Perhimpunan Dokter Spesialis THT, Perhati KL Gelar Pelantikan Pengurus

oleh
oleh
Perhati
Pelantikan pengurus perkumpulan dokter spesialis THT Perhati-KL periode 2022-2025, Minggu (12/2/2023) di Ndalem Wuryoningratan Solo | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (dokter spesialis THT) Bedah Kepala dan Leher Indonesia (Perhati-KL) Cabang Solo melakukan pelantikan pengurus periode 2022-2025 pada Minggu (12/2/2023).

Hadir pada pelantikan tersebut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jawa Tengah, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhati (PP)-KL, Ketua Perhati-KL Solo. Hadir juga Sekjen PP Perhati-KL dan Sekjen IDI wilayah Jawa Tengah.

Pada pelantikan tersebut juga berlangsung peresmian Komunitas Kanker Laring-Nasofaring atau Kelana. Pelantikan ini juga bertepatan dengan World Cancer Day, yang jatuh pada tanggal 4 Februari.

Ketua Panitia Pelantikan, dr. Anton Christanto M. Kes, SpTHT-KL, menyampaikan, seremoni pelantikan sebagai pengingat bahwa para pengurus organisasi sudah mengucapkan sumpah dan janjinya. Yang menunjukkan adanya pemberian kepercayaan dan amanah dari seluruh anggota organisasi. Ada tanggung jawab kepada Tuhan dan anggota yang memberi amanah.

“Pelantikan tahun 2023 ini beda dengan pelantikan tahun-tahun sebelumnya yakni pada 2016 dan 2019. Keluarnya Pedoman Ortala IDI Agustus 2019 hasil muktamar IDI tahun 2018 di Samarinda yang menyatakan bahwa Perhimpunan Dokter Spesialis tingkat cabang ada di bawah MPPK IDI Wilayah. Jadi yang dulu pengurus Perhati-KL Cabang Solo yang melantik adalah Ketua Umum PP (Pengurus Pusat). Kalau sekarang pelantikan oleh Ketua IDI Wilayah Jawa Tengah disaksikan oleh Ketua Umum PP Perhati-KL,” jelas Anton.

Perhati-KL Menginisiasi Kelana

Ketua IDI Wilayah Jawa Tengah melantik dr. Putu Wijaya Kandhi sebagai Ketua Perhati-KL Cabang Solo.

Usai pelantikan, dr. Putu menjelaskan, Perhati-KL merupakan perhimpunan dokter ahli THT. Perhati-KL di Surakarta dan sekitarnya ada tujuh kabupaten. Meliputi Solo, Sragen, Klaten, Sukoharjo, Boyolali, Wonosobo, dan Salatiga. Saat ini ada 47 anggota Perhati-KL yang semuanya dokter spesialis THT.

“Harapan kami ke depan Perhati ini semakin lebih professional dalam bidangnya masing-masing. Karena saat ini masyarakat menuntut keprofesionalan. Dan sesuai dengan semboyan kita yakni profesional, sejahtera, guyub rukun dan gayeng. Jadi meskipun kelihatan serius kita juga ada unsur gayengnya,” tutur dr. Putu yang kembali menjabat sebagai ketua Perhati setelah periode tahun 2019.

Dokter Putu mengungkapkan di Indonesia belum banyak komunitas yang peduli pada pasien kanker Laring-Nasofaring.

“Kita menginisiasi suatu komunitas baru yakni Kelana. Saat ini ada 70 an anggota komunitas Kelana. Meliputi pasien, keluarga pasien, survival (mantan pasien yang sudah sembuh). Komunitas ini sebagai wadah karena selama ini mungkin pasien masih terpencar dan tidak mempunyai wadah sendiri,” ungkap dr. Putu.

Lewat komunitas ini dr. Putu berharap bisa melakukan suatu program kerja dan lebih fokus dalam aksi-aksi sosial seperti donasi.

“Untuk program kepengurusan Perhati-KL yang baru kita akan konsolidasi dulu. Dalam waktu dekat aka nada rapat kerja untuk pembahasan program. Yang utama salah satunya adalah meningkatkan profesionalisme. Karena setelah lulus dari spesialis THT profesionalitas itu harus terus meningkat. Dengan pelatihan-pelatihan dan memberikan manfaat untuk masyarakat,” ungkap dr. Putu.

Menurut data IDI, Indonesia menjadi negara dengan angka kematian tertinggi kedua akibat karsinoma nasofaring dengan jumlah penderita (Cina (21.300 orang), Indonesia (7.391 orang), Vietnam (2.885 orang), India (2.836 orang), dan Thailand (1114 orang). Begitu juga dengan kanker laring diperkirakan menyebabkan kematian sebesar 0,9% per 100.000 orang tiap tahunnya.

Pemerataan Dokter Spesialis THT di Indonesia

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Tengah, dr. Djoko Handojo, Sp.B(K)Onk, memberikan selamat dan dukungan kepada kepengurusan Perhati-KL Cabang Solo Periode 2022 – 2025.

“Saya kira ini sebagai pengembangan dari setiap perhimpunan yang ada dalam naungan IDI seperti ini, ada THT. Ada lagi yang lainnya seperti anak, penyakit dalam, bagian kandungan, bagian bedah dan lain sebagainya. Serta banyak sekali laboratorium klinik dan salah satunya adalah THT. Jadi saya kira ini merupakan bagian dari IDI dan sekaligus merupakan bagian dari pelayanan kesehatan di untuk masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengus Pusat Perhati-KL Indonesia, Dr. dr. Yussy Afriani Dewi, SP. THT-BKL(K), M.Kes, FICS, memberikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru. Pelantikan cabang Solo ini yang keempat dari 28 cabang yang ada. Di Indonesia, ada 1.800 lebih anggota yang terbagi menjadi 28 cabang.

“Inikan baru, kepengurusan baru dan bertepatan dengan selesai Pandemi. Jadi memang banyak sekali program-program yang akan kita jalankan yang tertunda diwaktu pandemi kemarin dan beberapa program baru juga. Program kita di periode ini banyak sekali. Kita itu ada slogan Setara namanya, Sejahtera kemudian Ceria. Jadi intinya seluruh anggota THT kita itu adalah Setara,” ujar dr. Yussy.

Dokter Yussy mengatakan yang harus menjadi perhatian bersama adalah belum meratanya jumlah dokter spesialis di Indonesia khususnya spesialis THT.

“Yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama adalah belum meratanya keberadaan dokter THT di Indonesia. Tetapi kami belum punya datanya, mungkin kami akan bekerja sama dengan Dinkes untuk pemerataan, kita samakan. Tidak ada yang satu kota banyak dokter THT nya tapi di daerah lain ada yang tidak punya,” bebernya.