Perempuan Berperan Penting Budayakan Cuci Tangan untuk Cegah Penyakit

oleh
Cuci tangan
Ilustrasi cuci tangan pakai sabun | dok Alodokter

JAKARTA, MettaNEWS – Kehadiran perempuan diharapkan dapat menjadi contoh atau role model pembudayaan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) di lingkungan masyarakat. Contoh ini dapat diambil dari sosok ibu sebagai pengambil keputusan di rumah dan lingkungannya.

Hal ini disampaikan Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anas Maruf saat peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia, Minggu (16/10/2022).

”Tahun ini kita ingin menemukan role model bagaimana melakukan pembudayaan CTPS dengan tepat. Salah satunya melihat peran perempuan atau ibu-ibu. Perempuan menjadi salah satu pendukung terciptanya lingkungan pendukung atau enabling environment pembudayaan CTPS, karena perempuan menjadi pengambil keputusan,” ujar Anas, dilansir kemkes.go.id.

Anas Maruf menjelaskan, ada dua peringatan HTCPS yakni secara global dan nasional di waktu yang sama. HTCPS sedunia mengambil tema “Unite for Universal Hand Hygiene”. Sedangkan tema peringatan HCTPS di Indonesia “Bersatu untuk Tangan Bersih Sehat”.

Tema HTCPS lebih mengkerucut menjadi “Peran Perempuan dalam Penurunan Stunting melalui Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) dan CTPS”. Peringatan puncak hari Cuci Tangan Pakai Sabun ini diperingati pada hari Senin, tanggal 17 Oktober 2022 di Jakarta.

Anas mengatakan, pemberdayaan perempuan diharapkan mampu mempercepat pembudayaan perilaku CTPS di masyarakat. Menurutnya, poin penting peringatan HCTPS adalah menguatkan kebutuhan (demand creation) masyarakat pada perilaku CTPS sehingga menjadi budaya perilaku masyarakat.

”Pada saat pandemi covid 19 kesadaran perilaku masyarakat pada CTPS meningkat. Nah dengan selalu mengingatkan pentingnya CTPS, misalnya dengan peringatan HCTPS ini, kita ingin agar perilaku itu terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan,” terang Anas.

Disampaikan pula, CTPS dikenal luas sebagai teknik dasar terpenting pencegahan penyebaran penyakit pernafasan akut, diare dan COVID-19. Pemerintah Indonesia telah menjadikan CTPS sebagai salah satu prioritas pembangunan utama yang sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 6.2, di mana salah satu indikator 6.2.1 menyatakan, perlunya dicapai akses secara universal ke fasilitas CTPS dengan air dan sabun.

Perwujudan visi ini membutuhkan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak, seperti pemerintah, pihak swasta, mitra pembangunan, akademisi, media, dan seluruh lapisan masyarakat guna menjawab tantangan kompleks dalam mencapai target akses universal kebersihan tangan dari sisi pemenuhan layanan (supply of service), penguatan kebutuhan (demand creation), dan ekosistem pendukung (enabling environment).

Peringatan Hari CTPS menjadi momen penting untuk memperkuat komitmen Pemerintah Indonesia dan kolaborasi dari berbagai pihak dalam mendukung pencapaian target CTPS di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia, dimana CTPS saat ini merupakan salah satu fokus utama dari Program Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dan telah terintegrasi pada beberapa program atau kampanye lainnya seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Terkait dengan peringatan puncak Hari CTPS, kegiatan akan diawali peluncuran Rencana Aksi Nasional (Roadmap) SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) dan CTPS 2022-2030. Dua dokumen ini merupakan bukti komitmen kuat Pemerintah Indonesia dalam dalam rangka pencapaian akses CTPS dan 100% SBS untuk semua di tahun 2030.

Peluncuran dokumen ini menjadi media advokasi kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota serta swasta dan pihak lainnya mengenai percepatan pencapaian target nasional CTPS dan SBS.

Selain itu, peluncuran ini menjadi momen untuk mensosialisasikan dokumen rencana aksi nasional sebagai dokumen rujukan bagi seluruh pihak untuk pencapaian target CTPS dan SBS nasional tercapai.