SOLO, MettaNEWS – Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) menutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-94 dengan Eksibisi Karawitan Gamelan bertajuk “Nguri-uri Budaya Jawi” di Gedung Pertemuan PMS Surakarta, Sabtu (15/8/2026).
Tidak sekadar menjadi pertunjukan gamelan, kegiatan tersebut menjadi momentum PMS untuk kembali menghidupkan aktivitas gamelan sekaligus memperkuat pelestarian budaya Jawa. Eksibisi juga menunjukkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan PMS di Kota Solo.
Suasana semakin meriah ketika Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani turut tampil dalam kolaborasi bersama Gamelan PMS dan Yang Khim PMS. Astrid juga berkolaborasi dengan seniman karawitan Endah Laras dengan menyumbangkan suaranya dalam acara tersebut.
Ketua Umum PMS Sumartono Hadinoto mengatakan eksibisi gamelan menjadi acara penutup dari rangkaian peringatan HUT ke-94 PMS. Sebelumnya, PMS telah menggelar donor darah pada 11 Juli, seminar scale up mengenai regulasi, izin, kepatuhan dan pajak pada 22 Juli, serta cooking demo pada 25 Juli 2026.
“Hari ini kami merupakan rangkaian terakhir dari acara-acara ulang tahun yang ke-94 PMS, Perkumpulan Masyarakat Surakarta,” kata Sumartono.
Menurutnya, pemilihan kegiatan seni budaya sebagai acara penutup tidak terlepas dari sejarah panjang PMS yang pernah aktif dalam pelestarian budaya Jawa.
Sumartono mengungkapkan, PMS pada masa lalu memiliki kelompok wayang orang panggung amatir yang berhasil meraih juara lima kali berturut-turut dalam sebuah kejuaraan. Bahkan, Piala Ibu Tien Soeharto yang menjadi piala bergilir hingga kini masih tersimpan di PMS.
“Melihat situasi perkembangan saat ini kami PMS sudah berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta dan beberapa pihak, para seniman dan para pengrawit, kami ingin menghidupkan kembali budaya Jawa, nguuri-nguri atau melestarikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui festival. Menurutnya, karawitan mengajarkan nilai kebersamaan dan harmoni yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Karawitan merupakan sebuah kebersamaan, sebuah harmoni yang perlu kita lestarikan karena ini merupakan buah kekayaan bangsa. Dan saya selalu ingat bahwa bangsa yang tidak mengenal budaya sendiri adalah bangsa yang tidak besar,” tegas Sumartono.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal dari berbagai agenda budaya PMS pada masa mendatang. PMS bahkan berencana tidak hanya menggelar festival, tetapi juga kejuaraan untuk mendorong generasi muda kembali mencintai seni budaya Jawa.
“Kami berharap nanti setiap tahun PMS bisa ikut ambil bagian, ikut berkontribusi sekecil apapun menyelenggarakan event yang bernuansa budaya Jawa,” katanya.

Gamelan PMS Kembali Diaktifkan
Penanggung Jawab Eksibisi Gamelan PMS dan Pemkot Surakarta, Iwan Jasmoro, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengaktifkan kembali gamelan milik PMS yang memiliki sejarah panjang.
“Eksibisi Gamelan ini merupakan salah satu rangkaian acara ulang tahun PMS yang ke-94. Mengapa ini dipilih sebagai acara penutup karena kebetulan PMS memiliki gamelan dengan riwayat atau history yang panjang terkait dengan akulturasi budaya di Kota Solo antara budaya Tionghoa dan budaya Jawa,” jelas Iwan.
Ia mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir gamelan PMS tidak aktif. Pengurus PMS kemudian memiliki keinginan untuk kembali menghidupkan gamelan tersebut dan mengembangkan aktivitas seni budaya seperti yang pernah dilakukan PMS pada masa lalu.
“Mudah-mudahan dengan mulai diaktifkannya kembali gamelan PMS ini bisa menarik minat masyarakat untuk kembali mengenal budayanya, mengingat budayanya dan mengembangkan budaya Jawi,” ujarnya.
Iwan menyampaikan, unsur akulturasi juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. PMS berharap masyarakat Tionghoa turut terlibat dalam upaya melestarikan budaya Jawa.
“Karena kami berharap dari saudara-saudara Tionghoa pun juga bisa ikut terlibat untuk ikut aktif nguri-nguri di dalam budaya Jawa ini,” katanya.
Eksibisi kali ini melibatkan kelompok karawitan dari lima kecamatan di Kota Surakarta, yakni Pasar Kliwon, Jebres, Banjarsari, Laweyan dan Serengan.
Selain itu, PMS menggandeng SMA Regina Pacis Surakarta serta kelompok gamelan anak-anak SD binaan Dinas Pariwisata Kota Surakarta. Mereka diberi kesempatan tampil untuk menunjukkan hasil latihan sekaligus memperkenalkan seni karawitan kepada masyarakat.
