UMS Kukuhkan Dua Guru Besar, Soroti Inovasi Beton Ramah Lingkungan dan Kesehatan Mental di Era Digital

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) akan mengukuhkan dua guru besar baru pada Kamis (19/6/25) sebagai bagian dari komitmen kampus dalam mendorong kemajuan keilmuan yang berdampak pada masyarakat.

Keduanya adalah Prof. Dr. Eny Purwandari, S.Psi., M.Si. dari Fakultas Psikologi dan Prof. Ir. Mochamad Solikin, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik.

Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (18/6/2025), keduanya memaparkan gagasan dan perjalanan riset mereka. Prof. Eny Purwandari menyoroti pentingnya literasi dan dukungan terhadap kesehatan mental, terutama di tengah era disrupsi digital yang kian kompleks.

“Tekanan hidup, perubahan sosial, dan arus teknologi telah menciptakan tantangan baru. Sayangnya, banyak individu yang memendam tekanan tersebut tanpa dukungan yang memadai,” ujar Prof. Eny.

Ia menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan hanya isu individu, tetapi juga cerminan dari tekanan sistemik dan lemahnya dukungan psikososial.

Mengutip WHO, ia menyebut satu dari delapan orang di dunia mengalami gangguan mental. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat 9,8% penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan emosional.

“Di sinilah pentingnya dukungan dari keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga komunitas,” imbuhnya.

Penelitiannya selama dua dekade terakhir banyak menyoroti isu adiksi, bullying, dan penyalahgunaan NAPZA. Ia menyebut penggunaan gawai secara tidak terkontrol sejak usia dini bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak.

“Sekarang handphone sering dijadikan alat agar anak tenang. Padahal, itu bisa menimbulkan dampak jangka panjang,” ujar Prof. Eny.

Untuk menjawab tantangan tersebut, UMS kini mengembangkan layanan Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS), sebagai platform konseling dan psikoedukasi daring bagi mahasiswa.

“Ini bagian dari upaya kampus menyambut era tele-mental health,” kata Prof. Eny.

Sementara itu, Prof. Mochamad Solikin memperkenalkan inovasinya dalam pengembangan beton ramah lingkungan melalui pemanfaatan fly ash—limbah pembakaran batu bara dari PLTU—sebagai pengganti sebagian besar semen.

“Beton adalah material konstruksi paling banyak digunakan di dunia. Namun, industri semen menyumbang sekitar 7% emisi CO₂ global. Di sinilah pentingnya inovasi yang lebih lestari,” ungkap Prof. Solikin.

Penelitiannya sejak 2004 menunjukkan bahwa high volume fly ash concrete (HVFA) mampu menggantikan hingga 50% volume semen dengan abu batu bara, yang tak hanya ramah lingkungan tapi juga meningkatkan workability beton. Komposisi tersebut cocok digunakan untuk Self Compacting Concrete (SCC)—beton yang memadat sendiri tanpa alat getar.

Bersama timnya di Pusat Studi Rekayasa Struktur UMS, ia telah mengembangkan berbagai produk berbasis beton ringan seperti mortar SCC dengan styrofoam, panel dinding berongga hingga 3,2 meter, dan pelat berlubang (half slab) sepanjang 2,9 meter, yang sebagian telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.

Lebih jauh, Prof. Solikin memaparkan konsep integrasi teknologi digital ke dalam konstruksi masa depan, seperti sensor tertanam dalam beton yang dapat mendeteksi berat dan kecepatan kendaraan secara real-time.

“Hal ini akan sangat membantu dalam peningkatan efisiensi dan keamanan infrastruktur,” katanya.

Pengukuhan guru besar ke.60 dan 61 ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga penegasan kontribusi akademik UMS dalam menjawab tantangan zaman.