SOLO, MettaNEWS – Kota Surakarta kembali mendapat kepercayaan sebagai lokasi percontohan program internasional pengelolaan sampah sungai. UNDP Indonesia bersama Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia di Indonesia dan organisasi lingkungan Clean Rivers memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta untuk mencegah kebocoran sampah plastik dari daratan menuju sungai dan laut.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dalam mengatasi pencemaran sampah plastik melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Berbagai inisiatif dikembangkan, mulai dari pengurangan sampah, penguatan bank sampah, pembangunan Material Recovery Facility (MRF), pemasangan penghalang sampah di sungai (river trash boom), hingga edukasi masyarakat guna mendukung ekonomi sirkular.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Indonesia menghasilkan sekitar 56,63 juta ton sampah pada 2023, dengan 19,16 persen di antaranya merupakan sampah plastik. Namun, hanya 39,01 persen yang berhasil dikelola dengan baik, sedangkan sisanya masih berpotensi mencemari sungai dan badan air lainnya.
Sebagai bagian dari program tersebut, UNDP Indonesia menggelar Sosialisasi Program GRADASI untuk Kampung Wisata di Balai Kelurahan Laweyan, Surakarta. Kegiatan itu juga menjadi ajang peluncuran Lomba Kotak Donasi Batik GRADASI yang pemenangnya diumumkan saat kunjungan donor dari Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia dan Clean Rivers pada 31 Juli hingga 4 Agustus 2026 di Surabaya dan Surakarta.
Solo Dipilih Karena Potensi Dampaknya Besar
National Project Manager UNDP Indonesia, Ahmad Bahri Rambe, mengatakan persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, kolaborasi pemerintah, masyarakat, organisasi internasional, dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan program.
“Permasalahan sampah akan bisa kita selesaikan apabila dilakukan secara bersama-sama. Menurut data UNDP, sekitar 400 juta ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun di dunia dan sekitar 10 hingga 11 persen berakhir di lautan. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 0,2 hingga 0,6 juta ton sampah plastik yang masuk ke laut setiap tahun, dan sebagian besar berasal dari daratan melalui sungai,” bebernya.
Ahmad menjelaskan, program yang dijalankan tidak hanya berfokus mengambil sampah yang telah masuk ke sungai, tetapi juga membangun fasilitas pengelolaan sampah serta meningkatkan edukasi masyarakat agar mampu mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Ia mengungkapkan, setelah Surabaya dan Solo, program serupa akan diperluas ke sejumlah daerah lain seperti Sidoarjo, Bali, dan Bekasi.
“Solo dipilih karena berdasarkan hasil riset, sebagian besar sampah plastik yang mencemari laut berasal dari sungai-sungai di Pulau Jawa. Intervensi di wilayah ini sangat strategis. Indonesia juga masih berada dalam lima besar negara penyumbang sampah plastik ke laut, sehingga tantangannya memang sangat besar,” katanya.
Wali Kota Respati: Sungai Harus Menjadi Halaman Depan Kota
Wali Kota Surakarta Respati Ardi menegaskan, keberhasilan menjaga kebersihan sungai sangat bergantung pada perubahan pola pikir masyarakat. Menurutnya, pendidikan sejak usia dini menjadi langkah penting untuk membangun budaya peduli lingkungan.
“Yang paling penting adalah kesadaran masyarakat. Kita mulai dari sektor pendidikan sejak dini agar terbentuk kebiasaan dan kepedulian terhadap pengelolaan sampah,” kata Respati.
Ia menilai kondisi sungai mencerminkan wajah sebuah kota. Karena itu, paradigma lama yang menjadikan sungai sebagai “halaman belakang” harus diubah.
“Sungai adalah representasi dari warga dan kotanya. Kalau melihat kondisi sungainya, itulah wajah kota. Sudah saatnya sungai bukan lagi menjadi halaman belakang, tetapi menjadi halaman depan kota,” tegasnya.
Respati menyatakan Pemerintah Kota Surakarta membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam pengelolaan lingkungan.
“Kami siap bekerja sama dengan pemerintah, organisasi, maupun masyarakat. Mungkin secara politik berbicara soal sampah tidak selalu populer, tetapi kami sepakat tidak akan mewariskan lingkungan yang buruk kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Erwin Tri Nugroho, mengatakan kunjungan perwakilan UNDP, Clean Rivers, dan Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia ke Solo merupakan bagian dari proses memastikan kesiapan Kota Solo dalam menjalankan program pengelolaan sampah sungai secara berkelanjutan.
Menurutnya, sebelum menentukan bentuk intervensi, tim internasional tersebut ingin melihat secara langsung komitmen Pemerintah Kota Surakarta serta memahami tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah.
“Mereka ingin diyakinkan bahwa Pemerintah Kota Solo benar-benar serius menangani persoalan sampah. Karena itu mereka sudah bertemu Pak Wali Kota, berdiskusi dengan kami di Dinas Lingkungan Hidup, lalu kami jelaskan berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi Kota Solo serta langkah-langkah yang sedang kami lakukan,” papar Erwin.
