Tak Perlu Proposal Berbelit, Pemprov Jateng Salurkan Bisyaroh untuk Hafiz-Hafizah

oleh
oleh

DEMAK, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng memberikan kemudahan bagi hafiz dan hafizah untuk mendapatkan bisyaroh atau tali asih sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka menghafalkan Al-Qur’an.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, para penghafal Al-Qur’an yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz dan diwisuda tidak perlu mengajukan proposal dengan proses yang rumit untuk mendapatkan bisyaroh dari pemerintah.

Menurutnya, mekanisme tersebut sengaja dibuat sederhana agar apresiasi pemerintah dapat diterima langsung oleh para hafiz dan hafizah.

“Kalau ada yang khatam Al-Qur’an dan diwisuda, kami dari pemerintah langsung memberikan bisyaroh atau tali asih kepada para hafiz dan hafizah. Ini langsung, jadi tidak perlu ada proposal,” kata Taj Yasin saat memberikan mauidhoh hasanah dalam Peringatan Maulidurrosul SAW, Khotmil Qur’an, Tawajjuhan Akbar, dan Haul ke-54 Simbah Ahmad Dahlan di Pondok Pesantren Tasyri’iyyah Alawiyah, Wonosalam, Kabupaten Demak, Kamis (10/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Taj Yasin mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyerahkan bisyaroh kepada empat hafizah yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

Pemberian bisyaroh tersebut menjadi bentuk apresiasi Pemprov Jateng kepada para santri yang telah menuntaskan proses menghafalkan kitab suci.

Tak Ingin Apresiasi Jadi Beban

Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin mengakui bahwa pengelolaan anggaran pemerintah memiliki berbagai ketentuan dan mekanisme yang harus dipenuhi. Namun, ia menegaskan bahwa prosedur tersebut tidak semestinya justru menjadi beban bagi para penerima apresiasi.

“Uang kalau dikelola pemerintah itu memang tidak mudah. Tetapi kalau khusus untuk mereka yang menghafalkan Al-Qur’an, tidak sulit. Tidak perlu proposal dan tidak perlu proses yang berbelit-belit,” ujarnya.

Ia berharap kemudahan mekanisme tersebut membuat perhatian pemerintah benar-benar dapat dirasakan oleh para hafiz dan hafizah, terutama mereka yang baru menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

Bagi Pemprov Jateng, pemberian tali asih bukan sekadar bantuan, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap proses pendidikan keagamaan serta ketekunan para santri dalam menjaga dan mempelajari Al-Qur’an.

Wisuda Bukan Akhir Perjalanan

Lebih lanjut, Taj Yasin mengingatkan para hafiz dan hafizah agar tidak menganggap wisuda sebagai akhir dari perjalanan menghafalkan Al-Qur’an.

Menurutnya, selesainya hafalan 30 juz justru menjadi awal bagi para penghafal untuk terus menjaga hafalan, memperdalam ilmu, sekaligus mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Adik-adik yang khatam Al-Qur’an ini adalah permulaan, bukan pencapaian akhir, tetapi sebuah permulaan,” tegasnya.

Pemprov Jateng selama ini memberikan perhatian kepada para penghafal kitab suci melalui program tali asih. Program tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada masyarakat yang menekuni pendidikan serta hafalan kitab suci.

Dengan mekanisme yang lebih sederhana, Pemprov Jateng berharap semakin banyak hafiz dan hafizah yang mendapat dukungan serta apresiasi atas perjuangan mereka dalam menghafalkan Al-Qur’an.