Pemilihan Suara dari Coblos Kertas Diganti Electronic Voting, Amien Rais Sebut Bisa Hemat Rp 40 Triliun

oleh
oleh
Amien Rais
Ketua Majelis Syuro Partai Umat Amien Rais menjadi pembicara Pra Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiah ke-48 di Edutorium, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Senin (30/5/2022). | Metta NEWs / Puspita

SOLO, Metta NEWS – Ketua Majelis Syuro Partai Umat Amien Rais menyampaikan usulan untuk mengganti alat pemilihan umum yakni kertas yang berisi calon-calon yang dicoblos diganti dengan sistem elektronic voting. 

“Kalau bisa dibuat seperti di negara maju tidak coblos kertas tapi tinggal pencet saja. Ada nama-nama dan posisinya,” jelas Amien Rais usai menjadi pembicara Pra Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiah ke-48 di Edutorium, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Senin (30/5/2022). 

Tokoh politik senior ini menyebut dengan mengganti sistem pencoblosan manual dapat menghemat biaya sekitar Rp 40 triliun. 

“Kalau bisa diganti dengan sistem dipencet katanya akan menghemat sekitar Rp 40 triliun,” jelasnya lagi. 

Jelang Pemilu tahun 2024 nanti, Amien Rais juga mengatakan kriteria apa yang wajib dimiliki oleh calon Presiden menggantikan Presiden Joko Widodo nanti. 

“Kita harus hati-hati karena dia akan jadi lurahnya Indonesia yang memimpin 270 juta lebih manusia yang beragam agamanya, beragam etnis suku bangsanya, beragam tradisi budayanya dan keberagaman lainnya,” jabar Amien.

Meskipun partainya belum diverifikasi dan masih dalam etape kedua Amien menegaskan tidak prematur berkomentar mengenai pemilu 2024. 

“Menurut saya apalagi saya punya partai kan belum melalui etape kedua, belum diverifikasi, kalau sudah pun saya akan berbicara sebagai ketua majelis syuro tentang Pilpres ini. Kalau ada yang bilang masih lama dan jangan sekarang menurut saya tidak apa-apa berpendapat sekarang,” tegasnya.

Kemudian ia menyebut sosok pemimpin yang nantinya akan memimpin Indonesia harus mempunyai kiblat ‘Indonesia’ bukan kiblat ke bangsa lain. 

“Untuk Indonesia di masa depan itu diperlukan pemimpin nasional dengan beberapa kriteria. Yang jelas adalah yang betul-betul punya komitmen untuk memelihara ideologi negara, Pancasila, dan betul-betul berdedikasi pada Bhineka Tunggal Ika dan yang mampu menjaga kedaulatan Indonesia,” tandasnya. 

Amien menambahkan Indonesia sebagai negara demokrasi, para capres dan cawapres  menawarkan ide-ide yang akan dipilih oleh masyarakat Indonesia. 

“Negara demokrasi ini semacam pasar bebas yang masyarakatnya bisa memilih ide-ide yang ditawarkan para capres dn cawapres itu. Nanti akan kelihatan, yang miring ke negara barat, timur ataupun yang cinta Indonesia akan kelihatan,” pungkas Amien.