SOLO, MettaNEWS – Ribuan warga memadati Taman Sriwedari lokasi puncak kirab Malem Selikuran Keraton Surakata, Selasa (11/4/2023) malam. Mereka duduk bersila di depan panggung besar peringatan Lailatul Qadar malam ini.
Salah satu warga Karanganyar bahkan secara khusus datang bersama sanak keluarganya ke Malem Selikuran Keraton Surakarta sekaligus pengajian akbar bersama Gus Mahfid ini. Ia adalah Titin Ramhawati.
“Datang sama keluarga bapak kakak saudara, ini baru pertama kali ini kan informasi semakin cepat lewat media sosial saya jadi tahu kalau ada malam selikuran. Dan kebetulan saudaranya banyak,” terangnya.
“Kami meluangkan waktu datang ke sini dari berangkat jam 7.30 dari rumah sampai sini jam 9-nan,” imbuh Titin.
Titin sapaan akrabnya, mengaku senang datang ke agenda Ramadan kali ini. Terlebih ia mendapat tumpeng kecil yang dibagikan Keraton Surakarta. Baginya tumpeng ini merupakan berkah.
“Alhamdulillah dapat tumpeng dari pengajian sekaligus Malam Selikuran yang memaknai nasi berkah mengandung berbagai doa jadi kami menilai ini ada berkah di dalamnya,” ujarnya.
Kedatangannya ke Malam Selikuran Keraton Surakarta jadi pengalaman kali pertama baginya.
“Pengalaman kebersamaan dari berbagai umur dan golongan bisa menyatu. Harapannya bisa lestari terus kegiatan seperti ini karena ini nguri-uri budaya Jawa dan menyatukan juga untuk muslim dan budaya Jawa,” tukasnya.
Pengalaman pertama merasakan tumpeng Malam Selikuran juga dirasakan warga Sukoharjo, Puput Puspita Sari.
“Niatnya ikut pengajian ternyata ada pembagian tumpeng dari Keraton Surakarta jadi senang. Awalnya mau lihat Gus Mahfid saja, masyaAllah wah luar biasa karena ini juga baru pertama kali. Jadi pengalaman yang sangat berbeda bagi saya,” ujar Puput.
Terpisah, Pangageng Parentah Keraton Surakarta, KGPH Dipo Kusumo mengatakan pembagian tumpeng sewu merupakan simbolis dalam memperingati malam seribu bulan. Terdapat 40 jodangan yang masing-masing berisi 25 tumpeng kecil.
“Ada takir atau pembagian gunungan yang kami bagikan ke masyarakat. Maknanya takwa dan zikir itu yang menjadi simbol supaya gampang umat Islam ingat,” ujar KGPH Dipo.








