SOLO, MettaNEWS- Kota Solo punya cara unik untuk menandai waktu berbuka puasa Ramadan. Salah satunya ialah dengan membunyikan sirine yang terletak di Kompleks Sriwedari, tepatnya di belakang Gedung Wayang Orang. Sirine yang sudah ada sejak zaman Belanda tersebut pasalnya sudah tidak dioperasikan kembali sejak dua tahun lalu.
Berada di kawasan yang sama, sirine ini berdiri didekat Masjid Al Hidayah. Jemaah Masjid Al Hidayah Dalem Sriwedari, Supri (55) menyebut sirine Sriwedari terakhir dioperasikan pada 2019 sebagai penanda berganti tahun ke 2020.
“Sebelum Covid-19 itu masih dibunyikan. Itu kan ada gensetnya belum lama dibetulin. Kalau dulu setelah sirine bunyi berarti sudah waktunya berbuka puasa jadi masjid ini langsung azan,” tutur…
Masjid Al Hidayah yang merupakan masjid umum, dikatakan Supri jemaah berasal dari masyarakat luas tidak hanya Solo. Sehingga keberadaan sirine Sriwedari sangat membantu pendatang untuk mengetahui waktu berbuka puasa di Solo. Dirasakan Supri dengan kembali diaktifkannya sirine akan lebih bermanfaat dan terawat.
“Maajid ini untuk para pendatang, jadi kadang ada yang nggak tahu waktu. Kalau pas bunyi itu lamanya kurang lebih 2 menit. Ada pengaturannya bunyi berapa lama,” kata Supri saat ditemui di Masjid Al Ikhlas, Rabu (6/4).
Sirine Sriwedari sangatlah keras hingga dapat didengar sampai jarak 3 hingga 5 kilometer. Dengan bunyi yang melengking tinggi diawal dalam beberapa menit lalu suaranya akan menurun secara berkala. Hanya dibunyikan satu kali jelang berbuka puasa, Supri menyebut sirine Sriwedari merupakan kenangan masa kecil yang membuatnya teringat dengan ciri khas lampu sorot yang ada pada sirine.
“Dulu itu pas Sriwedari masih ramai, di atas (sirine) ada soklenya (lampu sorot) yang dihidupkan pas Ramadan sampai mau Lebaran. Pasar malam sebulan penuh, meriah sekali. Semua pertunjukan seni, hiburan, jualan makanan dan mainan semua ada. Bagi Wong Solo dan sekitarnya, tak lengkap menyambut Lebaran tanpa ke Maleman Sriwedari. Lampu sorot itu yang dulu menjadi tanda kalau di sini ada Maleman, bisa dilihat dari semua penjuru kota,” ungkapnya.

Zaman yang telah berubah, Sriwedari pun juga alami perubahan. Disebut sebagai Kebun Raja, Kompleks Sriwedari pada era Sinuhun Paku Buwono X bertahta merupakan taman hiburan dan kebun binatang, hingga tahun 1980-an kebun binatang dipindah ke Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) . Supri menambahkan pada masa itu Sriwedari banyak dikunjungi wisatawan.
Sirine Sriwedari tersebut dikatakan Supri masih aktif jika akan digunakan kembali. Saat ini acuan untuk berbuka puasa mengacu pada jadwal waktu ibadah Ramadan yang ada.
Sementara itu, ditempat lain yakni di Masjid Agung Surakarta juga terdapat sirine yang dibunyikan sebagai pertanda berbuka puasa.
Pernah gunakan petasan
Kepala Tata Usaha Masjid Agung, Muhammad Alip mengatakan sebelum digunakannya sirine, pada tahun 1980-an masyarakat Solo telah memiliki tradisi unik selama Ramadan yakni menyalakan petasan dhul, sebagai pertanda berbuka puasa.
Dhul ini dinyalakan dari bawah dan melesat serta meledak ke udara hingga mencapai ketinggian seratusan meter. Bunyi petasan ini menggelegar ke pelosok Solo hingga beberapa kilometer. Ada dua masjid yang setiap hari membunyikan petasan udara seperti itu. Selain Masjid Agung, juga Masjid Tegalsari di Laweyan.
“Karena perubahan zaman dan memiliki risiko yang terlalu tinggi maka sekitar tahun 1980-an pemerintah melarang tradisi ini diadakan. Kalau sekarang ini kita pakai bunyi sirine,” ungkap Muhammad Alip saat ditemui di Masjid Agung Keraton Surakarta, Selasa (5/4) lalu.
Suara sirine tersebut dinyalakan melalui menara yang ada di Masjid Agung Keraton Surakarta. Menggunakan 8 pengeras suara yang terpasang di menara tersebut, Alif menuturkan awal pengoperasian sirine sekira 10 tahun lebih. Dibunyikan secara berasamaan dengan bedug, suara nyaring sirine bisa terdengar sampai wilayah Kadipolo, Laweyan.










