SOLO, MettaNEWS – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah pendaftar mahasiswa asing di tahun 2025.
Pada batch pertama saja, UMS menerima sebanyak 5.647 pendaftar internasional dari berbagai belahan dunia. Angka ini menunjukkan peningkatan tajam dan menjadi indikator kuat tumbuhnya kepercayaan global terhadap kualitas pendidikan di UMS.
Wakil Rektor V UMS, Prof. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D., mengungkapkan bahwa pencapaian ini mempertegas posisi UMS sebagai perguruan tinggi dengan reputasi internasional yang terus menguat.
“Kalau tahun lalu total pendaftar mencapai 8.456, tahun ini baru batch pertama saja sudah lebih dari 5.647. Artinya, kepercayaan masyarakat global terhadap UMS semakin meningkat,” ujarnya, Kamis (5/6).
Kendati membanggakan, peningkatan jumlah pendaftar juga menuntut UMS untuk memperketat seleksi dan memastikan kesiapan akademik para calon mahasiswa.
Dalam rangka menjawab tantangan global, UMS akan terus mendorong strategi baru untuk memperkuat mobilitas internasional—baik inbound maupun outbound.
“Target kami jelas: mencetak Global Citizen yang siap berkontribusi di tingkat internasional, tetapi tetap membawa misi dakwah dan nilai-nilai luhur Muhammadiyah,” tegas Supriyono.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama dan Urusan Internasional (BKUI) UMS, Dr. Andy Dwi Bayu Bawono, menjelaskan bahwa proses penerimaan mahasiswa asing kini dibagi menjadi dua batch per tahun. Batch kedua direncanakan akan dibuka pada Juli mendatang, setelah penyelesaian proses seleksi dan program pengenalan Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) di batch pertama.
“Kami optimistis tahun ini bisa menembus 10.000 pendaftar. Ini tren yang sangat positif,” ungkapnya.
UMS juga menawarkan tiga skema pembiayaan bagi mahasiswa asing, yaitu beasiswa penuh (termasuk biaya hidup dan pendidikan), beasiswa parsial, serta jalur mandiri. Beberapa mahasiswa juga memperoleh dukungan dari lembaga seperti Lazismu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hingga beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari pemerintah Indonesia.
Secara geografis, mayoritas pendaftar berasal dari Asia Selatan seperti Pakistan dan Bangladesh, serta dari berbagai negara di Afrika. Selain itu, UMS juga menjangkau mahasiswa dari Asia Tenggara, bahkan hingga negara-negara seperti Fiji dan Madagaskar.
Menurut Andy, kehadiran mahasiswa asing bukan hanya memperkaya atmosfer kampus secara multikultural, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi pendidikan dan perluasan misi Muhammadiyah di tingkat global.
“Inklusivitas ini penting. Kami ingin para alumni UMS nantinya menjadi agen perubahan di negara asalnya, sekaligus membawa nilai-nilai sosial dan dakwah khas Muhammadiyah ke dunia internasional,” pungkasnya.







