SOLO, MettaNEWS– Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia yang menggenjot pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di rumah sakit kabupaten/kota.
Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan masyarakat, khususnya untuk penyakit prioritas seperti jantung, stroke, dan kanker.
Apresiasi tersebut disampaikan Sumarno saat menghadiri Rapat Koordinasi Teknis (Rakontek) Pelayanan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Hotel Mercure Solo, Kamis (29/1/2026). Sumarno hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa Kemenkes menargetkan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di rumah sakit kabupaten/kota melalui kerja sama dengan rumah sakit dan perguruan tinggi. Langkah ini dilakukan untuk mendorong peningkatan jumlah dokter spesialis, terutama di daerah.
“Antrean untuk layanan prima bagi penderita jantung dan stroke masih sangat panjang di rumah sakit. Padahal golden period untuk jantung dan stroke hanya hitungan jam. Kalau layanan hanya ada di rumah sakit besar, tentu kasihan pasiennya,” papar Menkes Budi.
Menurutnya, Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 1.165 dokter spesialis dengan kompetensi tambahan untuk layanan prioritas jantung, stroke, dan kanker. Setiap tahun, sekitar 500 ribu orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut, sementara ketersediaan peralatan medis masih terbatas.
Menkes Budi menargetkan pada 2027, alat kateterisasi jantung sudah tersedia di setiap kabupaten dan kota. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penanganan pasien dan memaksimalkan golden period yang sangat menentukan keselamatan pasien jantung dan stroke.
Untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis, Kemenkes juga membuka pendidikan spesialis melalui Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU). Dalam Rakontek tersebut, Kemenkes menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto, RSUD Dr Moewardi, serta Universitas Diponegoro untuk membuka pendidikan spesialis bedah saraf, bedah anak, dan mikrobiologi.
“Tujuannya supaya lebih banyak lagi kita bisa memproduksi dokter-dokter spesialis, khususnya yang nantinya ditempatkan di rumah sakit yang belum memiliki spesialis,” kata Budi kepada wartawan usai acara.
Kemenkes menargetkan kekurangan dokter spesialis dapat terpenuhi dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun ke depan, namun diupayakan bisa dicapai lebih cepat.
Sementara itu, Sumarno menyampaikan bahwa Rakontek Pelayanan Kesehatan yang diikuti oleh dinas kesehatan kabupaten/kota se-Jawa Tengah memiliki peran strategis untuk menyatukan langkah dan persepsi agar program kesehatan berjalan efektif dan akseleratif.
Ia menambahkan, selama tahun 2025 sejumlah program kesehatan di Jawa Tengah berjalan efektif, di antaranya program Spelling dan Cek Kesehatan Gratis.
“Mudah-mudahan ini menjadi bahan evaluasi kita bersama agar pada 2026 program kesehatan di Jawa Tengah bisa berjalan lebih baik lagi,” pungkas Sumarno.