Ia menjelaskan, rombongan donor juga diajak mengunjungi sejumlah lokasi, termasuk kawasan Laweyan, untuk melihat secara langsung kondisi di lapangan sekaligus memastikan bahwa program yang akan dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Dari hasil kunjungan itu mereka menyampaikan bahwa program yang dipilih memang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan di Solo. Tidak hanya memasang teknologi sederhana seperti trash boom, tetapi yang lebih penting adalah memberikan edukasi untuk mengubah perilaku, kebiasaan, dan pola pikir masyarakat terhadap sampah dan sungai,” katanya.
Erwin menegaskan, inti dari program tersebut adalah membangun kesadaran bahwa sampah yang dibuang sembarangan ke sungai tidak hanya menjadi masalah lokal, tetapi dapat mencemari wilayah lain hingga akhirnya bermuara ke laut.
“Kami ingin masyarakat memiliki pemahaman baru bahwa mengelola sampah harus dimulai dari diri sendiri. Sampah yang dibuang ke sungai di Solo bisa saja terbawa hingga ke laut dan menjadi persoalan global. Karena itu perubahan perilaku menjadi fokus utama program ini,” jelasnya.
Selain edukasi, program juga akan memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya melalui pendekatan berbasis masyarakat. Warga didorong mengenali potensi yang dimiliki di lingkungannya, mulai dari keberadaan kader peduli lingkungan, lahan yang dapat dimanfaatkan, hingga solusi yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing kelurahan.
“Pendekatannya bukan datang membawa solusi dari luar, tetapi menggali apa yang dimiliki masyarakat dan bagaimana mereka sendiri menemukan solusi terbaik. Kami juga akan memperkuat rumah maggot, pemilahan sampah, pengolahan sampah secara mandiri maupun komunal, serta melibatkan sektor informal seperti para relawan dan pemulung agar ekonomi sirkular bisa tumbuh di tingkat RT,” ungkapnya.
Menurut Erwin, keberhasilan program nantinya tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil diangkat dari sungai, tetapi justru dari semakin berkurangnya volume sampah yang tertangkap oleh trash boom.
“Kalau tonase sampah yang tertangkap terus menurun, itu berarti edukasi yang dilakukan berhasil dan masyarakat sudah mulai berubah perilakunya. Itulah indikator keberhasilan yang ingin kami capai,” katanya.
Ia menambahkan, Kota Solo dipilih karena memiliki komitmen kuat dalam penanganan sampah, termasuk di anak-anak sungai yang bermuara ke Bengawan Solo. Program ini diharapkan menjadi percepatan upaya pengelolaan sampah yang selama ini telah dijalankan Pemerintah Kota Surakarta melalui kolaborasi dengan UNDP, Clean Rivers, perguruan tinggi, mitra lokal, serta berbagai elemen masyarakat.
“Dengan dukungan program ini, kami berharap terjadi akselerasi penanganan sampah secara terintegrasi. Bukan hanya mengurangi beban TPA Putri Cempo, tetapi juga menumbuhkan ekonomi sirkular di lingkungan masyarakat sehingga pengelolaan sampah benar-benar memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian sungai,” pungkas Erwin.
Clean Rivers Apresiasi Budaya Gotong Royong Solo
Associate Director Programmes and Impact Clean Rivers, Reinier van der Lely, mengatakan organisasinya telah menjalankan program kebersihan sungai di berbagai negara, termasuk Filipina dan Indonesia. Dari hasil kajian yang dilakukan bersama UNDP, Solo dinilai menjadi kota yang tepat untuk pengembangan program.
“Kami memilih Solo karena melihat seluruh upaya yang dilakukan di kota ini berlandaskan budaya dan gotong royong. Kami mengunjungi kampung-kampung, melihat aktivitas masyarakat, termasuk sentra batik, dan menyaksikan bagaimana masyarakat bekerja bersama dengan dukungan pemerintah kota maupun pemerintah pusat,” ujarnya.
Menurut Reinier, setiap kota memiliki karakteristik berbeda sehingga pendekatan pengelolaan sampah tidak bisa disamaratakan.
“Kami bekerja sama dengan para ahli dan organisasi masyarakat sipil untuk melakukan asesmen. Dari hasil asesmen itulah dipilih teknologi yang paling sesuai dengan kondisi Solo. Pendekatan di Solo tentu berbeda dengan Surabaya maupun kota lainnya,” jelasnya.
Selain memberikan dukungan pendanaan, Clean Rivers juga menghadirkan para ahli dan membuka ruang berbagi praktik terbaik antarwilayah agar keberhasilan suatu daerah dapat direplikasi di kota lain.
“Kami percaya pertukaran pengetahuan sangat penting. Setiap daerah memiliki pengalaman berharga yang bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik,” pungkas Reinier.








