SOLO, MettaNEWS – Tenis meja Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) bersiap bangkit kembali atau reborn setelah pernah menjadi salah satu kekuatan olahraga yang diperhitungkan di Kota Solo.
Momentum kebangkitan atau reborn tersebut muncul saat audiensi Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Jawa Tengah ke PMS, Sabtu (12/9/2026).
Ketua Umum Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Jawa Tenga, Brigjen Pol (Purn) Lukas Ary Dwiko Utomo diterima langsung Ketua Umum PMS Sumartono Hadinoto, didampingi jajaran pengurus dan pengawas PMS.
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan membangun sinergi pembinaan tenis meja, tidak hanya di Kota Surakarta tetapi juga di Jawa Tengah.
Ketua Umum PMS Suartono mengatakan, olahraga selama ini menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian serius dari PMS. Sejumlah cabang olahraga yang dibina bahkan telah menorehkan prestasi di tingkat lokal, nasional hingga internasional.
Empat cabang olahraga unggulan PMS yakni bulutangkis, wushu, taekwondo, dan angkat besi.
“PMS memiliki sejarah panjang dalam pembinaan olahraga. Untuk tenis meja, kami ingin mengembalikan kejayaan yang pernah diraih. Karena itu, saat ini kami melakukan pembenahan dari berbagai lini, mulai dari sarana dan prasarana, pelatih, pembinaan atlet, sampai dengan sistem pendampingannya,” ujar Martono.
Menurutnya, tenis meja PMS pernah mengalami masa kejayaan dan menjadi salah satu kekuatan olahraga yang cukup diperhitungkan, khususnya sekitar 2005.
Kini, PMS ingin menghidupkan kembali tradisi tersebut melalui pembenahan infrastruktur dan gedung latihan, peningkatan kualitas pelatih, pembinaan atlet, hingga penguatan manajemen pendampingan.
Martono menegaskan, proses reborn tidak bisa dilakukan sendiri. Dukungan dan sinergi dengan berbagai pihak diperlukan agar pembinaan dapat berjalan konsisten dan menghasilkan atlet berprestasi.
Lukas: PMS Bisa Jadi Contoh
Brigjen Pol (Purn) Lukas Ary Dwiko Utomo mengapresiasi langkah PMS yang memilih melakukan pembinaan olahraga secara mandiri.
Menurut Lukas, semangat PMS dalam membangun kembali tenis meja, termasuk memberikan pendampingan kepada atlet, layak menjadi contoh bagi cabang olahraga maupun PTMSI di daerah lain.
“Saya melihat PMS memiliki semangat yang luar biasa untuk membangun kembali tenis meja. Apa yang dilakukan PMS dalam melakukan pembenahan secara mandiri, termasuk pendampingan kepada atlet, harus bisa menjadi contoh bagi cabang olahraga lain,” kata Lukas.
Ia memastikan PTMSI Jawa Tengah akan memberikan dukungan terhadap upaya PMS mengembalikan prestasi tenis meja.
“PTMSI Jawa Tengah akan terus mendukung PMS, khususnya dalam pengembangan dan pembinaan tenis meja. Kita ingin tenis meja PMS kembali memiliki prestasi dan menjadi salah satu kekuatan tenis meja di Jawa Tengah,” tegasnya.
Lukas menilai kekuatan pembinaan olahraga di Jawa Tengah harus dibangun dari daerah. PTMSI tingkat provinsi tidak mungkin bekerja sendiri tanpa dukungan 35 PTMSI kabupaten/kota.
“Kemandirian PMS dalam melakukan pembinaan dan pendampingan atlet harus bisa dicontoh oleh cabor-cabor lain dan juga PTMSI di daerah. Kita memiliki 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Masing-masing harus mampu membangun kekuatan dan potensi yang ada di wilayahnya,” ujarnya.
Dorong Kolaborasi dengan Pemerintah hingga BUMD
Selain penguatan organisasi, Lukas mendorong PTMSI di daerah aktif membangun kolaborasi dengan berbagai stakeholder.
