SOLO, MettaNEWS – Akademi Seni Mangkunegaran Surakarta (ASGA) untuk pertama kalinya menggelar ujian pendalaman secara terbuka di Pendapa Prangwedanan, Minggu (27/3/2022) malam. Biasanya, ujian digelar di sanggar. Bahkan selama pandemi Covid-19, ujian terpaksa digelar secara online.
Menampilkan Tari Bondoboyo, Tari Retno Pamudyo, Tari Srikandhi Cakil, Tari Gambyong Pareanom dan Tari Mondrorini, tarian ini dibawakan oleh mahasiswa D3 Program Studi Seni Pertunjukan dan Protokoler angakatan 2017, 2018 dan 2019.
Kepala Bagian Akademi Kemahasiswaan ASGA, Suprapto menjelaskan pada ujian pedalaman tari tradisi tersebut tidak hanya tari yang berasal dari Mangkunegaran, melainkan terdapat tari di luar Mangkunegaran yang juga dipersembahkan dalam acara ini.
Dalam ujian tari tersebut terdapat tari Mangkunegaran yaitu Tari Gambyong dan Bondoboyo. Sedangkan tari di luar Mangkunegaran yang juga msih dalam lingkup tari tradisi budaya Surakarta di antaranya adalah Tari Retno Pamudyo dan Tari Srikandhi Cakil.
Ujian ini sebagai salah satu syarat untuk menempuh tugas akhir. Sebelum mahasiswa menempuh tugas akhirnya, mereka (mahasiswa) harus menyajikan ini baik protokoler, karawitan, pedalangan yang wajib. Jadi mahasiswa tari pun tidakhanya mendalami tari saja melainkan karawitan yang didalamnya menabuh dan nyinden, pedalangan dan protokoler juga,” tutur Suprapto saat ditemui usai acara.

Suprapto menuturkan dalam ujian tersebut terdapat mahasiswa pedalangan yang belum menyajikan tari karena terkendala waktu. Tari Bondodoyo dan Tari Gambyong disajikan oleh 2 kelompok per masing-masing jenis tari. Sedangkan Tari Retno Pamudyo disajikan oleh satu kelompok mahasiswa.
Tidak hanya mahasiswa saja yang ikut dalam pertunjukan tari, Suprapto menyebut terdapat alumni yang juga menampilakan Tari Serimpi untuk mensiasati waktu yang ada.
“Selama ini ASGA belum pernah menampilkan ujian tugas akhir yang ditampilkan di depan umum. Karena ada perubahan struktural dibagian akademik kemahasiswaan mencoba untuk menawarkan ke mahasiswa untuk tes mental mereka. Selama menjadi mahasiswa kan nggak pernah tampil dan pentas di Pendapanya ASGA,” sebutnya.
Suprapto menjelaskan, untuk mahasiswa dibawah tingkat untuk waktu selanjutnya juga akan melewati ujian yang sama. Setelahnya, mahasiswa yang sudah mengikuti serangkaian ujian akan terjun ke lapangan atau mengikuti praktek kerja lapangan (PKL). Dalam ujian pedalaman tersebut terhitung berat karena apabila tidak lolos maka para mahasiswa harus mengulang kembali.
Ujian pedalaman dilakukan setiap pertengahan semester, dengan terlebih dahulu menawarkan kepada mahasiswa berdasarkan indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3.5 pada semester genap maupun ganjil. Untuk mempercepat studi mahasiswa dapat mengambil 3 mata kuliah diatas tingkatnya bagi yang mendapatkan IPK 3.5.
Sistem perkuliahan ASGA menerapkan 50 banding 50 yaitu, 50% di kampus dan 50% nya lagi di luar kampus. Di masa PKL, mahasiswa dapat terjun ke sejumlah sanggar seni seperti wayang orang RRI, wayang orang Sriwedari dan disejumlah sanggar lainnya.
Dalam pertunjukkan tersebut juga terdapat gabungan acara workshop yang dipresentasikan dalam ujian pedalaman. Sebelumnya ujian tersebut direncanakan untuk digelar selama 2 hari yakni ujian protokoler akan diadakan sebelum Minggu (27/3). Hal ini menyebabkan ujian pedalaman tersebut berlangsung lama.

Para peserta yang mengikuti ujian merupakan mahasiswa yang mengikuti kuliah percepatan setiap Sabtu. Dalam tingakatan ujian, Suprapto menyebut ujian pedalangan dan protokoler merupakan ujian tersulit karena terdapat instrumen khusus dibeberapa bab seperti rebab, kendang dan gender yang harus dikuasai. Selain itu para mahasiswa juga harus meyajikan satu tari tradisi lain dan satu tradisi tari Mangkunegaran.
Suprapto menjelaskan, para mahasiswa ASGA dibentuk untuk menjadi pelaku seni yang tidak hanya dapat menampilkan skill seninya di Mangkunegaran. Ia menyebut pihaknya berencana akan merubah istilah kuliah kerja nyata (KKN) di ASGAS menjadi kolaborasi.
“Setelah lulus, para mahasiswa akan menjadi pelaku seni. Sehingga kami membentuk mereka mampu bekerja melalui skill yang mereka miliki. Kami ingin membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki pengalaman di kampus saja. Jadi nantinya mereka siap untuk terjuan ke dunia pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki,” tambahnya.
Secara keseluruhan, dalam pertunjukkan tersebut dilihat dari segi kualitas memiliki kelayakan dibeberapa penyaji. Selain itu, dalam menentukan lulus atau tidaknya sajian tari para peserta, ia juga akan mempertimbangkan waktu yang dimiliki disetiap angakatannya. Sehingga nantinya para peserta akan mengikuti tahap penyisihan dengan mempertimbangkan berbagai penilaian.











