SOLO, MettaNEWS – Euforia fans Manchester United di musim panas 2025 seketika sirna hanya dalam hitungan pekan. Skuad asuhan Ruben Amorim yang sempat digadang “sangar” dengan menjuarai tiga trofi pramusim, seperti Defining Education Challenge Cup di Hong Kong, Premier League Summer Series di Amerika Serikat, dan Snapdragon Cup di Old Trafford, nyatanya melempem ketika musim resmi dimulai.
Terjerembab di Awal Musim, Tiga Laga Awal Tanpa Kemenangan
Alih-alih bangkit dari keterpurukan musim lalu, Setan Merah justru kembali masuk ke pusaran krisis. Dalam tiga laga awal musim 2025/2026, United sama sekali belum meraih kemenangan.
Mereka kalah 0-1 dari Arsenal, bermain seri 1-1 dengan Fulham, dan yang paling memalukan, tersingkir di putaran kedua Carabao Cup usai kalah adu penalti 11-12 dari Grimsby Town, klub divisi empat dengan market value lebih rendah dibanding Persis Solo.
Hasil tersebut menjadi noda sejarah bagi Manchester United. Padahal, sepanjang catatan pertemuan dengan tim divisi empat, United selalu keluar sebagai pemenang.
Namun, rekor itu runtuh di Blundell Park, markas Grimsby, meski sempat memaksa laga berakhir imbang 2-2 lewat gol Bryan Mbeumo dan sundulan Harry Maguire.
Kekalahan ini memperlihatkan rapuhnya fondasi tim.
Onana kembali disorot karena blunder, Sesko gagal membuktikan harga selangitnya, sementara Cunha dan Mbeumo menjadi biang kerok tersingkirnya United usai gagal mengeksekusi penalti.
Statistik Buruk Ruben Amorim
Situasi makin diperburuk oleh catatan statistik Amorim. Dari 45 pertandingan sejak ia mengambil alih kursi manajer, United hanya mampu menang 17 kali, imbang 9 kali, dan menelan 19 kekalahan. Catatan itu tercatat sebagai salah satu yang terburuk sejak pensiunnya Sir Alex Ferguson.
Formasi 3-4-3 yang dipaksakan Amorim juga menuai kritik keras karena dianggap tidak sesuai dengan karakter pemain yang tersedia. Tak heran, nyanyian satir “You’re getting sacked in the morning” dari fans Grimsby mencerminkan rasa frustasi yang kini juga dialami fans United.
Dari mimpi kebangkitan setelah tiga trofi pramusim, Manchester United kini justru menghadapi kenyataan pahit, meski musim resmi baru berjalan, tapi kekecewaan sudah menumpuk.
Bagi manchunian, hal ini seakan menegaskan satu hal, pramusim hanyalah fatamorgana, sementara kompetisi sebenarnya menunjukkan betapa jauh United dari kata siap untuk kembali ke papan atas.
Mimpi kebangkitan masih jauh dari kenyataan dan mimpi buruk yang tak kunjung usai kembali menghantui Old Trafford. (Mohamad Adib Rifai/KMM Sastra Indonesia FIB UNS)







