SOLO, MettaNEWS – Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta angkatan 2026 menghadirkan kegiatan kreatif bertajuk Deadline Street di basement Gedung Perpustakaan ISI Surakarta, Kampus FSRD Mojosongo, Rabu (28/10/2026).
Mengusung konsep kreativitas dan ekspresi diri dengan sentuhan horor, kegiatan ini memadukan sejumlah aktivitas menarik, mulai dari pameran ilustrasi, pesta kostum bertema Halloween, permainan board game, hingga pertunjukan musik.
Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut menjadi pengalaman pertama bagi mahasiswa DKV angkatan 2026 dalam menyelenggarakan sebuah acara secara mandiri di lingkungan kampus.
Salah satu daya tarik Deadline Street adalah pameran 20 karya ilustrasi bertema horor berukuran A3. Karya-karya tersebut mengangkat gagasan bahwa kreativitas dapat tumbuh ketika seseorang berani mencoba ide-ide baru yang belum pernah diwujudkan sebelumnya.
Suasana semakin meriah dengan pesta kostum bernuansa Halloween. Sebanyak 17 mahasiswa mengenakan berbagai kostum yang terinspirasi dari karakter hantu dan dunia horor. Pengunjung juga dapat menikmati permainan board game serta pertunjukan musik yang melengkapi rangkaian acara.
Ketua Pelaksana Deadline Street, Agathaningtyas Rizkaalaina Putri Astari, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya, tetapi juga wadah bagi mahasiswa baru untuk belajar mengembangkan kreativitas dan pengalaman berorganisasi.
Menurut Agatha, acara ini memiliki filosofi tersendiri yang menggambarkan kreativitas sebagai sesuatu yang terkadang tidak terlihat, tetapi dapat muncul ketika seseorang berani mencoba dan mengeksplorasi gagasan baru.
Ia mengungkapkan, tujuan kegiatan tersebut selain menjadi event pertama mahasiswa DKV angkatan 2026, juga ingin menunjukkan bahwa kreativitas dapat hadir melalui keberanian untuk mencoba sesuatu yang berbeda.
Agatha berharap Deadline Street dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa baru, baik dalam bidang desain maupun kemampuan bekerja sama.
“Semoga event ini menjadi wadah belajar bagi mahasiswa baru, bukan hanya soal desain, tetapi juga kerja sama dan tanggung jawab dalam mengelola sebuah kegiatan,” ujarnya.
Sementara itu, dosen pembimbing kegiatan, Alfiandi Eka Kusuma, menilai penyelenggaraan Deadline Street menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan bekerja sama dalam mengelola sebuah kegiatan di lingkungan kampus.
Menurutnya, kegiatan berskala kecil seperti ini penting sebagai tahap awal sebelum mahasiswa nantinya terlibat dalam penyelenggaraan acara yang lebih kompleks dan berskala besar.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat belajar membagi tanggung jawab, membangun komunikasi, menyusun konsep acara, hingga memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana.
Alfiandi berharap pengalaman tersebut menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan manajerial sekaligus kreativitas di dunia seni dan desain.
Kehadiran Deadline Street menjadi bukti bahwa mahasiswa baru tidak hanya dituntut mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan desain, tetapi juga perlu memiliki keberanian bereksperimen, berkolaborasi, serta mewujudkan gagasan kreatif menjadi sebuah karya dan kegiatan nyata.








