SOLO, MettaNEWS – Kebo bule bernama Somali begitu susah dipancing untuk meneruskan langkahnya ke Magangan kompleks Keraton Surakarta. Setidaknya proses pemindahan kebo keramat ini membutuhkan waktu hingga 4 jam lamanya. Nyai Juminten dan ketiga kebo betina lainnya telah lebih dulu masuk ke Magangan pada pukul 13.00 WIB. Sedangkan Somali mandek tak berpindah dari area Sitinggil hingga pukul 16.00 WIB.
Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo KP Dani Nur Adiningrat turut membantu dengan menggunakan janur kuning sebagai pecutan angin agar kebo ini mau berjalan. Pihak pengangeng keraton yang terlibat memancing dengan jagung dan umbi, Somali justru tertarik untuk memakan rumput hijau yang ia temui di Sitinggil.
Sudah 3 jam Somali tak ingin pindah lokasi, mobil pick up pun dikerahkan untuk memboyong Somali ke Magangan. Namun opsi ini harus diurungkan lantaran pihak keraton tak ingin memaksa kebo ini naik. Lantaran cuaca yang begitu terik, pihak keraton mendatangkan PDAM untuk menyemprotkan air ke tubuh Somali.
Pengageng Parentah Keraton Solo KGPH Adipati Dipokusumo membeberkan pihaknya ingin 5 kebo dikarantina untuk persiapan upacara adat Kirab Malam Satu Sura yang rencananya akan digelar Jumat (29/7) malam.
“Setelah itu ada kegiatan ini ada rangkaian acara malam 1 Sura tahun baru Jawa untuk mengiringi rangkaian pusaka salah satunya adalah pusaka Kiai Slamet nah untuk itu di karantina supaya di dalam upacara nanti Jumat malam semua sudah terkondisikan, terawat dan sehat dan bisa dideteksi kesehatanipun,” kata Kanjeng Dipo kepada MettaNEWS, Selasa (26/7/2022).
Alasan Memilih Magangan
Magangan dipilih sebagai tempat karantina yang pas. Pihaknya pun juga terus berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) untuk memantau kesehatan kebo-kebo tersebut.
“Dulu tempat kegiatan para abdi dalem yang magang untuk persiapan kegiatan-kegiatan di keraton upacara. Kenapa di Magangan? Ini karena kebo sudah ada yang mati, sedangkan saran Dinas peternakan segera harus ada tindakan dalam hal ini dipisahkan antara yang sudah terpapar PMK dengan yang masih sehat,” jelasnya.
Hanya membawa lima ekor kebo ke Magangan pihaknya menyebut terdapat kebo paling muda berusia 3 tahun yang juga pernah dilibatkan dalam Kirab 1 Sura. Pihaknya pun menaruh harap agar Kirab 1 Sura dapat dilakukan sesuai prosedur.
“Insyaallah ngaten, dengan standarisasi kita tetep prosedur dari Prokes. Karena dari dinas peternakan setiap hari akan terus dikontrol kesehatannya, kita harus sesuai Prokes. Tetapi untuk persiapan sudah semua,” terangnya.
“Dulu kan modelnya kan tidak dikandang begini. Jadi saya sampaikan kebo Kiai Slamet itu jumlahnya brapa kita pun tidak tahu, karena mereka berkeliaran sampai ke tempat-tempat jauh. Biasanya menjelang 1 Sura mereka seperti paham, pulang ke Keraton,” katanya.
Nantina, menjelang kiran, kebo-kebo yang bertugas akan dikalungi janur.Dipokusumo menyebut janur syarat akan makna yang akan terus dipakaikan selama karantina maupun jika kirab diadakan.
“Janur itu kan jabatan nur, segala kehidupan itu ada yang kagungan ada yang nuntun. Nah kita fokus berdoa kepada yang punya kehidupan agar salah satu ciptaannya akan diajak berkegiatan di acara keraton,” jelasnya.
Dalam kirab nanti, ada lima prosesi baku, yakni doa bersama, kirab, meditasi atau semedi di dalam pelataran Keraton, salat hajad di Masjid Pujasana, Paramasana dan Masjid Agung, salat subuh, selesai. Kalau kegiatan selanjutnya ada labuhan di Lawu, pantai selatan. Merapi, dan Krendawahana. Ditutup wayangan namun di sela sela itu ada peringatan hari adeging Keraton Surakarta tanggal 17 Sura. Nanti ada jenang Sura sebagai suguhan utama,” terangnya.







