Wawali Astrid Ajak Warga Perbanyak Ruang Perjumpaan Lintas Agama dan Budaya di Solo

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengajak masyarakat memperbanyak ruang perjumpaan lintas agama dan budaya sebagai upaya menjaga kerukunan di Kota Solo.

Ajakan tersebut disampaikan Astrid saat menghadiri kegiatan Sambung Rasa, Dialog Keagamaan dan Pentas Seni Budaya Paroki St. Petrus Purwosari Surakarta 2026, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan yang digagas Tim Pelayanan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Paroki St. Petrus Purwosari tersebut mengangkat tema “Tanah Air Ada di Sini, Dimana Ada Cinta dan Kedekatan Hati”.

Hadir dalam kegiatan itu Pastor Paroki St. Petrus Purwosari Romo Agustinus Widyo Raharjo, MSF, tokoh agama dan kepercayaan, tokoh masyarakat, seniman, serta budayawan.

Astrid mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Sambung Rasa bukan sekadar agenda pertemuan, tetapi menjadi ruang untuk membangun komunikasi sekaligus memperluas persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.

“Sambung Rasa bukan sekadar sebuah acara, tetapi merupakan ruang untuk mempertemukan hati, membangun komunikasi, memperluas persaudaraan, serta merawat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Kota Surakarta,” kata Astrid.

Ia menilai tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut memiliki makna kuat mengenai bagaimana masyarakat memaknai tanah air. Menurut Astrid, Indonesia tidak hanya hadir melalui tempat tinggal, tetapi juga melalui kepedulian dan kemauan untuk hidup bersama dalam keberagaman.

“Ketika kita mampu membuka hati, menghargai perbedaan, dan saling membantu, sesungguhnya di situlah kita menghadirkan Indonesia,” ujarnya.

Astrid mengatakan Surakarta tumbuh dari keberagaman agama, kepercayaan, suku, budaya, komunitas, hingga tradisi. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu dirawat melalui kemauan untuk saling memahami dan menghormati.

“Kerukunan tidak lahir karena kita selalu memiliki kesamaan, tetapi karena kita memiliki kemauan untuk saling memahami dan menghormati di tengah perbedaan,” katanya.

Menurut Astrid, dialog lintas agama menjadi salah satu sarana untuk membuka ruang perjumpaan antarmasyarakat. Melalui pertemuan tersebut, masyarakat dapat saling mengenal, menghilangkan prasangka, serta membangun kepercayaan.

Selain dialog keagamaan, pentas seni dan budaya juga dinilai menjadi medium yang efektif untuk mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana yang lebih cair.

“Keberagaman bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan kekuatan yang dapat kita nikmati dan kembangkan bersama,” tutur Astrid.

Libatkan Seluruh Elemen Masyarakat

Astrid menegaskan, menjaga kerukunan bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Menurutnya, diperlukan keterlibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, komunitas, generasi muda, seniman, budayawan, dan seluruh warga.

“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kerukunan. Diperlukan peran seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan Surakarta yang aman, damai, inklusif, dan penuh kepedulian,” jelasnya.

Khusus kepada generasi muda, Astrid berpesan agar ruang digital dan media sosial dimanfaatkan untuk memperkuat persaudaraan lintas agama dan budaya.

“Mari gunakan ruang digital untuk menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, persahabatan, dan persatuan,” pesannya.

Ia berharap kegiatan Sambung Rasa tidak berhenti sebagai sebuah pertemuan, tetapi dapat dilanjutkan melalui kerja sama dan kegiatan nyata di tengah masyarakat.

“Mari kita memperbanyak ruang untuk bertemu, berdialog, bergotong royong, berkesenian, dan bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat,” pungkas Astrid.