SOLO, MettaNEWS – Mengawali bulan Ruwah, keluarga, kerabat dan abdi dalem Keraton Surakarta nyadran ke makam Ki Ageng Henis, Laweyan, Senin (27/2/2023).
Keraton Kasunanan Surakarta menjalankan tradisi sadranan dengan menziarahi makam-makam leluhur dinasti Mataram.
Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo menjelaskan, tradisi Sadranan bagian dari kegiatan adat Keraton Kasunanan.
“Kegiatan berlangsung turun temurun. Terutama semenjak dinasti Mataram. Sehingga dalam proses perjalanan itu ada beberapa makam yang ditengarai jadi suatu pertanda bahwa itu makam yang menurunkan raja-raja. Baik itu raja-raja yang di Surakarta maupun di Yogyakarta untuk dinasti Mataram,” ungkap adik Sinuhun Pakubuwono XIII ini.

Makam Ki Ageng Henis yang berada di Kecamatan Laweyan menjadi tujuan pertama sadranan. Kyai Ageng Henis adalah putera Ki Ageng Sela, keturunan langsung Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Kyai Ageng Henis memiliki dua putera, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Karatongan. Pemanahan menikah dengan sepupunya bernama Nyai Sabinah dan mempunyai 26 putra-putri. Putra sulungnya bernama Adipati Manduranegara, dan putera kedua adalah Sutawijaya yang kemudian menjadi Raja Mataram pertama bergelar Panembahan Senopati.
Nyadran Wujud Nguri-uri Tradisi
Pada sadranan Keraton Surakarta ini, Gusti Dipo mengatakan setelah dari makam Ki Ageng Henis, nyadran akan berlanjut menuju makam yang berada di Kota Gede dan Imogiri.
Gusti Dipo menambahkan, sesuai dengan tradisi, seluruh keluarga keraton dan abdi dalem mengikuti pelaksanaan Nyadran ini.
“Jadi kalau sadranan itu yang jadi tolok ukurnya adalah utusan dalem. Karena utusan dalem itu sebagai pertanda pembuka bagi siapa saja yang datang ke makam tersebut untuk memulai nyekar atau nyadran. Atau istilahnya sebagai penanda mulainya acara sadranan tersebut,” jelas Gusti Dipo.

Tidak hanya pihak keraton, setiap HUT Kota Solo, Pemerintah Kota juga selalu menjalankan ritual nyadran ini.
“Kalau filosofinya nyadran itu sesuai dengan adat Jawa adalah sangkan paraning dumadi. Bahwa kita harus memahami asal usul kehidupan leluhur. Kemudian juga menghormati para leluhur, mendoakan para leluluhr agar kehidupan kita semakin hari semakin baik,” pungkas Gusti Dipo.








