SOLO, MettaNEWS – Ratusan elemen suporter berpakaian serba hitam berkumpul di Gate A Stadion Manahan Solo, Senin (2/10/2023) malam. Mereka datang untuk mendoakan korban Tragedi Kanjuruhan.
Tepat satu tahun sudah tragedi berdarah dalam sejarah sepakbola Indonesia terjadi. Kala itu 1 Oktober 2022, 135 orang tewas dalam pertandingan sepakbola Arema vs Persebaya.
Untuk memperingatinya, para elemen suporter ini berkumpul. Satu spanduk putih berukuran sedang bertuliskan STAY STRONG AREK MALANG, 135 BUKAN SEKADAR ANGKA terpasang di pagar gerbang.
Baliho putih bertuliskan KANJURUHAN BELUM TUNTAS membentang di antara mereka yang duduk membentuk setengah lingkaran. Terdapat lilin putih di sekelilingnya.
Beberapa dari mereka berorasi meneriakkan keadilan untuk para korban Kanjuruhan. Beberapa orang juga terlihat membagikan selebaran bertuliskan DON’T STOP TALKING ABOUT KANJURUHAN, KANJURUHAN BELUM TUNTAS.
Setelah do’a bersama, mereka lalu merapatkan barisan untuk menyanyikan lagu Sampai Jumpa milik Endank Soekamti dan anthem Persis Solo Satu Jiwa. Sebuah baliho yang lebih besar kemudian dibentangkan.
Baliho itu bertuliskan TETAPKAN 1 OKTOBER SEBAGAI HARI DUKA SEPAKBOLA NASIONAL. Aksi ditutup dengan penyalaan lilin putih dan tabur bunga di atas spanduk KANJURUHAN BELUM TUNTAS.

Beda Latarbelakang, Bersatu untuk Kanjuruhan
Salah satu peserta aksi, Bugdanov menyebut mereka yang hadir dalam aksi do’a bersama berasal dari latar belakang yang berbeda dan tidak saling mengenal.
“Kita di sini bersama-sama atas kepedulian kita untuk mengenang tragedi Kanjuruhan tepat di 1 Oktober kemarin sebagai satu tahun telah terjadi. Jadi di sini kawan-kawan tidak ada yang saling kenal tapi atas dasar kepedulian gerakan sosial media hingga membuat kawan-kawan ini berkumpul menjadi satu,” terangnya.
Pasalnya mereka berkumpul atas dasar kepedulian gerakan sosial. Sebuah flyer bertuliskan DO’A BERSAMA DAN NYALAKAN LILIN UNTUK KEADILAN YANG GELAP. 02.10.2023 PUKUL 19.23 WIB. DC HITAM. PATUNG SOEKARNO MANAHAN. *SILAKAN BAWA LILIN DAN POSTER TUNTUTAN MASING-MASING. #KANJURUHANBELUMUSAI tersebar di sosial media. Flyer inilah yang membuat mereka berkumpul.

Mereka menyepakati bahwa 1 Oktober akan terus dikenang sebagai tragedi berdarah di dunia sepakbola Indonesia.
“Mungkin dari kita berbeda latar belakang atau juga asal tapi ketika di sini berbicara terkait tragedi. Kita sama-sama sepakat bahwasanya 1 Oktober patut dikenang menjadi bahan refleksi agar kawan-kawan tidak lupa karena kita belum selesai untuk membahas Tragedi Kanjuruhan tersebut,” ujarnya.
Bugdanov menekankan bahwa aksi ini nengatasnamakan dukungan kepada korban Kanjuruhan. Tidak ada maksud lain selain gerakan sosial.
“Saya juga tidak tahu mereka berasal dari mana kita memiliki background yang berbeda. Kita disatukan dalam kegiatan malam ini. Kita mengatasnamakan support kepada korban Kanjuruhan. Saya hanya rakyat biasa di sini tidak ada penanggung jawab hanya gerakan sosial dari teman-teman,” pungkasnya.









