Perkuat Solo Wellness Tourism, Djampi Jawi @Pasar Legi, Merawat Rasa & Tradisi

Djampi Jawi membuka outlet di Jl. S. Parman 45 Banjarsari, Surakarta (depan Pasar Legi) berdampingan dengan Nakamura Holistic | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Tumbuhnya wellness tourism di Kota Solo menjadi latar belakang dibukanya Djampi Jawi di Pasar Legi Surakarta.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia mengubah mindset manusia untuk lebih mengenal hidup sehat dan kembali ke alam.

Pemilik dan pengelola Djampi Jawi, Gus Minging & Santi Stanislausia adalah
lulusan dari Poltekkes Surakarta jurusan Jamu dan sebagai tenaga kesehatan tradisional ramuan yang memiliki dasar keilmuan yang pas untuk usaha ini terutama terkait dengan keamanan dan manfaat jamunya.

Djampi Jawi hadir sebagai bentuk dukungan nyata pada kemajuan Pemerintah Kota Solo.

CEO Djampi Jawi Selina menjelaskan pembukaan Djampi Jawi ini mempunyai tujuan untuk membuat jamu berjaya kembali.

“Karena anak muda sekarang banyak yang tidak suka jamu. Ini kita buat jamu lebih familiar, lebih bisa diterima semua kalangan. Dikemas dengan lebih modern,” ungkap Selina pada.pembukaan Djampi Jawi, Kamis (1/12/2022).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aryo Widiandoko menyerahkan potongan tumpeng kepada Pendiri Djampi Jawi Gus Minging dan CEO Selina, Kamis (1/12/2022) | MettaNEWS / Puspita

Selain jamu, Selina mengatakan, Djampi Jawi juga membawa makanan-makanan tradisional seperti nasi liwet, selat solo dan lainnya.

“Djampi jawi memberikan jawaban akan kebutuhan tempat kumpul bareng keluarga atau teman-teman nongkrong. Konsep café, resto dan wedangan dalam satu tempat yang nyaman dengan pilihan menu bercita rasa otentik. Bahkan rooftop terdapat Wedangan Kayangan dengan menu-menu angkringan Hidangan Istimewa Kampung. Wedangan ini menjadi salah satu lokasi anak muda Solo berkumpul sambil menikmati pemandangan kota Solo dari atas. Lokasi yang strategis, harga yang sesuai dan didukung dengan layanan yang ramah menjadi satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung,” papar Selina.

Pendiri Djampi Jawi, Gus Minging mengungkapkan, visi Djampi Jawi adalah untuk menghadirkan warisan pengobatan ramuan jamu masa lalu ke masa kini yang dikemas secara modern.

“Ke depan Djampi Jawi akan mendidik dan melahirkan Barista Jamu Tradisional Indonesia. Harapan kami adalah menyebarkan minum Jamu sampai ke seluruh Indonesia dan dunia. Minum jamu ke depan akan menjadi suatu lifestyle yang tak terhindarkan untuk semua golongan masyarakat,” terang Gus Minging.

Gus Minging menyebut melalui inovasi dan terobosan menarik, saat ini hadir Djampi Jawi yang menawarkan keunikan, bukan hanya rasa makanan dan minumannya tapi juga tempat yang modern dan kekinian di Kota Surakarta. Tempat ini dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan yang tepat untuk bersantai sambil menikmati makanan dan minuman tradisional yang telah dikemas secara modern.

“Minuman jamu disajikan dengan bahan dan peralatan modern, bahkan diseduh layaknya sajian kopi, menjadikan jamu “naik kelas” dalam hati masyarakat,” ungkap Gus Minging.

Pembukaan Djampi Jawi ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aryo Widyandoko yang diserahkan pada Gus Minging dan Selina.

Aryo mewakili Wali Kota Solo Gibran Rakabuming menyatakan hadirnya Djampi Jawi melengkapi kota Solo yang sarat akan budaya tradisional nya.

“Sehingga kalau ada wisatawan ke Solo, kita sudah punya Djampi Jawi. Tidak hanya sekedar minum jamu tapi juga ada eksperimen di sini. Wisatawan bisa mendapat pengalaman dan edukasi, praktek langsung membuat jamu dengan ahlinya di sini,” ujar Aryo.

Djampi Jawi juga memberikan pengetahuan & pengalaman kepada pengunjung melalui program Jamu Tour dan Jamu Experience. Pengunjung akan diajak keliling lokasi Djampi Jawi dengan diberikan penjelasan mengenai sejarah jamu, pengenalan alat dan bahan, mengenal berbagai tanaman obat dan manfaatnya serta akan diajarkan cara membuat jamu sekaligus praktik
langsung membuat jamu yang hasilnya bisa langsung diminum.

Harapannya pengunjung akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru mengenai jamu dan pada akhirnya akan menjadikan mereka sebagai bagian dari penjaga dan pewaris budaya jamu Nusantara.