Temuan Tim Pencari Fakta Insiden Kanjuruhan: Banyak Stadion Dibangun Seperti Penjara

oleh
oleh
Mural
Nyala lilin dan mural aksi solidaritas Tragedi Kanjuruhan dan simbol perdamaian antar suporter sepak bola di Koridor Gatot Subroto selesai dibuat, Rabu (5/10/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

JAKARTA, MettaNEWS – Insiden Kanjuruhan membuka sejumlah fakta menurut Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), terjadi karena aparat tidak menjalankan standar operasional prosedur (SOP). Selain itu, kondisi sebagian besar stadion di Indonesia tidak layak dari sisi keselamatan penonton.

Salah satu anggota tim, Rhenald Kasali menyebut mereka telah mengumpulkan beberapa rekaman penting CCTV, juga membaca seluruh prosedur serta ketentuan-ketentuan yang berlaku mengenai penyelenggaraan dan pengamanan pertandingan bola.

“Banyak hal-hal yang dibenarkan yang sebetulnya tidak tepat misalnya, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia menginformasikan selama ini mereka diamankan dengan kendaraan taktis Barakuda itu tidak tepat, yang diberikan itu adalah rasa aman dan membangun budaya sportivitas tapi sebetulnya sudah ada dari ketentuan dari FIFA tapi tidak dijalankan,” tandas Rhendald Kasali sebagaimana dilansir InfoPublik, Selasa (11/10/2022).

Kemudian ada ketentuan terkait SOP dari panitia pelaksana, sudah menginformasikan ketentuan FIFA bahwa aparat keamanan tidak boleh menggunakan gas air mata. “Itu sudah disampaikan menurut Panpel. Tapi entah kenapa terjadi,” ungkap Kasali.

Kasali menyebut tidak banyak orang mengerti aturan FIFA, bahkan berdasarkan aturan FIFA polisi berseragam dan tentara tidak boleh di dalam stadion. Selama ini bertahun-tahun dibiarkan, oleh karena itu, saatnya ditegakkan aturan.

Kondisi Stadion Kurang Layak

Selanjutnya fakta dan bukti lainya, Kasali menyebutkan masih ada stadion yang dibangun bernuansa 1970. Pada waktu itu persepakbolaan nasional semangatnya kedaerahan seperti persib, persija yang dibangun dan dananya dari Pemerintah Daerah (Pemda). Kali ini klub, yang seharusnya memiliki lapangan sepak bola sendiri dikelola, tapi sekarang menggunakan stadion milik pemda yang multifungsi dan keamanan di beberapa stadion tidak cukup baik.

“Ada pintu di gedung stadiun yang dibangun 1970-an.  Pada masa itu jumlah penduduk belum sebanyak sekarang. Kebutuhan keinginan masyarakat menggunakan stadion belum seperti sekarang ada tempat penonton berdiri, pintunya seperti penjara, slayding dan biasa kalau panpel yang benar bahwa barikade harus dibongkar, tapi entah kenapa pintunya tidak diberikan kunci dari pengelola stadiun setempat kepada panitia pelaksana,” ungkapnya.

Menurutnya, hal itu untuk mengantisipasi jika ada apa-apa itu pintu harus dibuka (slayding) tetapi pintu itu bentuknya panjang, kemudian pintunya ada seperti penjara yang dibuka hanya beberapa pintu. Sehingga pintunya agak sempit.

“Foto-foto yang sudah kami analisis adalah dari atas pintu tribun keluar itu curam sekali dalam keadaan normalpun orang tidak akan cepat tetapi itu dibiarkan. Menurut hemat kami stadiun itu harus dibongkar dan diubah,” kata Kasali

Gas Air Mata Kedaluwarsa

Terkait penggunaan gas air mata, Kasali mengatakan pihaknya sedang membahas hal itu. Memang ada korban yang hari itu, tidak merasakan apa-apa tapi besoknya matanya terlihat hitam kemudian matanya menurut dokter bisa normal kembali dalam waktu sebulan, itupun kalau bisa normal.

Salah satu kecurigaan TGIPF adanya dugaan gas air mata sudah kedaluwarsa,  itupun sudah dibawa dan diperiksa di laboratorium dan jika terbukti maka itu penyimpangan.

Kasail menegaskan bahwa TGIPF tidak hanya fokus di Kanjuruhan tapi juga ingin memberikan rekomendasi nasional, jadi bukan masalah hukum menghukum.

TGIPF tidak mengintervensi kepolisian, begitu juga kepolisian tidak mengintervensi lembaga lain yang sudah dilakukan tapi yang lakukan TGIPF adalah mencari akar masalahnya supaya tidak terulang lagi di stadion-stadion lainnya.

“Maka perhatian Tim Pencari Fakta itu, adalah untuk merubah dan memperbaikan peradaban budaya sepak bola supaya nyaman dan aman serta menyenangkan bagi penonton dan atlet sepak bola,” ujarnya