Suksesi Mangkunegaran Molor,  Berpengaruh Pada Dana Hibah Pengelolaan

oleh
oleh
Pura Mangkunegaran
Pura Mangkunegaran | dok Soloblitz

SOLO, Metta NEWS – Sudah lebih dari 150 hari berlalu sejak Adipati Mangkunegara IX, KGPAA Jiwo Kusumo wafat 31 Agustus 2021 lalu. Namun hingga hari ini belum ada informasi perihal siapa pengganti KGPAA Jiwo Kusumo yang akan menempati tahta Adipati Mangkunegoro. 

Saat berbincang dengan awak media di Harris Hotel Solo, Rabu (16/2/2022), salah satu pegiat sejarah budaya Solo Raya R Surojo mengatakan, molornya suksesi Mangkunegaran tersebut mengundang keprihatinan sebagian masyarakat pemerhati budaya. R Surojo juga menyarankan agar keluarga segera duduk bersama untuk memilih Mangkunegara X. 

Tiga nama dari keluarga Mangkunegaran yakni GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara, GPH Bhre Cakrahutomo Wirasudjiwo dan KRMH Roy Rahajasa Yamin disebut-sebut sebagai calon penerus Mangkunegara IX, KPPAA Jiwo Kusumo.

Menurut Surojo, suksesi Mangkunegara yang berlarut-larut itu menjadi sorotan masyarakat Soloraya. Bahkan di tingkat nasional.

“Mangkunegaran ini bukan hanya milik keluarga Mangkunegara saja tapi milik seluruh masyarakat. Proses suksesi yang berlarut-larut akan berdampak buruk pada pengelolaan Pura Mangkunegaran,” papar Surojo. 

Surojo yang aktif dalam berbagai kegiatan budaya di Solo dan sekitarnya itu menilai Mangkunegaran sangat bergantung pada dana hibah dari Pemerntah sejak menggabungkan diri ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pemerintah pasti akan pikir-pikir akan memberi hibah kalau belum jelas siapa pemimpin Mangkunegaran. Agar tidak berlarut, kelurga segera bermusyawarah untuk memilih penerus tahta Mangkunegaran,” katanya. 

Menurut Surojo, keluarga bisa langsung mengangkat salah satu anak kandung Mangkunegara IX sebagai penerus.

Hanya saja, hal itu dinilai sulit mengingat hingga hampir empat bulan keluarga besar Mangkunegaran belum juga duduk bersama untuk membahas suksesi.

“Belum ada informasi bahwa keluarg inti ini belum duduk bersama. Saya kurang paham apa alasannya,” katanya.

Surojo mengatakan, Roy Rahajasa Yamin yang merupakan cucu dari Pahlawan Nasional Muhammad Yamin dengan GRA Retno Satuti disebut-sebut sebagai salah satu kandidat potensial.

“Roy Rahajasa Yamin dianggap netral sehingga bisa diterima semua pihak. Usulan dari kami, keluarga inti menetapkan KRM Roy Rahajasa Yamin sebagai pejabat sementara atau sebagai Plt Mangkunegara untuk mengisi kekosongan kepemimpinan di pura mangkunegaran,” tandasnya. 

Surojo menyebut, Roy akan mampu memegang tampuk kepemimpinan sementara selama keluarga belum menentukan pilihan definitif. 

Tak menyebutkan berapa lama Roy harus menjabat Plt Mangkunegara, Surojo yakin Roy tak akan keberatan melepaskan jabatan jika Bhre maupun Paundra sudah siap memimpin Mangkunegaran.

Mencermati  situasi di Puro Mangkunegaran  pemerhati budaya dan pemerintahan di Solo Raya Sudiyo Widodo juga melihat perlunya langkah-langkah guna mengisi kekosongan kepemimpinan yang saat ini belum nampak adanya proses penetapan Adipati Mangkunegoro X.  

Staf pengajar Prodi PPKn Universitas Widya Dharma Klaten, ini mengatakan perlu diingat bahwa budaya Jawa adalah bagian yang sangat urgent dan menjadi bagian dari budaya dunia. 

“Mangkunegaran sebagai salah satu kiblat di mana budaya Jawa bertahta, oleh karena itu perlu didorong agar perasalahan kekosongan kepemimpinan segera teratasi,” kata Sudiyo. 

Sebagai pengamat hukum adat, Sudiyo menjelaskan ada beberapa solusi yang mungkin bisa ditempuh diantaranya melalu tata cara adat yang sebagai konstitusi Mangkunegaran yakni keluarga inti dan para sesepuh Mangkunegaran segera melakukan musyawarah untuk memutuskan siapa yang berhak sebagai pengageng puro Mangkunegaran.

“Bisa ditunjuk semacam penengah/mediator yang sekaligus untuk menjadi Plt. Untuk menjalankan tugas pemerintahan sebagai pemimpin Mangkunegaran dalam waktu tertentu guna mencari solusi atas kekosongan kepemimpinan,” pungkas Sudiyo.