemudian hal-hal yang tidak selaras, biarkan itu menjadi satu bagian untuk melengkapi kehidupan ini. Harmonisasi akan tercapai ketika kita menyadari kita berbeda, tapi insyaallah kalau visi misinya sama, semua akan menuju pada titik yang sama,” katanya.
Prashant Krishna Gangtani: Perdamaian Dimulai dari Diri Sendiri
Ketua Yayasan Misi Anand Krishna, Prashant Krishna Gangtani, mengatakan pemilihan tema “Jejak Solo untuk Dunia” memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup Anand Krishna yang lahir di Solo pada 1 September 1956.
“Pesan yang kami bawa dari Guruji Anand Krishna itu kan lahir di Solo. Jadi tepat hari ini, tanggal 1 September, adalah hari kelahiran Guruji dan sejak 22 tahun lalu kita selalu merayakan Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi pada tanggal 1 September ini,” ujar Prashant.
Menurutnya, nilai dan pemikiran Anand Krishna perlu diwariskan kepada generasi muda.
“Temanya adalah Jejak Solo untuk Dunia. Jadi kita mau memberikan warisan kepada generasi muda berikutnya bahwa apa yang telah ditinggalkan oleh Guruji itu untuk kita semua sebagai visioner, dari buku-bukunya, dari latihan meditasinya, dan berbagai hal mengenai energi, communal love atau Global Harmony,” katanya.
Prashant menegaskan bahwa inti kegiatan tersebut adalah membangun kesadaran individu.
“Gol dari acaranya meningkatkan kesadaran bagi semua kalangan bahwa masalah itu bukan hanya bagian dari pemerintah, diplomat atau siapa pun. Masalah itu adalah kita harus menenangkan diri kita sendiri,” katanya.
Ketenangan individu, lanjut dia, memiliki efek berantai pada lingkungan yang lebih luas.
“Kalau kita menenangkan diri kita sendiri, kita menciptakan energi, kita bisa menenangkan keluarga, kita bisa menenangkan sebuah komunitas, dan kalau komunitas masyarakatnya begini, tercipta Global Harmony. Itu yang kita mau sampaikan,” tegasnya.
Kearifan Nusantara sebagai Bekal Manusia Modern
Simposium ini sekaligus menjadi momentum untuk menggaungkan kembali pemikiran Anand Krishna, tokoh humanis, budayawan, sekaligus penulis lebih dari 200 buku.
Selama lebih dari lima dekade, Anand Krishna konsisten menggali kebijaksanaan luhur Nusantara, mulai dari ajaran Ronggowarsito, Serat Wedhatama, hingga Kitab Nitisastra.
Pemikiran tersebut kemudian dirangkum dalam tiga praktik universal, yakni Inner Peace atau Kedamaian Diri, Communal Love atau Kepedulian Bersama, dan Global Harmony atau Harmoni Semesta.
Ketiganya berada dalam bingkai visi One Earth, One Sky, One Humankind atau Satu Bumi, Satu Langit, dan Satu Umat Manusia. Anand Krishna lahir di Solo pada 1 September 1956 dan meninggal dunia di Bogor pada 6 Februari 2025.
Dalam simposium tersebut, peserta juga diajak mengenal salah satu teknik Meditasi NSE atau Ananda’s Neo Self Empowerment rancangan Anand Krishna. Praktik tersebut menjadi jembatan antara gagasan kearifan Nusantara dengan pengalaman langsung dalam membangun ketenangan diri.
Simposium tersebut menjadi puncak peringatan Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi ke-22, yang dicanangkan Menteri Pertahanan RI periode 2004-2009, Prof. Juwono Sudarsono, setelah Simposium Kebangsaan Bhakti Bagi Ibu Pertiwi di Lemhannas Jakarta pada 1 September 2005.
Kegiatan ini tidak sekadar dirancang sebagai forum akademik satu arah, tetapi menjadi ruang refleksi dan dialog lintas disiplin. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, tepa selira, eling lan waspada, serta memayu hayuning bawana dibedah kembali agar dapat diterapkan sebagai fondasi ketahanan mental dan kepedulian sosial masyarakat abad ke-21.










