SEMARANG, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memperkuat pelaksanaan Program Pesantren Obah melalui sinergi antara pesantren, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah. Untuk pertama kalinya, Pemprov Jateng melalui Biro Kesra dan Penanggulangan Kemiskinan bersama Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah menggelar diskusi yang mempertemukan dunia pesantren dengan perguruan tinggi.
Diskusi bertema “Sinergi Pesantren, Perguruan Tinggi, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk Generasi Berakhlak, Bermanfaat, dan Bermartabat” tersebut digelar di Pondok Pesantren Mahasiswa Kebangsaan, Tembalang, Semarang, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan yang dipandu dosen FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Dr. Phil. Wahid Abdulrahman itu berfokus membahas penguatan kolaborasi antara pesantren mahasiswa, kampus, dan Pemprov Jateng.
Sembilan pengasuh pondok pesantren mahasiswa di wilayah Tembalang hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari Pesantren Galang Sewu, Pesantren Nurul Hikmah, Pesantren Anwarul Amin, Pesantren Kebangsaan, Pesantren Madinah Munawaroh, Pesantren Al Fattah, Pesantren Al Fadhilah, Pesantren Suleymaniyah, dan Pesantren Insanul Ilmi.
Selain itu, kegiatan juga dihadiri takmir masjid kampus serta pejabat bidang kemahasiswaan dari sejumlah perguruan tinggi di wilayah Tembalang.
Pesantren Obah Tak Hanya Fokus Infrastruktur
Kepala Biro Kesra dan Penanggulangan Kemiskinan Pemprov Jateng Syamsudin Isnaeni mengatakan, Program Pesantren Obah merupakan salah satu program prioritas Jawa Tengah periode 2025–2030.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan dan bantuan infrastruktur pesantren, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) santri dan pengasuh pesantren.
Sejumlah program yang masuk dalam Pesantren Obah antara lain bantuan sarana dan prasarana pesantren, beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren, insentif guru agama, program santripreneur, beasiswa Mahasantri, serta Santri Penggerak.
“Pesantren mahasiswa memiliki karakter yang khas, di mana fokus santri yang merupakan mahasiswa adalah untuk menyelesaikan tugas akademik di kampus. Dengan kondisi ini, pesantren perlu adaptif,” kata Syamsudin.
Menurutnya, karakteristik pesantren mahasiswa membutuhkan pola pembinaan yang mampu mengakomodasi aktivitas akademik mahasiswa sekaligus memperkuat pendidikan karakter dan keagamaan.
Beasiswa Santri Penggerak Jadi Jembatan Pesantren dan Kampus
Ketua LFSP Jateng Prof. Hasyim Muhammad mengatakan, program Beasiswa Santri Penggerak menjadi salah satu bentuk fasilitasi pemerintah untuk memberikan kesempatan sekaligus penghargaan kepada mahasiswa yang memilih mondok.
Program tersebut, lanjutnya, juga menjadi bentuk kehadiran Pemprov Jateng melalui LFSP dalam membangun sinergi yang lebih kuat antara pesantren dan perguruan tinggi.
Fasilitasi kerja sama antara pesantren dan perguruan tinggi tersebut nantinya akan dikembangkan di tingkat kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Dengan demikian, kolaborasi tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat berkembang menjadi program konkret yang mendukung mahasiswa santri sekaligus memperkuat peran pesantren dalam pembentukan karakter generasi muda.
Undip Dorong Rekognisi Mahasiswa yang Mondok
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip Prof. Dr.rer.nat. Heru Susanto menilai sinergi antara pesantren dan perguruan tinggi sangat penting, terutama di tengah berbagai dinamika kehidupan mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa yang menjalani pendidikan di pesantren memiliki nilai tambah karena mendapatkan pembinaan keagamaan dan karakter di luar pendidikan akademik.
“Mahasiswa yang mau mondok memiliki nilai lebih sehingga dapat diberikan penghargaan berupa rekognisi untuk sejumlah mata kuliah seperti agama Islam,” katanya.
Gagasan tersebut membuka peluang agar aktivitas pendidikan mahasiswa di pesantren dapat semakin terhubung dengan sistem akademik perguruan tinggi melalui bentuk rekognisi yang sesuai.
Pesantren dan Kampus Perlu Bersinergi Cegah Persoalan Mahasiswa
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Fadhilah Meteseh, KH Iman Fadhilah, mengapresiasi fasilitasi yang dilakukan Pemprov Jateng. Menurutnya, pesantren dan perguruan tinggi perlu membangun komunikasi yang lebih intens untuk menghadapi berbagai persoalan mahasiswa di luar aspek akademik.
Ia menyoroti sejumlah persoalan yang perlu mendapatkan perhatian bersama, mulai dari pergaulan bebas, kekerasan, hingga persoalan ideologi.
Menurutnya, pencegahan dan penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan sinergi antara pesantren, perguruan tinggi, dan pemerintah.
“Ke depan harus ada forum yang lebih intens antara pesantren dan perguruan tinggi yang diadakan secara rutin,” harapnya.
Melalui penguatan sinergi tersebut, Program Pesantren Obah diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas sarana pesantren, tetapi juga mampu memperkuat kualitas SDM santri, membangun karakter mahasiswa, serta menciptakan generasi Jawa Tengah yang berakhlak, bermanfaat, dan bermartabat.








