Tokoh Masyarakat Solo Sumartono Hadinoto Imbau Warga Jaga Kondusivitas, Ingatkan Kerugian Bersama Kerusuhan 1998

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Tokoh masyarakat Kota Solo Sumartono Hadinoto angkat bicara terkait aksi anarkisme massa yang terjadi pada Jumat (29/8/2025) malam hingga Sabtu (30/8/2025) dini hari.

Insiden tersebut berujung pada perusakan fasilitas umum dan pembakaran kantor Setwan DPRD Kota Surakarta. Martono  mengimbau seluruh warga agar tetap menjaga kondusivitas dan tidak terprovokasi, sehingga peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Sumartono menyuarakan keprihatinan dan menegaskan bahwa kerusuhan tidak boleh dibiarkan meluas, sebab dampaknya dapat menghancurkan kehidupan sosial dan ekonomi warga.

“Ya tentu kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Solo malam tadi. Semoga ini menjadi yang terakhir, tidak semakin melebar seperti tragedi Mei 1998. Saya mengajak masyarakat Kota Solo, baik yang lahir di Solo maupun yang bekerja di Solo, untuk sama-sama menjaga kondusivitas kembali. Bersama Pemerintah Kota, bersama TNI dan Polri, mari kita jaga. Karena kalau sudah terlanjur seperti dulu, kita semua yang susah. Dan susahnya tidak sehari dua hari,” ujar Sumartono, Sabtu (30/8/2025).

Menurutnya, aksi anarkisme hanya akan memperburuk keadaan, terutama bagi masyarakat kecil. Kerugian terbesar bukan hanya soal gedung atau fasilitas umum yang rusak, melainkan juga hilangnya pekerjaan dan runtuhnya roda perekonomian.

“Kalau aksi ini meluas, dampaknya sangat luas. Bisa saja tempat kerja menjadi sasaran, lalu pekerja kehilangan pekerjaan. Ekonomi yang sedang sulit bisa makin terpuruk, dan kita akan menghadapi pengangguran lebih besar. Mereka yang melakukan anarkisme ini tidak memikirkan dampak jangka panjang. Karena itu kita, wong Solo, harus segera tanggap, segera sigap. Jangan biarkan Solo terjerumus ke kerusuhan,” tegasnya.

Sebagai saksi hidup tragedi 1998, Sumartono mengingatkan bahwa pemulihan Solo pascakerusuhan kala itu membutuhkan waktu puluhan tahun. Trauma masih membekas hingga kini, bahkan investor sempat lama enggan masuk ke Solo.

“Recovery Solo itu puluhan tahun. Dulu investor tidak berani masuk. Dampaknya luas sekali. Sampai sekarang, trauma itu masih ada. Saya masih menerima banyak telepon dari luar kota yang menanyakan bagaimana kondisi Solo. Mereka khawatir dengan apa yang terjadi. Jadi mari wong Solo berkontribusi nyata menjaga kota ini tetap damai,” ungkapnya.

Dengan ajakan ini, Sumartono berharap seluruh masyarakat Solo dapat merapatkan barisan.

“Mari bergandengan tangan, dan bersama-sama menjaga kota tetap kondusif demi keberlangsungan hidup bersama,” pungkasnya.