Tinjau Talut Kali Anyar yang Longsor, Gibran Akan Tertibkan Bangunan di Bantaran Sungai

oleh
Longsor
Longsor di kampung Nayu Barat, RT 02 RW 13 Kelurahan Nusukan, Banjarsari pada Senin (09/5) | Humas Pemkot Solo

SOLO, MettaNEWS – Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, meninjau lokasi longsor di kampung Nayu Barat, RT 02 RW 13 Kelurahan Nusukan, Banjarsari pada Senin (09/5). Longsor ini terjadi karena ambrolnya talut Kali Anyar yang diakibatkan adanya hujan lebat yang mengguyur Solo pada Minggu (7/5) kemarin. Akibat hujan lebat ini, bantaran sungai tergerus dan mengakibatkan satu rumah warga longsor.

Dalam peninjauan tersebut Gibran didampingi Kepala BPBD Solo. Gibran mengungkapkan, terdapat beberapa rumah yang ada di bantaran sungai di Solo yang terdampak bencana akan dicarikan solusi.

“Kita koordinasikan ke BPBD ya, yang penting tidak ada korban. Lalu tadi ada beberapa rumah yang ada di pinggiran sungai, itu kan nanti kita carikan solusi ya, pokoknya untuk yang terdampak banjir, longsor, puting beliung, kebakaran nanti kita tangani,” ucap Gibran saat peninjauan, Senin (9/5/2022).

Dalam tinjauannya, Gibran juga berpesan kepada masyarakat untuk tidak mendirikan bangunan di bantaran sungai dikarenakan memiliki risiko yang tinggi. Pemkot Solo akan melakukan penertiban bangunan di sepanjang bantaran sungai sebagai Langkah antisipasi bencana.

“Penertiban harus dilakukan karena risiko yang tinggi. Harus ada penataan di bantaran sungai.” pungkasnya.

Sementara menurut keterangan pemilik rumah, Tri Martono (64), rumah tersebut mengalami longsor sekitar pukul 16.00 WIB sore. Rumah yang dihuni oleh dua keluarga bersama anaknya ini nampak porak poranda akibat longsor. Longsor yang juga akibat ambrolnya Talut Kali Anyar saat hujan deras ini membuat kamar dalam rumah Tri masuk ke dalam sungai. Tidak ada korban jiwa saat longsor ini terjadi, hal ini karena anggota keluarga Tri termasuk anaknya tidak berada di rumah, yakni sedang mudik ke Semarang.

“Kemarin kan hujan lebat, sungai Anyar itu besar sekali (arus). Yang di Kadipiro itu juga besar, airnya jadi pusaran. Sempet denger suara ambrol, goncangannya kan keras sekali,” ucap Tri.

Bukan kali pertama terjadi, kejadian ini sudah terjadi sejak empat tahun yang lalu. Menurut Tri, kondisi talut ini pada dasarnya sudah mengalami kerusakan sejak beberapa waktu yang lalu. Dalam kondisi memprihatinkan, talut ini sudah mulai keropos hingga akhirnya saat hujan deras melanda, talut tidak sanggup menahan derasnya arus air kemudian ambrol dan longsor.

“Saya memang memantau dengan teman-teman,karena pondasinya sudah hancur dari bawah. Kalau dari atas kelihatannya aman saja,” tembahnya.

Hujan selama satu setengah jam, membuat posisi rumah yang hanya berjarak satu meter dengan talut akhirnya ambrol. Warga pun juga mendengar suara gemuruh saat terjadinya longsor ini. Khawatir longsor akan kembali terjadi saat hujan deras, Tri pun berharap agar talut tersebut dapat segera diperbaiki.

“Karena saya sudah lapor ke pihak pemerintahan sudah empat tahun. Saat ini ya semoga segera diperbaiki,” pungkasnya.