SOLO, MettaNEWS – Dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental di kalangan generasi muda, Rotary Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar pelatihan Full Day Workshop Kesehatan Mental Aksi Transformasi Gen Z berbasis komunitas.
Workshop yang berlangsung di Grand City Hotel Solo, Sabtu (23/11/2024) diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari 50 perwakilan komunitas. Seperti Duta GenRe Putra Putri Solo, Forum Anak Surakarta, siswa SMA/SMK, serta mahasiswa dari berbagai universitas. Selain itu, 10 guru Bimbingan Konseling (BK) turut hadir sebagai pendamping.
Past District Governor Rotary District 3420 Febri H. Dipokusumo menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang sebelumnya diadakan di Semarang.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi role model bagi kota Solo. Harapannya, ke depan kami bisa bekerja sama dengan pemerintah kota untuk menjangkau lebih banyak anak muda,” ujar Febri.
Ia juga menambahkan bahwa program ini mencakup berbagai aspek, termasuk edukasi dasar dan peningkatan solidaritas di kalangan generasi muda.
District Governor Elect Rotary District 3420 Dyah Anggraeni menyebutkan bahwa pelatihan ini sejalan dengan fokus Rotary dalam pencegahan penyakit (prevention of diseases), khususnya kesehatan mental.
“Dulu, penyakit selalu diidentikkan dengan masalah fisik. Sekarang, kita harus lebih memperhatikan mental, yang sering kali tidak terlihat. Data menunjukkan bahwa sekitar 4,6% remaja di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Pelatihan ini melatih mereka bagaimana mengatasi stres, mencegah perundungan, dan menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing,” katanya.
Dr. Hastaning Sakti, M.Kes., Psikolog, dari Fakultas Psikologi UNDIP, menyoroti pentingnya regulasi emosi dalam mendukung kesehatan mental generasi muda.
“Masalah kesehatan mental pada anak muda bervariasi, mulai dari perundungan, hubungan toxit hingga kasus serius seperti bunuh diri. Di sini, kami mengajarkan regulasi emosi, mengenal potensi diri, dan membangun kepercayaan diri agar peserta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini menekankan 70% praktik dan 30% teori. Metode yang digunakan melibatkan pendekatan informal, seperti sesi diskusi lesehan untuk menciptakan suasana yang nyaman.
“Kami ingin peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami bagaimana mengaplikasikan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Pelatihan ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental, sekaligus menjadi duta yang menyebarkan energi positif dan perubahan di masyarakat.







