Sejarawan UNS : Kondisi Darurat, Tak Masalah Jika Kirab 1 Sura Keraton Surakarta Tanpa Kebo

oleh

SOLO, MettaNEWS – Menurut kalender Jawa  1 Sura tahun ini jatuh tanggal 30 Juli 2022. Sesuai tradisi yang sudah berjalan puluhan tahu, Keraton Surakarta menggelar kirab pusaka untuk menyambut tahun baru Jawa sekaligus tahun baru Islam. Wong Solo sepenuhnya paham, kirab 1 Sura selalu diawali oleh cucuk lampah, sekawanan kerbau (kebo) bule keturunan Kiai Slamet yang merupakan pusaka kelangenan Raja. 

Sudah dua kali kirab pusaka 1 Sura tidak dilaksanakan, karena pandemi Covid-19. Tahun ini, masalah kembali mengadang, dua kebo bule mati lantaran terpapar virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kebo betina paling tua berusia 20 tahun bernama Nyi Apon dan kebo paling muda berusia 1 hari mati pada pekan lalu. Setelah kematian Apon, 7 kebo lainnya masih menjalani pemulihan dan karantina.

Mungkinkah kirab kembali ditiadakan? atau, apakah bakal ada tata cara baru, misalnya kirab tanpa kerbau seperti diwacanakan oleh putri Sinuhun PB XIII, GKR Timoer Rumbai Dewayani?

Sejarawan Universitas Sebelas Maret  Rendra Agusta menilai kondisi darurat semacam ini dapat menjadi maklum, sehingga apabila Kirab 1 Sura tanpa kebo tetap tak mengurangi makna.

“Tidak apa-apa, tidak mengurangi makna karena keadaan darurat dan Sura pun juga baru artinya kalau sekarang sudah lama. Tradisi zaman Sultan Agung kan baru seperti itu juga disebutkan jadi sebelumnya tidak ada tidak masalah,” kata Rendra saat ditemui MettaNEWS di kampus Fakultas Ilmu Budaya UNS, Rabu (26/7/2022).

Pihaknya mengatakan kebo merupakan kesatuan yang dapat memberikan wibawa atau kekuatan gaib pada raja dan keraton.

“Identik dengan Sura ya selamat itu menjadi satu tradisi yang baik karena semua tradisi Jawa itu tidak ada yang membuat sial semua bisa diseimbangkan dengan cara selamatan,” terang Rendra.

Menurut hematnya, kirab pusaka satu Sura tetap dapat berjalan pun tanpa adanya kebo. Meski tak dapat dipungkiri keterlibatan kebo dalam kirab penting sesuai dengan fungsinya sebagi hewan pengusir malapetakaka, namun kondisi saat ini menjadi penting untuk dipahami masyarakat.

“Tidak apa-apa tidak mengurangi makna itu  yang harus dijelaskan karena keadaan darurat. Ttradisi lama tapi zaman Sultan Agung kan baru seperti itu (melibatkan kebo). Jadi sebelumnya (Sultan Agung) tidak ada (kebo) tidak ada masalah sebetulnya,” bebernya.