SOLO, MettaNEWS – Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Republik Indonesia, penjual bendera musiman luar daerah semakin memadati tepian jalan Kota Solo. Rata-rata mereka berasal dari Jawa Barat.
Salah satunya Alit Tariana (49) warga asal Garut yang berjualan di tepian Jalan MT Haryono, Kecamatan Banjarsari Solo. Ia sudah kerap berjualan di tepian jalan itu selama sepuluh tahun.
Cara berjualannya pun terbilang unik. Agar bisa melayani pembeli setiap waktu, ia memilih untuk menjajakan dagangannya selama 24 jam. Ia pun menjadikan lapak sementaranya itu sebagai tempat hidup selama beberapa waktu hingga Hari Kemerdekaan tiba.
“Sudah lama, hampir 10 tahun di sini jualannya memang di sini. Saya kalau di sini 24 jam, dari pagi sampai malam pagi lagi, tidur di sini. Saya di sini aja, 24 jam. Takut sih nggak, di sini kan ada banyak orang dari siang sampai jam 4 pagi ramai bahkan. Waktu tahun kemarin pernah sekali ada yang beli jam 12 malam itu bangunin, tapi cuma sekali belinya cuma 2 bendera yang buat rumah itu,” ujar Alit saat ditemui MettaNEWS, Selasa (8/8/2023).
Alit menjual berbagai macam bendera mulai dari bendera merah putih berbentuk kotak dari ukuran kecil hingga besar, umbul-umbul, bendera kipas merah putih, background maupun gantungan mobil berbetuk ketupat merah putih hingga gantungan kunci.
“Macam-macam yang panjang itu harganya Rp150.000 dari bosnya, kadang saya jualan itu paling nawarin Rp200.000 kejualnya Rp160.000 gitu atau ga ya Rp170.000 paling ngambil untung Rp10.000 sampai Rp20.000 gitu. Yang paling rendah itu Rp5.000 paling kecil, ketupat itu Rp10.000,” jelasnya.
Demi Nggak Tombok
Alit bersama rombongan berjumlah 20 orang akan kembali ke Garut Jawa Barat satu hari sebelum HUT ke-78 RI. Di tahun ini ia pun hanya membawa satu karung bendera saja lantaran modal yang minim.
“Sekarang cuma sedikit, nggak punya modal, sekarang lagi susah modalnya. Ini habis kasbon dari bos, komisian. Ya kan namanya nyari nafkah ke mana aja, nyari rezeki ke mana aja asal hatinya mau ke mana gitu ya. Mudah mudahan sebelum tanggal habis,” ujarnya.
Bendera merah putih berbentuk kotak jadi yang paling banyak dicari oleh kantor maupun rumahan. Pendapatannya tidak menentu, dalam sehari ia bisa menjual 2 hingga 3 bendera saja.
“Kadang-kadang nggak dapat, sampai zonk gitu nggak dapat sama sekali, paling 3, 2 gitu, habis aja buat makan. Cuma yang namanya banyak macamnya yang ini laku ini nggak, gitu,” katanya.
Keuntungan yang didapat ia simpan untuk nantinya dibawa ke kampung halamannya di Garut. Alit berharap penjualan bendera tahun ini lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya saat pandemi Covid-19.
“Ya lumayan ada (keuntungan), tapi yang namanya jualan di kampung orang harus ngirit, biar bisa bawa buat di rumah. Kalau makan juga sederhana lah, makan, rokok gitu supaya bisa bawa ke rumah sama buat oleh oleh gitu lah ya. Mudah-mudahan ada rezekinya,” ujar Alit.
“Ya kalau namanya jualan ya optimis lah mudah-mudahan habis gitu aja lah. Kalau nggak habis ya nombok, pernah nombok Rp 2 juta tapi tahun-tahun yang dulu, tapi yang sekarang alhamdulillah. Karena ngambil baraghnya dari saudara gitu,” tambahnya.







