UTP Support Mahasiswa Difabel untuk Kuliah Hingga Jenjang S2

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP) telah menerima mahasiswa difabel atau berkebutuhan khusus sejak tahun 2022.

Meskipun belum 100% sebagai kampus yang ramah difabel, UTP Surakarta khususnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) terus berbenah. Saat ini  FKIP UTP memiliki 14 mahasiswa difabel untuk prodi S1 PKO dan S2 Penjas.

Mahasiswa difabel UTP mayoritas merupakan atlet nasional. Yang prestasinya sudah tidak diragukan lagi hingga kancah internasional.

Dekan FKIP Dr. Joko Sulistyono, M.Pd mengatakan bahwa mahasiswa difabel UTP yang sekaligus atlet ini mayoritas statusnya sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Yang bernaungnya di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Seluruh mahasiswa difabel UTP tersebut menjadi PNS dari jalur prestasi. Sehingga butuh kenaikan pangkat dengan mengambil kuliah S1.

“Jadi para atlet ini harus kuliah untuk memenuhi jenjang karir kepangkatan. Mereka menjadi PNS dari jalur prestasi dan dengan persyaratan lain ijazah minimal SLTA / SMA dengan usia dibawah 35 tahun. Mereka kan golongannya masih 2A,” jelas Joko.

Joko menuturkan, untuk peningkatan golongan terutama ke golongan 3 itu bisa mereka tempuh melalui pendidikan. Yaitu kuliah S1 dan lebih khusus lagi di kepelatihan olahraga.

“Untuk kenaikan pangkatnya secara regular lama. Dan kebetulan ini jabatan fungsionalnya juga sampai sekarang belum clear. Sehingga kuliah di UTP mengambil jenjang S1 khususnya di kepelatihan olahraga merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan karir. Terutama meningkatkan golongannya dari golongan 2 ke golongan 3,” ujar Joko.

Joko mengungkapkan, orang dengan kebutuhan khusus juga perlu akan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Meskipun saat ini telah banyak kampus-kampus di Indonesia khususnya di wilayah Solo Raya sendiri yang menerima mahasiswa difabel. Proses belajar mengajar dan lingkungan fisik kampus sudah tertata sedemikian rupa. Dan nyaman agar mahasiswa difabel juga bisa melaksanakan pembelajaran di kampus dengan baik.

“Mulai dari sarana prasarana untuk belajar. Fasilitas khusus seperti toilet, ruang kelas yang mendukung aksesibilitas yang perlu kami optimalkan untuk mewujudkan kampus yang ramah difabel tak terkecuali UTP Surakarta,” ungkapnya.

Lebih lanjut Joko menjelaskan sistem perkuliahan di UTP khusus untuk mahasiswa difabel melalui 2 jalur. Yakni secara luring maupun daring karena sistem perkuliahan ini juga menyesuaikan dengan kegiatan para atlet NPC yang harus menjalani latihan yang padat.

“Untuk perkuliahan kami terapkan secara khusus, jadi kuliahnya kalau secara luring tatap muka itu memang di wacanakan Sabtu dan Minggu. Lalu juga ada wacana untuk kuliah online juga. Para atlet kan banyak kesibukan terutama masa-masa Pelatnas. Mereka harus latihan dari Senin pagi sampai Sabtu pagi, tapi kita tetap harus memberikan perkuliahan bagi mereka”, imbuhnya.

Joko berharap dengan adanya atlet-atlet NPC yang masuk ke UTP bisa memberi motivasi kepada atlet-atlet lainnya baik difabel maupun non difabel. Joko melihat atlet saat ini bak public figure dimana bisa menjadi teladan bagi masyarakat maupun juniornya sesama atlet untuk berkuliah, bahkan bisa mengajak teman-temannya atau pengikutnya untuk berkuliah di UTP.

“Jadi menurut saya dengan masuknya teman-teman atlet NPC di UTP ini, saya punya keyakinan bahwa nantinya akan memberikan motivasi bagi atlet-atlet lain. Yang statusnya pegawai negeri juga dan tidak hanya atlet difabel tapi juga non difabel dari berbagai cabang olahraga lainnya,” tandasnya.

Joko mencontohkan salah satu mahasiswa UTP Ratri, atlet para badminton juara Paralimpic di Tokyo. Meski dirinya mahsiswa S2 Penjas UTP tapi bisa menarik junior-juniornya di NPC.

“Bahkan harapannya yang nondifabel juga. Dengan masuknya Ratri di UTP bisa memotivasi atlet-atlet lain juga,” harap Joko.

Soal pembiayaan Joko mengatakan memang tidak ada beasiswa khusus untuk atlet NPC, Joko menyampaikan bahwa kelonggaran yang diberikan untuk atlet NPC ini adalah jadwal dan system perkuliahan.

“Untuk perkuliahan di UTP sendiri, khususnya para atlet NPC ini memang tidak kita berikan beasiswa. Karena kalau kita berikan beasiswa prestasi atlet-atlet ini prestasinya sudah internasional. Kami rasa mereka membayar sendiripun tidak keberatan. Jadi kita memberikan kelonggaran untuk kuliahnya yaitu pas weekend dan bisa online,” jelas Joko.

Selain itu Joko juga mengatakan bahwa mahasiswa di FKIP khususnya prodi PKO saat ini, tidak hanya mahasiswa difabel yang atlet saja yang masuk ke UTP. Melainkan ada tenaga pendukung di pelatnas juga kuliah di UTP.