Jejak Solo untuk Dunia: Kearifan Nusantara Jadi Jawaban Hadapi Krisis Mental dan Manfaatkan AI

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), krisis kesehatan mental, perubahan iklim hingga ketidakstabilan geopolitik global, kearifan Nusantara kembali digali sebagai salah satu sumber nilai untuk membangun manusia yang lebih berkarakter, sadar diri, dan peduli terhadap sesama.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Simposium Budaya bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern” yang digelar Yayasan Anand Ashram di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Surakarta, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi puncak peringatan Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi ke-22, sekaligus momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Nusantara, seperti gotong royong, tepa selira, eling lan waspada, serta memayu hayuning bawana agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Ketua Panitia sekaligus Koordinator Anand Krishna Center Joglosemar, Iwan Susanto, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat, perubahan geopolitik, tekanan ekonomi hingga perubahan iklim membuat banyak orang mengalami tekanan psikologis.

“Dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, terutama perubahan geopolitik, ekonomi, dan perubahan iklim yang luar biasa, ini membuat dunia sekarang semua orang merasa sangat-sangat stres, sangat depresi dengan situasi,” kata Iwan.

Dari kondisi tersebut, pihaknya kemudian mencoba mencari jawaban melalui kekayaan kearifan Nusantara yang selama ini banyak digali dan dituliskan oleh Anand Krishna.

“Dari sini kita berpikir, apa sih sebetulnya solusi untuk itu semua. Dari kearifan Nusantara, sebetulnya solusi itu sudah ada. Dari peninggalan warisan sendiri yang selama ini mungkin kita lupa tentang itu semua,” ujarnya.

Menggali Kembali Warisan Leluhur

Iwan menilai masyarakat modern saat ini terlalu banyak dibombardir informasi sehingga semakin jauh dari proses refleksi terhadap diri sendiri.

“Kita semua dibombardir dengan informasi, akhirnya lupa untuk mencari apa sebetulnya yang betul dalam kehidupan ini. Nah, dengan adanya acara ini kita ingin mencari benang dari kearifan Nusantara itu sendiri,” jelasnya.

Ia menjelaskan, gagasan Anand Krishna selama puluhan tahun menggali nilai-nilai Nusantara kemudian dirangkum dalam tiga prinsip utama, yakni Inner Peace, Communal Love, dan Global Harmony.

Menurut Iwan, perdamaian dunia harus dimulai dari kemampuan seseorang menciptakan kedamaian di dalam dirinya.

“Kita semua harus memahami dan mencari inner peace, bagaimana kita meregulasi diri sendiri sehingga kita menyadari hubungan antara pikiran dan apa yang selama ini kita alami. Kita ingin mengajak semua yang ada di sini untuk jeda sejenak dari pikiran kita, menyadari napas kita, dan setelah itu merasakan ketenangan,” katanya.

Dengan pikiran yang lebih jernih, seseorang diharapkan mampu memahami dirinya sekaligus menyadari keterhubungannya dengan orang lain.

“Setelah kita menyadari siapa diri kita sesungguhnya, baru kita menyadari bahwa kita ini saling berhubungan. Dari situlah baru kita bisa berbagi dengan sesama, membentuk suatu communal love. Sebelum kita ingin membuat perdamaian di dunia, kita pilih kita sendiri,” imbuhnya.

Iwan berharap nilai tersebut kemudian berkembang menjadi global harmony atau harmoni global.

“Kualitasnya kita ini saling terhubung dan semua ini diikat dalam satu bumi, satu langit, satu kemanusiaan. Semua ajaran agama apa pun esensinya adalah bagaimana menumbuhkan kemanusiaan di dalam diri kita, meningkatkan kesadaran kita, dan bagaimana kita memaknai hidup ini menjadi lebih berguna dan harmonis,” tuturnya.

Wali Kota Respati: Budaya Bukan Sekadar Pakaian dan Pertunjukan

Wali Kota Solo Respati Ardi yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai tema simposium sangat relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat saat ini.

Menurut Respati, nilai-nilai budaya leluhur seperti gotong royong hingga memayu hayuning bawana menghadapi tantangan berupa meningkatnya egoisme dan sikap individualistis.

“Di era digital, kita selalu ingat kearifan budaya leluhur kita mengajarkan gotong royong hingga memayu hayuning bawana. Tapi pada kenyataannya hari ini kita sedang dalam tantangan egoisme, egosentris, ego sektoral dan lain-lain,” kata Respati.