“Di acara gamelan ini kita melibatkan lima kecamatan karena kami mengetahui bahwa di tiap-tiap kecamatan itu memiliki perangkat gamelan. Dan kami sudah mengetahui bahwa sebetulnya mereka berlatih. Kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa tampil, menampilkan apa yang sudah mereka kerjakan selama ini supaya masyarakat juga mengenal,” tutur Iwan.
Eksibisi juga menghadirkan kolaborasi Gamelan PMS dengan musik Yang Khim dan Erhu. Seniman Endah Laras dan penyanyi cilik Cenol turut mendukung acara tersebut.
Total terdapat delapan grup yang tampil dengan tiga penyanyi yang membawakan lagu-lagu Jawa maupun lagu berbahasa Mandarin.
Iwan berharap format kolaborasi tersebut dapat menunjukkan bahwa gamelan memiliki ruang yang luas untuk berkembang dan berinteraksi dengan musik lainnya.
“Budaya Jawi khususnya gamelan ini adalah sesuatu yang sebenarnya sangat indah, dari suaranya yang bening menenangkan hati dan tidak menutup kemungkinan untuk mengkolaborasikan dengan alat musik yang lain,” katanya.
Wawali Astrid: Karawitan Ajarkan Kebersamaan
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengapresiasi penyelenggaraan Eksibisi Karawitan dalam rangka HUT ke-94 PMS. Menurutnya, tema “Nguri-uri Budaya Jawi” sangat tepat untuk mengingatkan kembali pentingnya budaya dalam kehidupan masyarakat.
“Pemerintah Kota Surakarta mengucapkan selamat ulang tahun ke-94 kepada PMS. Sembilan puluh empat tahun merupakan perjalanan panjang yang menunjukkan sejarah, keteguhan, dan komitmen PMS untuk terus hadir serta memberikan kontribusi bagi masyarakat Kota Surakarta,” ujar Astrid.
Ia menilai budaya bagi masyarakat Solo bukan hanya sesuatu yang dipertunjukkan di atas panggung. Budaya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk cara masyarakat bergaul, menghargai sesama dan mengenali jati dirinya.
Astrid juga melihat karawitan sebagai gambaran mengenai pentingnya kebersamaan. Setiap instrumen gamelan mempunyai karakter dan peran masing-masing, tetapi harus dimainkan bersama untuk menghasilkan harmoni.
“Begitu pula kehidupan kita. Di tengah perbedaan latar belakang, usia, profesi, dan pandangan, ketika kita mampu saling menghargai dan menjalankan peran dengan baik, perbedaan justru menjadi kekuatan,” katanya.
Karena itu, menurut Astrid, Eksibisi Karawitan tidak hanya berbicara tentang gamelan, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai kebersamaan, gotong royong, persatuan dan penghargaan terhadap keberagaman.
Dalam acara tersebut, Astrid turut tampil berkolaborasi bersama Gamelan PMS dan Yang Khim PMS. Kehadiran pimpinan daerah dalam pertunjukan tersebut menjadi simbol dukungan Pemerintah Kota Surakarta terhadap pelestarian seni dan budaya.
Eksibisi juga melibatkan berbagai generasi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Astrid menilai keterlibatan lintas generasi sangat penting agar budaya Jawa tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.
“Kita ingin budaya Jawa tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, relevan, dan menjadi bagian dari masa depan,” tutur Astrid.
Ia menambahkan, melestarikan budaya bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman. Justru, budaya dapat semakin kuat ketika mampu berdialog dengan perubahan dan berinteraksi dengan budaya lain.
“Kita tetap menjaga jati diri, sekaligus terbuka terhadap hal-hal baru yang memperkaya kehidupan. Inilah semangat yang perlu terus kita bangun, yaitu berbudaya tetapi terbuka, memiliki identitas yang kuat tetapi tetap menghargai keberagaman,” jelasnya.
Astrid berharap PMS semakin solid, guyub dan konsisten berkontribusi dalam pelestarian budaya sekaligus memperkuat persatuan masyarakat Surakarta.
“Mari kita jadikan kebudayaan sebagai jembatan yang menghubungkan generasi, mempertemukan perbedaan, dan memperkuat rasa cinta kita kepada Surakarta dan Indonesia,” pungkas Astrid.
Sementara itu, Iwan berharap pengaktifan kembali Gamelan PMS dapat menjadi awal kebangkitan kegiatan seni di lingkungan PMS. Ke depan, pihaknya berharap aktivitas tersebut dapat berkembang hingga sendratari dan bahkan menghidupkan kembali kejayaan kelompok wayang orang PMS.
“Wayang orang PMS di beberapa puluh tahun yang lalu itu sempat menjuarai kejuaraan Piala Ibu Tien Soeharto bahkan PMS menang sebanyak lima tahun berturut-turut. Sehingga hari ini piala itu masih ada di PMS dan tersimpan di PMS dengan baik. Itu satu kebanggaan,” ujarnya.
Ia pun berharap PMS ke depan mampu melahirkan lebih banyak generasi yang mencintai seni budaya sekaligus menorehkan prestasi melalui bidang kesenian.









