SEMARANG, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan tahun 2026 sebagai fase “take off” pembangunan daerah dengan memperkuat investasi dan menjalankan program-program yang berpihak langsung kepada kepentingan rakyat.
Langkah tersebut ditempuh setelah fondasi pembangunan disiapkan sepanjang tahun 2025, khususnya di sektor infrastruktur dan sumber daya manusia.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan, capaian pembangunan selama 2025 menjadi modal penting untuk melakukan percepatan program pada tahun mendatang. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah daerah belum sepenuhnya puas dengan hasil yang telah diraih.
“Tentu kita belum puas dengan capaian selama 2025. Sepuluh bulan ini kita fokus menyiapkan roadmap dan blueprint pembangunan Jawa Tengah. Infrastruktur kita siapkan agar 2026 bisa menjadi tahun percepatan program yang lebih menyentuh kepentingan rakyat,” terang Ahmad Luthfi.
Pernyataan tersebut disampaikan usai acara Refleksi dan Doa Bersama Akhir Tahun 2025 di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (31/12/2025).
Acara itu dihadiri Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, para asisten Sekda, serta seluruh kepala OPD dan BUMD.
Ahmad Luthfi menjelaskan, arah pembangunan Jawa Tengah telah digariskan secara jelas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Penekanan utama RPJMD tersebut adalah kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota sebagai kunci dalam menerjemahkan kebijakan nasional ke dalam program daerah.
Sepanjang 2025, Pemprov Jateng memprioritaskan penyiapan infrastruktur secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur sumber daya manusia, jalan dan sarana prasarana, pertanian, hingga infrastruktur pendukung investasi.
“Kalau infrastruktur sudah kita siapkan di 2025, maka 2026 Jawa Tengah memiliki dasar yang kuat untuk mendukung program strategis pemerintah pusat, khususnya swasembada pangan. Jawa Tengah kita proyeksikan sebagai lumbung pangan nasional sekaligus penopang industri nasional,” tuturnya didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Dari sisi kinerja makro, pembangunan selama 2025 menunjukkan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Angka kemiskinan tercatat turun dari 9,58 persen menjadi 9,48 persen. Penurunan tersebut sejalan dengan upaya pengendalian tingkat pengangguran terbuka, perluasan kesempatan kerja, serta peningkatan investasi.
Sepanjang 2025, serapan tenaga kerja dari investasi padat karya mendekati 335.000 orang. Sementara itu, realisasi investasi Jawa Tengah hingga triwulan III 2025 mencapai Rp 66,1 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,37 persen.
Memasuki tahun 2026, Ahmad Luthfi menegaskan penguatan iklim investasi akan menjadi salah satu prioritas utama. Menurutnya, percepatan pembangunan tidak bisa hanya bergantung pada APBD dan PAD.
“Investasi harus kita genjot agar pembangunan tidak semata mengandalkan APBD dan PAD. Dengan infrastruktur yang sudah disiapkan, percepatan pembangunan di Jawa Tengah akan semakin tinggi,” pungkasnya.
Dengan fondasi yang telah dibangun sepanjang 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis 2026 akan menjadi momentum percepatan pembangunan melalui program-program pro-rakyat yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.