Menurut dia, pembinaan atlet tidak cukup hanya mengandalkan organisasi olahraga. Pemerintah daerah, dunia usaha, BUMD, komunitas, masyarakat, hingga pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap olahraga perlu dilibatkan.
“PTMSI harus mampu berkolaborasi dengan stakeholder di wilayah masing-masing. Potensi yang ada harus dipetakan, kemudian dibangun sinerginya. Kalau semua bergerak bersama, pembinaan atlet akan lebih kuat dan berkelanjutan,” ungkap Lukas.
Dalam lingkup Jawa Tengah, ia juga berharap terjadi sinergi antar-BUMD untuk mendukung program pembangunan dan olahraga yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi.
“Kita berharap ada sinergi antar-BUMD di Jawa Tengah untuk mendukung program-program Gubernur Ahmad Luthfi. Olahraga merupakan salah satu bidang yang bisa menjadi ruang kolaborasi. Dengan sinergi yang baik, kita bisa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekaligus membangun prestasi olahraga Jawa Tengah,” jelasnya.
PTMSI Solo: Klub Makin Berkembang
Dukungan terhadap gerakan reborn tenis meja PMS juga disampaikan Ketua Umum PTMSI Kota Surakarta Antonius Sulistyo Wibowo.
Antonius menyambut baik sinergi antara PTMSI Jawa Tengah, PTMSI Kota Surakarta, dan PMS. Menurutnya, perkembangan klub-klub tenis meja di Solo menjadi sinyal positif karena semakin banyak ruang bagi generasi muda untuk berlatih.
Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada PMS yang bergerak murni di bidang sosial tanpa mencari keuntungan komersial. Menurut Antonius, keberadaan PMS memberikan dukungan penting bagi pembinaan olahraga di tengah klub-klub yang umumnya harus mengandalkan anggaran mandiri.
Untuk mendukung pembinaan di tingkat kota, PTMSI Kota Surakarta selama ini mengoptimalkan dana stimulan dari KONI yang disalurkan dalam tiga termin atau setiap empat bulan.
Dana tersebut antara lain digunakan untuk mengirim atlet mengikuti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), menggelar event atau turnamen lokal, membeli perlengkapan atlet, serta memberikan bantuan peralatan kepada Perkumpulan Tenis Meja (PTM) di Solo yang telah memiliki SK resmi kepengurusan.
PMS Siapkan Pusat Latihan di Depan RRI
Langkah konkret kebangkitan tenis meja PMS juga mulai disiapkan. PMS berencana menyediakan ruang pemusatan latihan baru yang berada di depan gedung RRI Surakarta.
Untuk menjalankan program tersebut, tiga orang perwakilan PMS telah ditunjuk untuk mengelola dan mengatur jalannya pemusatan latihan.
Fasilitas tersebut diharapkan menjadi salah satu titik penting dalam membangun kembali sistem pembinaan atlet tenis meja PMS sekaligus memperkuat ekosistem tenis meja di Kota Surakarta.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Anas, pemerhati olahraga tenis meja yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama JTAB Perseroda.
Kehadiran Anas diharapkan turut membuka jejaring dan peluang kolaborasi baru dalam pengembangan tenis meja di Surakarta dan Jawa Tengah.
Sinergi PTMSI Jateng, PTMSI Kota Surakarta, PMS, serta stakeholder lainnya diharapkan tidak berhenti pada pertemuan semata. Gerakan reborn tenis meja PMS diarahkan menjadi langkah nyata untuk membangun sistem pembinaan berkelanjutan dan melahirkan atlet-atlet baru yang mampu berprestasi dari tingkat daerah, nasional hingga internasional.
Kebangkitan tenis meja PMS pun diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama memperkuat ekosistem tenis meja Jawa Tengah melalui kemandirian organisasi, pembinaan berkelanjutan, pendampingan atlet, dan kolaborasi lintas stakeholder.








