SOLO, MettaNEWS – Pemerintah Kota Solo berencana mengubah Pasar Kabangan menjadi lahan parkir. Pasar yang merupakan pusat perbelanjaan sekaligus workshop perabot dari drum bekas ini telah berkali-kali dikabarkan akan dibongkar. Diketahui pada tahun 2018 lalu, pasar seluas 3.660 meter persegi ini akan diubah menjadi taman kota.
Tak dapatkan investor untuk merealisasikan rencana ini, hingga pada saat Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo habis masa jabatannya pada 2021 lalu, rencana tersebut belum juga dapat diwujudkan. Hingga pada masa kepemimpinan Gibran Rakabuming Raka, rencana ini kembali mencuat.
Seolah-olah sudah terbiasa dengan hal ini, para pedagang di Pasar Kabangan menunggu kepastian rencana relokasi. Meskipun merasa khawatir jika pasar ini akan benar-benar direlokasi mereka pun sudah bersiap dengan segala kemungkinan.
Salah satunya, Nani (52) pedagang asal Klaten mengaku akan mencari pasaran pembeli dagangannya lagi jika harus pindah dan bergabung dengan Pasar Jongke.
“Sudah tahu dari kemarin. Dulu itu juga mau dijadiin taman kota, ini kan katanya mau dipindah ke Pasar Jongke. Ya meskipun beda sama sini nanti ya cari pasaran lagi. Nyari pelanggan baru lagi tapi ya sabar,” ucap Nani saat ditemui MettaNEWS di kios Pasar Kabangan, Senin (30/5/2022).
Nani yang sudah berjualan sejak 40 tahun silam menyebut pasar ini sebelumnya berada di Pasar Kadipolo pada tahun 1989. Ia pun tetap setia menekuni berjualan peralatan bekas berbahan logam, karet dan plastik hingga kini.
“Anak saya dulu masih TK sampai sekarang sudah mau lulus SMP. Ini jualannya tong plastik tong sampah kalau di sebelah itu jimbeng buat bakso. Ini buat pot atau buat rebusan juga bisa. Ini bekas orang sudah terpakai. Kalau ada orang jual saya beli terus saya potong sendiri. Harganya macem-macem ada yang Rp 150 ribu, Rp 80 ribu,” ucapnya.
Mengaku hanya akan mengikuti aturan pemerintah, Nani akan memindahkan semua barang dagangannya jika sudah ada informasi pasti.
“Ya yang mindah pemerintah sini manut. Ya deg-degan mikir juga soalnya susah sudah mapan di sini dipindah lagi,” tutupnya.
Sementara itu, Ning (40) pedagang asal Cemani, Grogol Sukoharjo menyebut semua pedagang Pasar Kabangan kurang setuju apabila pasar ini akan direlokasi. Hal ini lantaran para pedagang sudah nyaman berjualan di tempat yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi sumber pendapatan.
“Kalau dipindah lagi itu kan nanti pasarannya juga sudah beda. Konsumen pelanggannya juga nanti berantakan. Tapi kalau pemerintah ibaratnya ya bisa nggak bisa tapi harus maka sini juga semua pedagang pasrah. Sebenarnya kalau dari hati nurani pedagang jujur nggak ada yang mau, enakan di sini,” sebut Ning.
Merasakan hal yang sama dengan pedagang lain, Ning menyebut para pedagang menyayangkan langganannya. Menghawatirkan pelanggan akan bingung jika lokasi pasar dipindah. Ning yang sudah mengetahui rencana lahan parkir ini menyebut rencana tersebut ada bahkan sejak Solo masih dalam era kepemipinan Jokowi.
“Saya dengernya sudah lama mau dipindah tapi denger lagi akhir-akhor ini. Setahun sama Pak Gibran ini katanya mau (dipindah). Dulu pas Pak Jokowi jadi Wali Kota itu kan sini juga mau dipindah. Denger-denger mau pindah mau jadi parkiran buat lahan batik sama Nikmat Rasa,” tambahnya.
Namun ia mengaku akan mengikuti aturan jika memang harus pindah meskipun para pedagang sepakat untuk menolak. Tak ada pilihan lain, untuk bisa meneruskan usaha turun temurun keluarganya Ning akan tetap melanjutkan berjualan di lokasi pasar yang baru yakni Pasar Jongke.
“Misalnya kalau harus pindah saya mintanya di Pasar Jongke kan deket. Tapi dulu itu juga denger-denger pindah ke Mojosongo, ya sini tetep berontak. Jauh tetep nggak mau, kalau Jongke tempatnya enak mungkin pada mau. Kalau misalnya saya dipindah ke Mojosongo saya jujur akan saya kontrakkan. Saya nggak mau,” tukasnya.