Ia juga mengingatkan manusia tidak hidup sendirian, sehingga keberlangsungan lingkungan dan kehidupan makhluk lain harus menjadi bagian dari kesadaran masyarakat.

“Di bumi ini kita tidak sendiri. Kita juga harus menghormati tumbuhan, menghormati hewan dan lain-lain. Menurut saya kita sudah cukup jahat terhadap lingkungan kita dengan membiarkan hal-hal yang dipertahankan oleh manusia,” ujarnya.

Respati juga mengaitkan persoalan kesehatan mental dengan pentingnya membangun kembali hubungan sosial di tengah masyarakat.

Ia mencontohkan program Pemkot Solo yang mendorong warga kembali bersosialisasi dengan tetangga melalui semangat pager mangkok.

“Setelah ini supaya dapat bermanfaat untuk masyarakat, bisa keluar obatnya adalah bersosial, mengenal antar tetangga, pager mangkok,” ungkapnya.

Persoalan kesehatan mental, lanjut Respati, juga menjadi perhatian Pemkot Solo. Pemerintah Kota Solo telah meluncurkan Posyandu Plus sebagai salah satu upaya menangani persoalan kesehatan mental masyarakat, termasuk menyediakan ruang konsultasi gratis dengan psikolog.

“Di Solo kita luncurkan Posyandu Plus untuk menangani mental health. Kita sediakan ruang konsultasi gratis dengan psikolog,” jelasnya.

Berdasarkan layanan yang telah dilakukan, Respati menyebut dari sekitar 6.000 warga yang dilayani, sekitar 10 persen membutuhkan penanganan psikologis lanjutan.

“Hasilnya dari 6.000 warga yang kita layani, warga Solo 10 persen atau 600 itu perlu psikolog kritis lanjutan, jadi kejiwaannya perlu ada ini, perlu pengobatan jiwa,” katanya.

Respati pun mengapresiasi kontribusi Anand Krishna dalam memperkenalkan nilai-nilai luhur Nusantara melalui karya-karyanya agar dapat diterima generasi masa kini.

“Budaya tidak hanya tentang performance, budaya tidak hanya tentang karya, budaya tidak hanya tentang pakaian, tapi budaya tentang peradaban. Budaya tentang bagaimana kita mau menghormati yang lebih tua, bagaimana kita menghormati sesama. Ini yang paling penting,” tegasnya.

Ia berharap simposium tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan aksi nyata.

“Saya harapkan pada hari ini semoga semua budaya ini tidak hanya masuk ke dalam, tetapi mulai satu gagasan, kolaborasi dan tindakan,” pungkas Respati.

KGPH Dipokusumo: Peradaban Dibangun Melalui Proses Panjang

Sementara itu, KGPH Adp Panembahan Dipokusumo, M.Si., penerima Lifetime Achievement World Peace Award 2023, yang menjadi keynote speaker, menekankan pentingnya memahami proses dalam membangun peradaban.

Menurutnya, kearifan lokal yang berkembang di sekitar Solo, khususnya yang berkaitan dengan Keraton dan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, menyimpan nilai yang dapat dikembangkan untuk konteks global.

“Nilai-nilai yang ada sebagai kearifan lokal di masyarakat sekitar Solo, terutama dari Keraton, ini merupakan rangkaian dari sejarah kerajaan-kerajaan, tempat-tempat ritual spiritual yang berada di Indonesia. Semuanya ini kita rangkum sehingga apa yang menjadi harapan kita, nilai-nilai tersebut bisa bermanfaat dalam rangka globalisasi dunia,” kata Dipokusumo.

Ia menyoroti kecenderungan manusia modern yang ingin memperoleh hasil secara cepat tanpa memahami proses di balik pencapaian tersebut.

“Insan tidak memikirkan proses. Apa yang kita lihat, kita dengar sekarang semuanya sesuatu yang seolah-olah tanpa suatu proses. Padahal kita juga hidup pada proses,” ujarnya.

Menurut Dipokusumo, nilai-nilai tersebut penting untuk kembali dipahami dan diterapkan dalam kehidupan modern.

“Nilai-nilai semacam itu, menurut saya, kalau dalam bahasa Jawa ikhtiar itu benar-benar… membentuk bumi yang sudah dibentuk atau terbentuk sehingga bisa mewujudkan sesuatu yang memiliki manfaat,” tuturnya.

Ia kemudian mencontohkan Candi Borobudur sebagai salah satu bukti bahwa peradaban Nusantara dibangun melalui proses panjang dan mampu bertahan lintas generasi.

