Usai Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Katno Hadi Dorong Pariwisata Terintegrasi untuk Dongkrak Ekonomi Soloraya

oleh
oleh
Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Prof Dr H Katno Hadi SE, MM, MH saat tiba di Bandara Adi Soemarmo, Solo, Minggu (9/8), usai dikukuhkan sebagai guru besar di Asean University International, Malaysia. (foto dokumentasi)

SOLO, MettaNEWS – Baru saja dikukuhkan sebagai guru besar bidang ekonomi pariwisata, Prof. Dr. H. Katno Hadi, SE, MM, MH, langsung menyiapkan agenda untuk mengembangkan ekonomi dan bisnis di wilayah Solo Raya.

Ketua Umum Senkom Mitra Polri tersebut tidak ingin gelar profesor yang diraihnya hanya menjadi pencapaian akademik. Ia berkomitmen mengembangkan riset, bisnis, serta pemberdayaan masyarakat agar memberikan manfaat nyata bagi daerah.

Katno Hadi dikukuhkan sebagai guru besar di Asean University International, Malaysia, pada 4 Agustus 2026. Sepulang dari Malaysia, ia menegaskan gelar akademik tertinggi tersebut justru membawa tanggung jawab yang lebih besar.

“Gelar itu harus bermanfaat. Tanggung jawabnya semakin berat, tetapi bagaimana kita menjalankannya,” ujar Katno Hadi saat tiba di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Boyolali, Minggu (9/8/2026).

Sebagai dosen senior, ia menyadari tanggung jawab akademiknya kini semakin luas. Selain mengajar dan membimbing mahasiswa, ia dituntut aktif melakukan penelitian, menghasilkan publikasi ilmiah, serta menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

Di sisi lain, pengalaman sebagai pengusaha juga ingin ia integrasikan dengan dunia akademik. Katno Hadi dikenal mengelola sejumlah usaha, antara lain D’Lawu Bistro, Mountain Cottage, D’Gondangrejo Resto & Resort, serta menjadi founder pabrik semen instan Mortar Merapi.

Salah satu fokus yang ingin dikembangkan Katno adalah potensi ekonomi Soloraya melalui konsep integrated tourism atau pariwisata terintegrasi.

Gagasan tersebut tidak terlepas dari riset yang pernah dilakukannya saat menempuh pendidikan doktoral di Universitas Borobudur Jakarta. Saat itu, ia meneliti perkembangan pariwisata di kawasan Solo Raya di tengah pandemi Covid-19.

Menurut Katno, Soloraya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi satu ekosistem pariwisata yang saling terhubung.

Konsep tersebut tidak hanya mengandalkan satu destinasi, tetapi mengintegrasikan berbagai sektor pendukung, mulai dari UMKM, hotel, wisata edukasi, kuliner, pusat oleh-oleh, hingga destinasi budaya dan alam.

“Potensi bisnis di Soloraya yang masih sangat bisa dikembangkan itu pariwisata. Konsepnya bagaimana wisata itu dibangun secara terintegrasi, di situ ada UMKM, hotel, wisata edukasi dan sektor pendukung lainnya,” katanya.

Katno menilai salah satu persoalan yang masih dihadapi Soloraya adalah konektivitas antardestinasi yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Wisatawan yang datang ke Solo dapat menikmati wisata budaya dan kuliner. Namun, ketika ingin melanjutkan perjalanan ke Tawangmangu, Kemuning, atau destinasi lain di wilayah Soloraya, wisatawan masih harus mengatur perjalanan secara terpisah.

Padahal, jika berbagai destinasi tersebut dikemas dalam satu paket perjalanan, perputaran ekonomi yang dihasilkan dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan masyarakat.

Katno menggambarkan konsep wisata terintegrasi dengan menghubungkan sejumlah destinasi unggulan.

Misalnya, wisatawan dapat mengawali perjalanan dari Keraton Surakarta, kemudian melanjutkan ke kawasan Tawangmangu dan Grojokan Sewu, menikmati panorama perkebunan teh Kemuning, mencicipi kuliner khas daerah, hingga berbelanja oleh-oleh.

“Sekarang masih putus-putus. Orang datang ke Solo, wisata budayanya bagus, kulinernya bagus. Tetapi ketika mau ke pegunungan, harus mencari sendiri. Ini yang belum terkoneksi dengan baik,” ujarnya.

Menurut dia, konsep tersebut dapat memberikan efek ekonomi yang lebih luas karena wisatawan tidak hanya menghabiskan waktu di satu lokasi.

Semakin lama wisatawan tinggal dan semakin banyak destinasi yang dikunjungi, semakin besar pula peluang UMKM, penginapan, restoran, transportasi, pusat oleh-oleh, hingga pelaku ekonomi kreatif memperoleh manfaat.

Katno menegaskan, pengembangan integrated tourism tidak dapat dilakukan oleh pelaku usaha secara sendiri-sendiri.

Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, swasta, pelaku pariwisata, UMKM, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pemerintah, menurut dia, memiliki peran penting dalam menyiapkan kebijakan dan konektivitas, sedangkan pelaku usaha dapat mengembangkan berbagai produk dan layanan yang mendukung ekosistem wisata.

“Butuh sentuhan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem ekonomi yang terintegrasi dengan para pelaku bisnis, pariwisata dan stakeholder lainnya yang memiliki perhatian di bidang ekonomi dan bisnis,” papar Katno.

Dengan pengalaman di dunia akademik dan bisnis, Katno berharap konsep pariwisata terintegrasi dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat ekonomi Soloraya.

Menurutnya, kekuatan pariwisata tidak hanya terletak pada destinasi, tetapi juga pada kemampuan menghubungkan berbagai potensi menjadi satu pengalaman perjalanan yang utuh.

Jika konektivitas tersebut dapat diwujudkan, Soloraya tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga dapat berkembang sebagai ekosistem ekonomi yang menghidupkan UMKM, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.