Taj Yasin Dorong Jamu Jadi Gaya Hidup Anak Muda, Pengembangan Industri Libatkan Ekonomi Kreatif

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong pengembangan industri jamu tradisional dengan melibatkan pelaku ekonomi kreatif dan generasi muda. Menurutnya, jamu tidak hanya menjadi warisan budaya bangsa, tetapi juga memiliki potensi ekonomi besar yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Hal itu disampaikan Taj Yasin saat menghadiri jumpa pers Hasil Intensifikasi Nasional Pengawasan Obat Bahan Alami dan Suplemen Kesehatan dalam rangka Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN) di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (9/6/2026).

Mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Taj Yasin mengatakan, Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan industri jamu tradisional karena budaya konsumsi jamu telah mengakar kuat di masyarakat.

“Kalau kita melihat di Solo, Sukoharjo, maupun Semarang, masyarakat sudah mulai menyajikan jamu di kafe-kafe. Di Solo ada Jampi Jawi, tempat berkumpulnya anak-anak muda yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga berbagai jenis jamu,” kata Taj Yasin.

Menurutnya, inovasi penyajian jamu yang lebih modern menjadi langkah penting untuk memperluas pasar sekaligus menarik minat generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai produk herbal tradisional Indonesia.

Pria yang akrab disapa Gus Yasin itu menilai meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat pascapandemi Covid-19 menjadi momentum yang tepat untuk mengembangkan industri jamu nasional.

“Berkah dari Covid-19 salah satunya adalah meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Ini peluang besar karena selain menyehatkan, jamu juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, Gus Yasin mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi jamu. Ia meminta masyarakat mewaspadai produk jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO) karena dapat membahayakan kesehatan dan merusak citra jamu tradisional.

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung program BPOM karena memang masih ada oknum yang memasukkan bahan kimia obat ke dalam ramuan jamu yang beredar di masyarakat,” tegasnya.

Pihaknya juga mendukung langkah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang tidak hanya melakukan pengawasan dan penindakan, tetapi juga memberikan edukasi serta pendampingan kepada pelaku UMKM produsen jamu agar mampu menghasilkan produk yang aman dan berkualitas.

“Dengan BPOM yang semakin dekat dengan masyarakat, edukasi tentang cara meramu dan mengolah jamu yang benar akan semakin luas sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara optimal,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa Jawa Tengah dipilih sebagai lokasi pilot project sosialisasi Program IDAMAN karena budaya jamu di daerah ini masih sangat kuat.

Menurutnya, jamu Indonesia memiliki peluang besar untuk menembus pasar global. Namun, peluang tersebut harus dibarengi dengan pengawasan ketat agar kualitas dan keamanan produk tetap terjaga.

“Program IDAMAN bertujuan mempertahankan citra dan kepercayaan masyarakat terhadap jamu Indonesia. Karena berdasarkan hasil pengawasan, masih ditemukan produk yang mengandung bahan kimia obat dan tidak memenuhi ketentuan,” ujar Taruna.

Sepanjang 2025, BPOM melakukan pengujian terhadap 11.654 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan. Hasilnya, sebanyak 206 produk terbukti mengandung bahan kimia obat. Selain itu, patroli siber BPOM menemukan lebih dari 39 ribu penjualan obat bahan alam ilegal melalui platform digital.

Di wilayah Semarang, BPOM juga menemukan 147 item obat bahan alam yang diduga mengandung bahan kimia obat atau tidak memiliki izin edar, dengan total 13.263 produk dan nilai ekonomi sekitar Rp385 juta.

Sementara dari hasil inspeksi rutin di Jawa Tengah sepanjang 2025 hingga 2026, BPOM memeriksa 119 sarana dan menemukan 10.267 produk obat bahan alam mengandung bahan kimia obat dengan nilai ekonomi mencapai Rp500 juta.

“Temuan ini menunjukkan masih banyak produk yang menggunakan bahan kimia obat. BPOM akan melakukan penindakan tegas untuk melindungi masyarakat,” kata Taruna.

Di sisi lain, BPOM terus melakukan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha agar industri jamu nasional berkembang secara sehat. Taruna menyebut nilai ekonomi industri jamu Indonesia diperkirakan mencapai Rp350 triliun per tahun, namun potensi yang tergarap saat ini baru sekitar Rp2 triliun.

“Kita masih memiliki potensi sangat besar yang belum dikelola secara optimal. Yang paling penting adalah menjaga citra dan reputasi jamu sebagai warisan budaya yang aman, berkualitas, dan mampu bersaing di pasar global,” pungkasnya.