“Saya contohkan tadi mengenai misalnya Candi Borobudur. Setiap 1.000 tahun lebih itu ada suatu generasi kita membangun suatu bentuk peradaban yang sampai sekarang masih bisa dilihat, bisa dipelajari, diketahui, bahkan menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia,” katanya.

Hadirkan Perspektif AI, Psikologi hingga Budaya

Simposium tersebut dirancang sebagai ruang dialog lintas disiplin dengan menghadirkan tokoh dari berbagai bidang.

Dian Martin, Ketua Asosiasi Artificial Intelligence Indonesia, dipercaya menjadi moderator. Perspektif psikologi disampaikan oleh Rin Widya Agustin, S.Psi., M.Psi., psikolog sekaligus dosen Universitas Sebelas Maret (UNS).

Kemudian hadir Sumartono Hadinoto, Tokoh Inspiratif Kota Solo 2026 sekaligus peraih Global Business & Peace Award 2018. Ada pula RAy. Febri Hapsari Dipokusumo, S.Sos., Director Hapsari PRCC dan Past District Governor Rotary 3420, serta Assoc. Prof. Dr. Arbanía Fitriani, S.Psi., M.Si., Director Altia Group Consulting sekaligus dosen Universitas Esa Unggul.

Iwan mengatakan keterlibatan para narasumber tersebut diharapkan mampu mempertemukan perspektif teknologi, psikologi, bisnis, budaya, komunikasi dan pengembangan manusia.

“Di sini kita mengundang beberapa pembicara penting. Moderator kami Ketua Asosiasi Intelijen, dia juga sangat memahami situasi sekarang ini seperti apa. Ada dari dosen psikologi UNS yang awal mulanya meneliti tentang stres, bagaimana kearifan Nusantara itu bisa menyelesaikan solusinya,” jelas Iwan.

Ia juga menyebut dukungan dari berbagai pihak membuat kegiatan tersebut mendapat respons besar dari masyarakat.

“Ini mungkin rekor kita untuk mengadakan suatu acara yang berbagai macam kalangan hadir semua. Dari kepolisian juga hadir, PRJ juga hadir, semua jajaran pemerintah, semua dinas yang dipandang juga mengirim perwakilan dan juga dari sekolah-sekolah SMA SMP lengkap, lintas agama, budayawan semua hadir di acara ini,” katanya.

Menurut Iwan, jumlah peserta mencapai sekitar 600 orang, termasuk peserta dari luar kota.

“Yang masuk di sini 500 lebih, di luar teman-teman kita dari luar kota mungkin sekitar 100. Kalau saya lihat porsinya sudah ada enam porsi, total 600 orang. Luar biasa untuk masyarakat Solo, saya juga tidak menyangka,” ujarnya.

Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern

Simposium tersebut juga menjadi momentum untuk menggaungkan kembali pemikiran Anand Krishna, tokoh humanis, budayawan dan penulis lebih dari 200 buku yang selama lebih dari lima dekade menggali kebijaksanaan Nusantara, termasuk pemikiran Ronggowarsito, Serat Wedhatama dan Kitab Nitisastra.

Nilai-nilai tersebut kemudian dikembangkan dalam gagasan Inner Peace, Communal Love, dan Global Harmony, yang berada dalam visi One Earth, One Sky, One Humankind.

Anand Krishna merupakan putra Solo yang lahir pada 1 September 1956 dan meninggal dunia di Bogor pada 6 Februari 2025.

Selain diskusi, peserta simposium juga diajak mengenal salah satu teknik meditasi Ananda’s Neo Self Empowerment (NSE) yang dirancang Anand Krishna. Meditasi tersebut diarahkan sebagai salah satu pendekatan untuk membantu peserta melakukan refleksi diri dan membangun ketenangan.

Rangkaian kegiatan sebelumnya juga telah dimulai sejak Minggu (30/8/2026) melalui kegiatan yang mengajak peserta menelusuri sejumlah lokasi yang memiliki keterkaitan dengan inspirasi dan kearifan Nusantara, termasuk Candi Sukuh dan Candi Ceto.

Bagi penyelenggara, Solo bukan hanya menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan, tetapi juga bagian penting dari pesan yang ingin dibawa ke tingkat nasional maupun global.

Pesan besarnya sederhana yakni menghadapi dunia yang semakin cepat, manusia justru perlu kembali memperlambat diri, mengenali siapa dirinya, membangun kepedulian terhadap sesama, dan menjaga keseimbangan dengan alam. Dari Solo, kearifan Nusantara diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi menjadi nilai hidup bagi manusia modern dan kontribusi Indonesia bagi dunia.