Putus Rantai Penyakit Kentang dari Akarnya, KKN 83 UNS 2026 Kawal Peningkatan Kapasitas Kelompok Tani Taruna Maju Makmur, Kolaborasi UNS dan Desa Jogonayan

oleh
oleh

MAGELANG, MettaNEWS – Sektor pertanian merupakan urat nadi perekonomian bagi masyarakat Desa Jogonayan khususnya budidaya kentang. Namun, dalam beberapa musim tanam terakhir, produktivitas kentang yang menjadi komoditas andalan warga menghadapi tantangan serius akibat munculnya gejala layu.

Jika dibiarkan, kondisi ini ibarat “bom waktu” yang siap memicu kerugian tak terkendali serta mengancam ketahanan pangan lokal. Upaya penyelamatan komoditas ini menjadi langkah esensial yang beririsan langsung dengan target pemenuhan ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.

Merespons keresahan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 83 Universitas Sebelas Maret (UNS) 2026 merajut sinergi dengan Pemerintah Desa Jogonayan dan PT Agro Lestari Merbabu.

Kolaborasi ini mewujud dalam sebuah penyuluhan pertanian terpadu di TPA An-Nisa, Dusun Deles, Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, dengan menyasar Kelompok Tani Taruna Maju Makmur sebagai audiens utamanya.

Sinergi lintas elemen ini sekaligus mengimplementasikan prinsip SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang dirancang tidak hanya sebagai pendampingan teknis, tetapi juga sebagai katalisator perubahan untuk membangun ketahanan pangan desa secara kolaboratif dan jangka panjang.

Keresahan di lapangan kerap kali berujung pada penanganan yang kurang tepat sasaran. Ketidaktahuan mengenai takaran yang ideal membuat sebagian petani mengambil langkah spekulatif. Hal ini tergambar jelas dari penuturan salah satu warga.

“Lahan kami biasanya menggunakan beberapa jenis pestisida, seperti maher, daconil, dan semacamnya. Apabila dirasa kurang mantap, kami tidak memperhatikan dosis yang dianjurkan, tetapi menambahkan lagi hingga dirasa mantap” ucap salah satu petani.

Menyadari bahwa penanganan wabah tanaman tidak bisa sekadar meraba-raba, tim KKN 83 UNS 2026 mencoba mengurai benang kusut ini melalui beberapa tahapan. Sebagai langkah pembuka, tim sebelumnya telah turun langsung melakukan pengambilan sampel tanaman kentang yang layu di Dusun Deles.

Sampel tersebut kemudian melalui proses pengujian laboratorium untuk menelisik dalang di balik gejala penyakit yang menyerang lahan warga. Dari hasil uji klinis tersebut, terungkap fakta bahwa biang keladinya adalah serangan patogen Phytophthora dan jamur Fusarium Oxysporum. Data ini kemudian menjadi kompas bagi tim untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya yang paling tepat sasaran bagi lahan di Desa Jogonayan.

Berbekal temuan laboratorium, tim melangkah pada tahap pemaparan materi. Para petani diajak untuk lebih peka membaca kondisi tanaman, seperti mengenali perubahan warna daun, nekrosis (kematian jaringan), hingga tanda-tanda busuk pada batang.

Wawasan mereka diperkaya dengan strategi pengendalian terpadu, mulai dari seleksi benih sehat, penataan drainase lahan, hingga penggunaan agen hayati. Pendekatan ini didorong untuk menjaga ketangguhan ekosistem pertanian secara jangka panjang, selaras dengan prinsip tata kelola lingkungan yang tangguh terhadap krisis.

Puncak dari rangkaian edukasi ini adalah membekali petani dengan pemahaman teknis terkait tata cara pencampuran obat-obatan pertanian yang bijak. Pengetahuan ini krusial untuk mencegah resistensi hama sekaligus mengawal praktek budidaya yang mematuhi standar Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDGs 12) demi menjaga kualitas tanah di masa depan.

“Saat melakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida, sebaiknya menggabungkan beberapa bahan aktif dengan prinsip yang berbeda, jangan menggunakan prinsip yang sama. Contohnya, pestisida kontak dengan pestisida sistemik, dan jangan pestisida kontak dengan pestisida kontak, supaya dari tanaman bisa terlindungi dari dalam” ujar Agus Wibowo, S.P., Founder PT Agro Lestari Merbabu.

Pendekatan partisipatif yang diusung dalam kegiatan ini berhasil memantik antusiasme warga. Dialog dua arah mengalir hangat, berbalut ragam pengalaman lapangan, termasuk siasat dalam menghadapi cuaca ekstrem yang sering kali memperburuk tingkat serangan penyakit.

Kepala Desa Jogonayan turut menyampaikan apresiasi mendalam atas hadirnya solusi akademis di tengah-tengah problematika masyarakat. Sinergi ini dinilai sebagai wujud nyata kepedulian perguruan tinggi terhadap denyut nadi kehidupan desa.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada satu pertemuan, melainkan berlanjut dalam bentuk pendampingan yang konsisten sehingga hasilnya benar-benar dirasakan oleh para petani,” sautnya.

Tidak hanya berbagi ilmu, kolaborasi antara KKN 83 UNS 2026 dan Desa Jogonayan ini menjadi momen berharga untuk mempererat solidaritas antar petani.

Melalui pemahaman yang lebih komprehensif, diharapkan risiko gagal panen dapat ditekan secara signifikan, sehingga asa untuk mencapai ketahanan pangan dan peningkatan kapasitas petani yang paripurna bukan lagi sekadar impian.