BULLS SOC Fun Run di Solo Tak Sekadar Lari, Ganjar Pranowo Apresiasi Kesadaran Warga Solo soal Sampah

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS– Sekitar 500 peserta memadati kegiatan BULLS SOC Fun Run di CFD Slamet Riyadi Kota Solo, Minggu (13/9/2026). Mengusung konsep lari santai, kegiatan tersebut tak sekadar mengajak masyarakat berolahraga, tetapi juga memadukan kepedulian lingkungan, seni budaya lokal, hingga ruang diskusi bagi anak muda.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan sejumlah komunitas lari itu mengambil titik start dan finish di Diamond Resto, Jalan Slamet Riyadi, Surakarta. Para peserta menempuh jarak sekitar 5 kilometer dengan pace 7-8 melalui kawasan Car Free Day (CFD) Slamet Riyadi, Kampung Batik Kauman, Baron, Penumping, DKT, kemudian kembali ke Diamond Resto.

Founder BULLS S.O.C, Dhading Baskoro Wibowo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi antarkomunitas, khususnya komunitas yang memiliki perhatian terhadap olahraga lari.

“Jadi hari ini BULLS S.O.C berkolaborasi dengan beberapa komunitas lari, ada Runspiration, Nona Runners, Wanita Bergerak, Sparko dan masih banyak yang lainnya. Kegiatan ini adalah bagian dari upaya bagaimana dari BULLS S.O.C untuk bisa berkegiatan bersama, terutama kepada teman-teman yang konsennya pada olahraga lari,” kata Dhading.

Namun, menurut Dhading, kegiatan tersebut sengaja dirancang tidak hanya sebagai ajang olahraga.

Ia menggandeng Migunani Wastebank untuk memasukkan pesan kepedulian lingkungan dalam kegiatan tersebut. Para peserta diajak menyadari bahwa aktivitas olahraga juga dapat menjadi sarana untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan.

“Acara ini tidak hanya terkait bagaimana kita mengadakan acara lari saja, tetapi memang di dalam acara ini kami melibatkan beberapa pihak, salah satunya dari komunitas yang peduli dengan lingkungan yaitu Migunani Wastebank yang memang sudah melakukan ini jauh-jauh hari,” ujarnya.

Dhading mengatakan, pesan yang ingin disampaikan adalah masyarakat tidak cukup hanya menjaga kesehatan dengan berolahraga, tetapi juga harus memperhatikan lingkungan di sekitarnya.

“Kita tidak hanya sekadar berlari saja, tetapi kita harus peduli dengan lingkungan kita. Kita mulai memperhatikan apa yang ada di sekitar kita dan kita harus bisa memanfaatkan sesuatu dari yang tadinya tidak terpakai menjadi hal yang bermanfaat,” jelasnya.

Lari Sambil Menikmati Budaya Solo

Konsep kegiatan juga sengaja memasukkan unsur budaya lokal. Para pelari melewati Kampung Batik Kauman dan mendapatkan sambutan berupa pertunjukan tari serta sajian minuman herbal Seroja.

Minuman tersebut merupakan racikan dari serai, rosella, dan jahe yang disajikan sebagai penyegar bagi peserta.

Dhading mengatakan, kolaborasi dengan Kampung Batik Kauman merupakan bagian dari upaya ikut melestarikan warisan budaya Solo.

“Kami teman-teman yang tergabung dalam kegiatan ini tentunya juga bagaimana kita bisa melestarikan warisan budaya. Yaitu dengan cara kita berkolaborasi dengan Kampung Batik Kauman,” katanya.

Menurut dia, peserta sangat menikmati suasana lari yang berbeda karena tidak hanya melewati jalan raya, tetapi juga bersentuhan langsung dengan kehidupan dan budaya masyarakat.

“Para pelari tadi sangat menikmati sekali suasana di Car Free Day, suasana culture budaya yang ada di Kampung Batik Kauman,” ungkap Dhading.

Selain pertunjukan budaya, kegiatan tersebut juga menghadirkan sesi diskusi interaktif bersama tokoh masyarakat Ganjar Pranowo dan para pelari. Diskusi mengangkat empat tema utama, yakni seni dan budaya, kesehatan mental, lingkungan hidup, serta peran anak muda.

Ganjar: Sehat Dapat, Kesadaran soal Sampah Juga Tumbuh

Tokoh masyarakat Ganjar Pranowo mengapresiasi konsep kegiatan yang menurutnya berhasil menggabungkan olahraga dengan kepedulian sosial dan lingkungan.

Menurut Ganjar, kegiatan BULLS SOC tersebut memiliki nilai lebih karena masyarakat tidak hanya diajak berolahraga, tetapi juga berdiskusi dan membicarakan persoalan sampah.

“Kegiatan hari ini menarik. Ada olahraganya, ada diskusinya dan yang ketiga dari masyarakat bertanya soal sampah. Maka tidak hanya sekadar event olahraga dari BULLS SOC, tapi melibatkan partisipasi masyarakat. Sehatnya dapat, tapi awareness masyarakat soal sampah surprise buat saya,” kata Ganjar.

Ia menilai keterlibatan masyarakat dalam membahas persoalan sampah menunjukkan mulai tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan.

