SOLO, MettaNEWS — Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, meluncurkan buku perdananya berjudul “The Untold Story Astrid Widayani” yang digelar di Solo Square Mall, Minggu (26/4/2026).
Peluncuran buku ini menjadi momentum penting dalam memperkenalkan gagasan, perjalanan hidup, serta refleksi kepemimpinan perempuan di ruang publik.
Peluncuran buku tersebut mengusung tema “Merayakan Perjalanan Astrid Widayani: Bertumbuh, Berkarya, Berdampak”. Tak sekadar seremoni, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum.
Dalam bukunya, Astrid mengisahkan perjalanan personalnya yang dimulai dari dunia akademik hingga akhirnya mengemban amanah sebagai Wakil Wali Kota Surakarta. Astrid menuturkan, perjalanan tersebut berangkat dari kegelisahan sederhana tentang kecintaan terhadap kota yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pengabdian nyata.
“Dulu saya seorang rektor, dengan ruang kelas yang dibatasi dinding. Hari ini, ruang kelas saya adalah seluruh kota,” ujar Astrid dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti.
“Saya belajar dari masyarakat, dari dinamika kota, dari setiap persoalan yang hadir,” tukasnya.
Buku “The Untold Story” tidak disusun sebagai profil formal, melainkan potret utuh perjalanan personal yang jujur dan reflektif.
Astrid mengungkapkan berbagai keputusan besar dalam hidupnya, termasuk saat meninggalkan jabatan sebagai rektor untuk terjun ke dunia politik hingga proses adaptasi dalam menjalankan peran di pemerintahan.
Ia juga mengangkat sisi yang jarang terlihat oleh publik, terutama pergulatannya sebagai perempuan dalam menyeimbangkan peran sebagai ibu dan pejabat publik.
“Di balik jabatan, saya tetap seorang ibu. Menjaga keseimbangan itu tidak mudah, tapi di situlah saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal keputusan, tapi juga empati,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kisah pribadi, buku ini menjadi wujud kecintaan Astrid terhadap Kota Solo. Ia menilai, setiap langkah yang diambil merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi baru bagi kota dengan menghidupkan kembali semangat “Solo: The Spirit of Java”.
“Solo adalah rumah yang saya cintai. Apa yang saya lakukan hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang untuk menghadirkan energi baru bagi kota ini,” tuturnya.
Peluncuran buku ini turut dihadiri sejumlah tokoh perempuan dan perwakilan organisasi masyarakat. Di antaranya hadir Wali Kota Solo Respati Ardi di dampingi Ketua TP PKK Kota Surakarta Venesa, sambutan melalui online oleh Istri Wagub Jateng Nawal Arafah Yasin, yang memberikan dukungan atas karya sekaligus gagasan yang diusung Astrid. Beberapa tokoh masyarakat seperti Ketua Umum PMS Sumartono Hadinoto, Ketua PWI Surakarta Anas Syahirul, Ketua BPPD Surakarta Retno Wulandari dan jajaran perangkat daerah dan sahabat, mitra dan rekan Astrid.
Selain menjadi ajang peluncuran karya, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan literasi masyarakat. Kehadiran buku ini dinilai memperkuat citra Pemerintah Kota Surakarta sebagai institusi yang terbuka terhadap gagasan dan pengembangan intelektual.
Astrid berharap, kisah dalam “The Untold Story” dapat menjadi inspirasi, khususnya bagi perempuan dan generasi muda, untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman serta mengambil peran lebih luas dalam ruang pengabdian.
Dalam refleksi pribadinya, Astrid mengungkapkan bahwa perjalanan hidupnya tidak pernah direncanakan secara kaku. Semua berawal dari kegelisahan sederhana yang kemudian berkembang menjadi panggilan untuk berkontribusi lebih luas.
“Aku tak pernah benar-benar merencanakan jalan ini, dari ruang kelas yang akrab hingga tanggung jawab yang jauh lebih luas di luar sana. Semua berawal dari kegelisahan sederhana. Bagaimana jika cintaku pada kota ini bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang lebih nyata?” ungkapnya.
Ia menambahkan, perjalanan tersebut mengajarkannya bahwa pengabdian bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang konsistensi menjaga nilai dan keberanian melangkah di tengah ketidakpastian.
“Perjalanan ini mengajarkanku bahwa pengabdian bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang bertahan di tengah ragu, menjaga nilai di tengah arus, dan berani melangkah meski tak selalu pasti. Jika ada satu hal yang kupahami, menjadi diri sendiri adalah cara paling jujur untuk tetap berdiri dan terus berjalan,” paparnya.
Melalui buku ini, Astrid mempersembahkan kisahnya bagi perempuan yang ingin membawa perubahan dalam hidup. Ia mengajak untuk memulai dari diri sendiri sebagai langkah awal menuju kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Maka, buku ini adalah persembahanku bagi semua perempuan yang ingin membawa perubahan dalam hidup dan memulainya dari diri sendiri. Lewat buku ini saya juga menyampaikan terima kasih pada diri sendiri yang sudah bertahan hingga sejauh ini,” pungkasnya.







