Pengunjung Car Free Day Panik Mengira Menara Masjid Sriwedari Roboh, Ada yang Belum Bayar Jajan

oleh
Solo Car Free Day
Pedagang kaki lima (PKL) di Solo Car Free Day (SCFD), Minggu (29/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Ratusan warga yang sedang bersantai di Car Free Day Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (29/5/2022) pagi panik. Tipuan mata karena pergerakan awan, membuat menara Masjid Agung Sriwedari yang belum selesai dibangun, seolah-olah roboh. Mereka pun panik berusaha menyelamatkan diri.

Para pengunjung berusaha menyelematkan diri agar tidak terkena robohan menara. Terbagi menjadi beberapa titik, para pengunjunh nampak menjauhi sisi timur Sriwedari. Para pengujung yang awalnya menikmati sajian makanan di trotoar Sriwedari juga ikut berhamburan

Setelah berapa waktu, yakni sekira pukul 08.36 WIB tidak ada menara roboh. Dampaknya, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) mengaku para pengunjung ada yang tidak membayar makanan atau pun minuman yang telah dipesan.

Salah satunya Miyati, pedagang nasi liwet pada saat kejadian ikut lari karena panik ia pun meninggalkan lapaknya.

“Itu kan pada lari semua jadi ya panik juga dagangannya saya mawut. Jadi ini tadi saya beresi. Nggak papa lah rejeki bisa dicari kalau ambruk ini kan di bawahnya pas. Jadi lari sampai hotel,” ucap Miyati saat ditemui MettaNEWS, Minggu (29/5/2022).

Miyati menjelaskan pada saat kejadian para pengujung yang sedang menikmati nasi liwetnya langsung berhamburan menjauh.

“Masih makan ya pada lari. Ya ada yang kari nggak bayar. Paling Minggu depan balik ke sini kan tadi panik. Terus ada yang kembali. Tapi ada yang abis lari ya sudah,” terangnya.

Tidak bisa menghitung jumlah pengunjung yang belum bayar, Miyati masih berharap para pengujung akan kembali.

“Saya sampai lupa. Dari kemruyuk (kerumunan) karena pas laris-larisnya sampai saya nggak tahu. Pokoknya lari aja,” ucapnya.

Miyati juga menyebut terdapat para pengunjung yang jatuh saat berlarian. Meskipun suasana sangat kacau pada saat itu, hingga menyebabkan sejumlah dagangan PKL berantakan namun ia mengaku tak kehilangan barang.

“Nggak ada yang ilang (barang) masih utuh. Ini tadi ya ada yang balik bayar karena sandal sepatunya ketinggalan. Alhamdulillah nggak rugi ini juga habis,” tutupnya.

Sementara itu, Wahyu mengaku terdapat pengujung yang tidak membayar karena lari.

“Ada yang nggak bayar tapi cuma dikit. Saya nggak ngitung karena tadi pas lagi banyak antreannya ada sebagian yang udah dapet ada sebagian yang belum. Saya juga ikut lari karena panik juga kan,” ucap Wahyu.

Yang juga ikut lari meninggalkan lapaknya mengaku suasana pada saat kejadian sangat ricuh. Menyebut banyak lapak pedagang yang berantakan hingga minyaknya tumpah.

Wahyu menaranya anteng-anteng aja langitnya yang gerak. Tapi karena yang lain kari jadi ya ikut lari. Kalau dilihat itu langitnya yang gerak,” tambahnya.

Tidak mengalami kerugian yang banyak, ia mengaku masih mendapat pembeli usai kejadian. Ia yang langsung kembali untuk berjualan mengaku akan kembali berjualan di SCFD pada waktu mendatang.

Di sisi lain, MettaNEWS bertemu dengan Eni salah seorang pedagang tenongan asal
Bekonang, Sukoharjo yang mengaku tidak panik saat kejadian. Tetap berdiam diri menjaga lapaknya, Eni menyebut ada pembeli yang belum mengambil pesanan.

“Biasa kan pergantian awan putih ke biru ya bergerak aja gitu. Ada takutnya tapi saya ga denger suara apa-apa. Pada panik semua dagangan pada ditinggalin semua. Kalau satu dua tiga orang teriak ya pada lari semua ikut. Saya diem dan lihat emang ada apa,” ucap Eni.

Karena pesanan pembeli yang tak kunjung diambil membuat Eni memberikan ke orang lain sebagai bagi-bagi berkah.

“Udah bayar belum ya nggak tahu. Belum dapat jajanannya makanya kalau ke sini lagi mau saya kasih kan kasihan. Sekarang udah saya kasih ke orang lain saya berkahin,” tutupnya.