SEMARANG, MettaNEWS – Komitmen Kota Surakarta dalam mengembangkan industri jamu berbasis budaya kembali ditegaskan dalam kegiatan Kick Off Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN) yang digelar BPOM RI di Gedung Gradhika Bakti Praja, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, serta para kepala daerah kabupaten dan kota se-Jawa Tengah.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengatakan Solo memiliki modal budaya yang kuat dalam pengembangan jamu. Menurutnya, jamu telah menjadi bagian dari identitas masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dan masih hidup hingga saat ini.
“Surakarta memiliki modal budaya yang sangat kuat dalam pengembangan jamu. Jamu bukan sekadar produk kesehatan tradisional, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Solo. Karena itu kami mendukung penuh Program IDAMAN agar masyarakat semakin sadar pentingnya mengonsumsi jamu yang aman, bermutu, dan bermanfaat,” papar Astrid.
Program IDAMAN sendiri merupakan inisiatif BPOM untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi jamu yang aman, bermutu, dan bermanfaat. Program tersebut juga bertujuan mendorong pelaku usaha obat bahan alam agar memenuhi standar keamanan dan mutu sekaligus membangun ekosistem jamu yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan di tingkat daerah.
Astrid mengungkapkan, perkembangan industri jamu di Kota Surakarta menunjukkan tren yang terus berkembang. Berdasarkan data Balai POM Surakarta tahun 2025, terdapat empat Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), sembilan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), serta 63 fasilitas distribusi obat bahan alam yang beroperasi di Kota Solo.
“Untuk ukuran kota urban, jumlah tersebut cukup besar dan menunjukkan tingginya aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi obat bahan alam di Kota Solo. Pelaku usaha jamu berkembang mulai dari usaha rumahan, UMKM, hingga industri yang telah menjangkau pasar nasional bahkan internasional,” katanya.
Selain industri formal, tradisi jamu gendong yang dijajakan secara keliling maupun di pasar-pasar tradisional juga masih bertahan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Solo. Pemerintah Kota Surakarta terus melakukan pendampingan kepada pelaku usaha melalui pelatihan, legalitas usaha, sertifikasi halal, perizinan, hingga penguatan pemasaran digital.
Menurut Astrid, pengembangan jamu juga menjadi bagian dari strategi besar Kota Surakarta dalam memperkuat sektor wellness tourism atau wisata kesehatan dan kebugaran.
“Solo memiliki ekosistem yang sangat mendukung, mulai dari tradisi minum jamu, layanan spa dan pijat tradisional, kuliner sehat, hingga berbagai aktivitas berbasis kesehatan yang berakar pada budaya lokal. Ke depan, jamu akan menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan wellness tourism di Kota Surakarta,” urainya.
Pemkot Surakarta juga terus mendorong pelestarian budaya jamu yang berasal dari tradisi Keraton Surakarta. Berbagai ramuan herbal, tradisi perawatan diri, hingga filosofi hidup sehat yang berkembang di masyarakat saat ini merupakan bagian dari warisan budaya yang dinilai memiliki nilai historis sekaligus ekonomi.
Astrid menilai, kekuatan budaya tersebut dapat menjadi pembeda Solo dibandingkan daerah lain dalam mengembangkan wisata kesehatan berbasis kearifan lokal.
“Dalam konteks wellness tourism, warisan budaya Keraton memberikan keunikan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Wisatawan tidak hanya menikmati jamu sebagai minuman kesehatan, tetapi juga memahami sejarah, filosofi, dan tradisi yang melatarbelakanginya. Inilah kekuatan yang dimiliki Kota Solo,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap Program IDAMAN, Pemkot Surakarta mengusulkan Kelurahan Jayengan sebagai lokasi percontohan atau pilot project program tersebut.
“Kami berharap Jayengan dapat menjadi percontohan. Kalau Solo selama ini dikenal memiliki kampung batik, ke depan kami berharap juga dapat tumbuh sentra atau kampung jamu yang menjadi destinasi wisata baru sekaligus pusat edukasi jamu aman bagi masyarakat,” harapAstrid.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengapresiasi berbagai inovasi pengembangan jamu yang tumbuh di Kota Surakarta. Salah satu yang mendapat perhatian adalah Djampi Jawi, sebuah kafe jamu modern yang berhasil mengemas budaya minum jamu dengan konsep kekinian sehingga diminati generasi muda.
Menurut Astrid, keberadaan usaha kreatif seperti itu menunjukkan bahwa jamu memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi produk modern tanpa kehilangan akar budayanya.
Ia berharap sinergi antara Pemerintah Kota Surakarta dan BPOM dapat terus diperkuat, tidak hanya dalam aspek pengawasan, tetapi juga edukasi, pendampingan, dan pengembangan industri jamu berbasis budaya.
“Harapan kami, jamu tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat, membuka peluang usaha baru bagi UMKM, dan menjadi ikon unggulan Kota Surakarta dalam menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan kolaborasi yang kuat bersama BPOM, kami optimistis Solo dapat menjadi salah satu pusat pengembangan jamu nasional sekaligus destinasi wellness tourism yang unggul,” pungkasnya.