“Artinya mereka punya kesadaran yang cukup bagus. Dan BULLS S.O.C akan bisa membuat acara-acara berikutnya karena surprise berikutnya tadi dia punya binaan kampung-kampung yang mengelola sampah. Maka mesti ditularkan agar menjadi habit hidup bersih sehat,” ujarnya.

Ganjar berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi dapat terus dilaksanakan dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan.

“Ini adalah salah satu kegiatan yang harapannya ke depan terus bisa dilakukan, dilestarikan. Kita tidak hanya bicara bagaimana kita membuat kegiatan, tapi bagaimana caranya kegiatan yang kita lakukan ini memberikan manfaat tentunya untuk lingkungan sekitar, terutama soal sampah,” tuturnya.

Ganjar menekankan persoalan sampah hampir selalu ditemukan di berbagai daerah. Karena itu, perubahan harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu.

“Bagaimana kita menyadari dan mengubah mindset kita bahwa persoalan-persoalan sampah di mana-mana hampir sama. Tapi yang perlu ditekankan adalah kesadaran, kesadaran dari kita semua. Bagaimana kita mulai dari diri kita sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan, kepedulian terhadap lingkungan harus dibangun dari kesadaran pribadi sebelum berkembang menjadi gerakan bersama.

“Bagaimana kita menggugah kesadaran kita sendiri agar apa? Agar kepedulian itu ditimbulkan dan dimunculkan dari diri kita sendiri. Jadi ini bukan sekadar hanya kita bikin kegiatan, tapi bagaimana kegiatan ini memberikan dampak positif serta manfaat khususnya untuk masyarakat,” katanya.

Libatkan Enam Komunitas Lari

Panitia Fun Run, Petrus Restanto Wibowo , mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk mempererat hubungan antarkomunitas sekaligus mengangkat kearifan lokal Kota Solo.

“Kolaborasi ini diselenggarakan untuk mempererat tali silaturahmi antar-komunitas pegiat olahraga lari sekaligus mengangkat kearifan lokal Kota Solo,” ujar Petrus.

Kegiatan tersebut melibatkan sedikitnya enam komunitas lari, yakni RUNSPIRATION, Wanita Bergerak, Nona Runner, Sparko, RFI (Runner’s Federation Indonesia), dan Diamond Runner.

Penggiat lari dari RUNSPIRATION, Koh Yus, juga menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai inisiatif kolaborasi antarkomunitas penting untuk menjadikan olahraga sebagai ruang berinovasi dan berkreasi bagi generasi muda.

Ganjar dan Atikoh Jadi Role Model

Kehadiran Ganjar Pranowo bersama Siti Atikoh juga menjadi perhatian peserta. Dhading menegaskan kehadiran keduanya tidak ditempatkan dalam konteks simbol politik, tetapi sebagai figur yang dapat memberikan inspirasi mengenai gaya hidup aktif.

“Ini bukan tentang bagaimana kita menunjukkan simbol politik. Tapi Ganjar dan Bu Atikoh hari ini adalah role model ketika beliau sudah memasuki usia yang tidak mudah lagi tetapi masih mempunyai semangat dan jiwa muda yang notabene bisa ditularkan kepada teman-teman,” ujar Dhading.

Menurutnya, semangat tersebut relevan dengan pesan kegiatan yang ingin mendorong anak muda lebih banyak melakukan aktivitas positif di tengah tingginya penggunaan gawai.

“Kami mempunyai semangat yang sama, kita melakukan hal-hal positif yang anak-anak muda harus bisa dilakukan. Jadi ini menurut saya adalah pesan yang bagus yang bisa kita implementasikan di dalam kehidupan sehari-hari dan tentunya dalam hari ini anak-anak muda yang mohon maaf sudah banyak sekali dikuasai oleh gadget,” katanya.

Peserta Tembus 500 Orang

Dhading menyebut jumlah peserta lari mencapai sekitar 300 orang. Jumlah tersebut bertambah dengan peserta kegiatan Zumba yang mencapai sekitar 100 orang, sehingga total partisipan diperkirakan berada di kisaran 450 hingga 500 orang.

“Total peserta hari ini tadi kurang lebih sekitar 300 orang, ditambah dengan Zumba yang kami hitung tadi sekitar 100-an, jadi total pesertanya sekitar 450 sampai 500,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, konsep fun run sengaja dipilih agar peserta dapat menikmati perjalanan, bukan sekadar mengejar kecepatan atau catatan waktu.

“Kami mengambil konsep di mana betul-betul fun run. Menikmati perjalanan ketika mulai start berlari, tadi juga kita memasuki area Car Free Day, ditambah ada kereta yang sedang melintas, kemudian kita juga memasuki Kampung Budaya, Kampung Wisata Batik Kauman,” jelas Dhading.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena olahraga, budaya, dan kehidupan masyarakat dapat dirasakan secara bersamaan.

“Ini meninggalkan pesan yang baik dan pesan yang bagus bagi teman-teman para pelari dan mereka saya rasa sangat menikmati,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Surakarta, di antaranya FX Hadi Rudyatmo, Teguh Prakosa, Budi Prasetyo, dan Anna Budiarti, serta Siti Atikoh sebagai tamu undangan.

BULLS S.O.C berharap kolaborasi dengan komunitas lari dan berbagai elemen masyarakat tersebut dapat terus berkembang. Olahraga diharapkan bukan hanya menjadi sarana menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan, melestarikan budaya lokal, serta mendorong generasi muda lebih aktif dan kreatif.